Sabtu, 18 Oktober 2014

Ayat Ayat Cinta Bag.1 Karya Habiburrahman El Shirazy

Gadis Mesir Itu Bernama Maria

Tengah hari ini, kota Cairo seakan membara. Matahari berpijar di tengah petala langit. Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. Tanah dan pasir menguapkan bau neraka. Hembusan angin sahara disertai debu yang bergulung-gulung menambah panas udara semakin tinggi dari detik ke detik. Penduduknya, banyak yang berlindung dalam flat yang ada dalam apartemen-apartemen berbentuk kubus dengan pintu, jendela dan tirai tertutup rapat.

Memang, istirahat di dalam flat sambil menghidupkan pendingin ruangan jauh lebih nyaman daripada berjalan ke luar rumah, meski sekadar untuk shalat berjamaah di masjid. Panggilan azan zhuhur dari ribuan menara yang bertebaran di seantero kota hanya mampu menggugah dan menggerakkan hati mereka yang benar-benar tebal imannya. Mereka yang memiliki tekad beribadah sesempurna mungkin dalam segala musim dan cuaca, seperti karang yang tegak berdiri dalam deburan ombak, terpaan badai, dan sengatan matahari. Ia tetap teguh berdiri seperti yang dititahkan Tuhan sambil bertasbih tak kenal kesah. Atau, seperti matahari yang telah jutaan tahun membakar tubuhnya untuk memberikan penerangan ke bumi dan seantero mayapada. Ia tiada pernah mengeluh, tiada pernah mengerang sedetik pun menjalankan titah Tuhan.
Awal-awal Agustus memang puncak musim panas.

Dalam kondisi sangat tidak nyaman seperti ini, aku sendiri sebenarnya sangat malas keluar. Ramalan cuaca mengumumkan: empat puluh satu derajat celcius! Apa tidak gila!? Mahasiswa Asia Tenggara yang tidak tahan panas, biasanya sudah mimisan, hidungnya mengeluarkan darah. Teman satu flat yang langganan mimisan di puncak musim panas adalah Saiful. Tiga hari ini, memasuki pukul sebelas siang sampai pukul tujuh petang, darah selalu merembes dari hidungnya. Padahal ia tidak keluar flat sama sekali. Ia hanya diam di dalam kamarnya sambil terus menyalakan kipas angin. Sesekali ia kungkum, mendinginkan badan di kamar mandi.

Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasen1 aku bersiap untuk keluar. Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar. Beliau adalah murid Syaikh Mahmoud Khushari, ulama legendaris yang mendapat julukan Syaikhul Maqari’ Wal Huffadh Fi Mashr atau Guru Besarnya Para Pembaca dan Penghafal Al-Qur’an di Mesir. Ash-Shidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqi2 pada Syaikh Utsman Abdul Fattah. Pada ulama besar ini aku belajar qiraah sab’ah3 dan ushul tafsir4
Jadwalku mengaji pada Syaikh yang terkenal sangat disiplin itu seminggu dua kali. Setiap Ahad dan Rabu. Beliau selalu datang tepat waktu. Tak kenal kata absen. Tak kenal cuaca dan musim. Selama tidak sakit dan tidak ada uzur yang teramat penting, beliau pasti datang. Sangat tidak enak jika aku absen hanya karena alasan panasnya suhu udara. Sebab beliau tidak sembarang menerima murid untuk talaqqi qiraah sab’ah. Siapa saja yang ingin belajar qiraah sab’ah terlebih dahulu akan beliau uji hafalan Al-Qur’an tiga puluh juz dengan qiraah bebas. Boleh Imam Warasy. Boleh Imam Hafsh. Atau lainnya. Tahun ini beliau hanya menerima sepuluh orang murid. Aku termasuk sepuluh orang yang beruntung itu. Lebih beruntung lagi, beliau sangat mengenalku. Itu karena, di samping sejak tahun pertama kuliah aku sudah menyetorkan hafalan Al-Qur’an pada beliau di serambi masjid Al Azhar, juga karena di antara sepuluh orang yang terpilih itu ternyata hanya diriku seorang yang bukan orang Mesir. Aku satu-satunya orang asing, sekaligus satu-satunya yang dari Indonesia. Tak heran jika beliau meng-anakemas-kan diriku. Dan teman-teman dari Mesir tidak ada yang merasa iri dalam masalah ini. Mereka semua simpati padaku. Itulah sebabnya, jika aku absen pasti akan langsung ditelpon oleh Syaikh Utsman dan teman-teman. Mereka akan bertanya kenapa tidak 

Jumat, 17 Oktober 2014

Aku akan melihatmu saat dunia mengijinkanku

Selalu terselip "kamu"  dalam untaian doa yang kurangkai. Dalam daftar harapan yang belum terpenuhi, dalam impian yang selalu kulukis dalam kanvas imajiku. Selalu ada senyum simpul tak sengaja tersungging dari bibirku kala aku teringat atau melihat  hal-hal yang berkaitan denganmu, lucu rasanya. Tapi bagaimanapun kamu adalah misteri, dengan sebuah tanda tak cukup buatku mengerti. Percayalah, aku akan melihatmu saat dunia mengijinkanku, bukan pada saat waktu yang terhimpit maupun saat aku belum siap melihatmu.

Satu Kata

Maaf untuk satu kata yang terlepas setelah terpenjara begitu lamanya. 
Kata yang telah kusimpan untuk kubuka perdana pada saat hari ulang tahunmu. Kata yang kurasa akan merusak semuanya. (Walaupun kenyataannya tidak sama sekali). Disatu sisi aku bahagia, disisi lain aku menyesal, karena tak bisa bertahan lebih lama. Tapi aku khawatir, jika terjadi sesuatu nanti, besok, atau sebelum ulang tahunmu. Ah aku tak ingin terjadi sesuatu yang aneh-aneh seperti yang kubayangkan itu. Makannya aku membukanya kemarin.Tapi tak seburuk yang kubayangkan ternyata, aku malah bahagia seperti biasa. Kebahagiaan manis tanpa terlalu manis. Sambil aku menunggu hingga hari ulang tahunmu, setidaknya aku sudah memecahkan keheningan yang selama ini terjadi pada kita. Senang bisa mengenalmu! You!

Jika itu untuk melihatmu, Aku tak apa

Dari fajar hingga senja
sejak dunia merenggut jiwaku
jika itu untuk melihatmu
aku tak apa

Dari mentari sampai bulan
sejak dunia merampas waktuku
jika itu untuk membuatmu tersenyum
aku tak mengapa

Begitu banyak waktu terbuang
Begitu banyak imaji terbuai
Sangat banyak cerita teruntai
Jika itu bersamamu
aku tak mengapa

Ada kala bunga bertaburan
mewakili jutaan misteri rasa
menebar rona dalam warna yang tak sengaja tercipta
ini indah bukan?

Ingin kulihat kata berbicara
harmoni bermain dalam irama
untuk sebuah resonansi jiwa
dalam cerita yang tak kunjung jera

Maaf karena menunda-nunda!

Waktu. Begitu cepat kau menyeretku. Degan kesibukan yang sebenarnya lebih sibuk dari yang kubayangkan. Tapi aku tak menyadarinya sehingga terbuai hal yang tak begitu penting, bahkan merugikan. Maaf untuk tak mengerti tugasmu yang harus pergi sekarang juga. aku menyesal berprokrastinasi ria ditengah puncak kesibukanku yang tak aku indahkan. Padahal tugasku banyak, tapi aku berleha-leha, menunda-nunda sampai aku terdesak batas waktu. Sakit rasanya. Sempit.
Tapi aku mencoba bangkit dari ini semua. Penyesalan bukan sebuah solusi. Melainkan pembuang waktu terbesar dari seluruh detik yang kupunya.
Maka hari ini, aku ingin memulainya dari awal. Membuat prioritas dan melakukan yang terbaik. Semua, berasal dari diri sendiri kan? 
Semangat, melekatlah padaku!

Rabu, 15 Oktober 2014

Song Lyrics : Why | Secondhand Serenade (Dengan Terjemahan)

The buttons on my phone are worn thin
Tombol-tombol di hapeku kian menipis
I don't think that I knew the chaos I was getting in
Kurasa dulu aku tak tahu kekacauan yang menyeretku
But I've broken all my promises to you
Tapi tlah kulanggar semua janjiku padamu
I've broken all my promises to you
Tlah kulanggar semua janjiku padamu

CHORUS
Why do you do this to me?
Kenapa kaulakukan ini padaku?
Why do you do this so easily?
Kenapa kaulakukan ini begitu mudahnya?
You make it hard to smile because
Kau membuatku sulit tersenyum karena
You make it hard to breathe
Kau membuatku sulit bernafas
Why do you do this to me?
Kenapa kaulakukan ini padaku?

Sesyahdu mentari terbit di khusyuk fajar

Sesyahdu mentari terbit di khusyuk fajar
cerita ini mengalun begitu damai
tak ada sebersit emosi
apalagi ego yang berubah menjadi benci

Lihatlah, kau kelembutan itu
arti dari sebuah nama, namamu
semoga teramanah
semoga menjadi satu kesatuan jiwa

Bukankah hidup ini pelangi
pelik, tapi menyenangkan
mari bermimpi, selagi gratis
warnai hari dan waktumu

Tapi hai waktu, bisakah berlari biasa saja
tak perlu tergesa untuk membawaku melihat takdir
Hmm, aku tahu, kau hanya berperan sebagaimana tugasmu;
pergi sekarang juga

Terlalu indah
karenanya aku tak berani menjamah
apalagi sampai berkata satu dua
tak bisa, rasanya

Ingin terucap, tapi satu huruf adalah ganjil
dua huruf tak mengerti,
tiga huruf bahkan lebih dari itu,
ah, aku tak ingin meghancurkan semuanya

Biarlah terkurung disini
dalam doa yang terpanjat setiap hari
tanpa sapa, tanpa rasa
bersama hati yang bersikap apa adanya

Semoga kelak semua unsur mengerti
waktu berjalan seperti biasa
takdir bertemu tepat pada waktunya
jika Allah meridhoi..

Selasa, 14 Oktober 2014

Mahkota Cinta oleh Habiburrahman El Shirazy (Bag.IX)

Dua bulan berlalu sejak Yahya mengajak Zul
berbicara dari hati ke hati. Yahya berharap Zul bisa
menemukan kesadaran prima dan semangat membaranya
kembali seperti ketika awal-awal tinggal di flat
itu. Namun harapan Yahya belum menjadi kenyataan.
Kenyataannya Zul tetap banyak murung dan melamun.
Tidak gesit dan semangat dalam bekerja, berusaha, dan belajar.

Seringkali Yahya menemukan Zul hanya tidur di
kamar satu siang penuh, padahal ia yakin Zul ada jadwal
kuliah dan kerja. Yahya biasanya mengingatkannya
dengan bahasa sehalus mungkin, namun Zul seperti tidak
mendengar apa-apa. Yahya beberapa kali menyarankan
pada Zul jika memang harus mendapatkan Mari, kenapa
tidak secara jantan menemui dan mengajaknya menikah.
Obat paling mujarab untuk orang yang sakit karena cinta
adalah menikah. Tapi Zul gamang dengan dirinya sendiri.
Keraguan mengambil langkah telah membuatnya seperti
orang yang kehilangan cahaya kehidupan. Keadaan Zul
yang sedang sakit karena cinta itu menjadi perhatian dan
keprihatian semua penghuni flat itu.

Pak Muslim merasa kuatir keadaan Zul semakin
parah. Jika parah, maka bisa berpengaruh pada suasana
rumah. Sudah dua bulan Zul tidak membayar uang sewa
rumah. la minta dipinjami dulu. Namun ia bekerja tidak
seserius dulu. Seolah bekerja seingatnya saja. Jika ingat
bekerja, jika tidak ya tidak bekerja. Pak Muslim juga
kuatir Zul tidak bisa mengikuti ujian semester depan jika
sering bolos kuliah. Suasana rumah terasa mulai tidak
nyaman. Maka Pak Muslim sebagai yang paling tua
berinisiatif mempertegas sikap Zul. Jika ingin serius kuliah
maka ia harus segera bangkit dan merubah sikap. Jika
sudah tidak ingin kuliah, ia melihat Zul sebaiknya
mencari tempat yang lain. Sebab kemalasan Zul bisa
merusak situasi rumah yang selama ini nyaman dan
kondusif untuk belajar.

Pak Muslim tidak mau perkataan najis satu tetes
merusak kesucian air satu gentong terjadi di rumah itu.
Dan tidak ada najis yang paling merusak kesucian umat
yang ingin berprestasi kecuali kemalasan. Ia tidak mau
Zul jadi najis itu. Zul harus diselamatkan. Jika Zul tetap
memilih jadi najis itu maka ia harus disingkirkan agar
tidak merusak kesucian semangat orang satu rumah.
Pagi itu setelah shalat Subuh Pak Muslim membangunkan
Zul yang masih mendengkur di kamarnya.

Berbeda sekali Zul yang dulu dengan Zul saat itu. Zul
saat awal-awal datang dulu sudah bangun sebelum
Subuh tiba dan selalu di shaf pertama. Tapi Zul saat itu
adalah Zul yang harus berkali-kali diingatkan dan
dibangunkan baru shalat Subuh dengan wajah malas
tanpa cahaya.

Begitu Zul selesai shalat Pak Muslim langsung
memanggil Zul ke kamarnya. Dengan menunduk Zul
masuk ke kamar dosen Universitas Negeri Yogyakarta
yang mengagumi pemikiran-pemikiran Muhammad
Iqbal.

"Duduk sini Zul!" Pak Muslim mempersilakan Zul
duduk di kursi yang ada tepat di depannya. Setelah Zul
duduk, Pak Muslim langsung menutup pintu kamarnya.

"Zul, sudah tiga bulan ini aku lihat kamu sangat
berbeda dengan saat kau pertama datang. Apa sebenarnya
masalahmu Zul?"

"M...tidak ada masalah Pak. Saya biasa-biasa saja."

"Zul kau masih ingin kuliah?"

"Ya tentu Pak."

"Kau sadar dengan yang kauucapkan?"

"Tentu saja sadar Pak."

"Bagus. Jika kau ingin tetap lanjut kuliah kau harus
bangkit dan mengembalikan semangatmu. Cukup tiga
bulan saja kamu sakit. Ingat Zul, setiap detik kau berada
di Kuala Lumpur ini ada harganya. Dan kau harus
membayarnya. Flat ini kita menyewa. Air yang
kaugunakan untuk membersihkan dirimu saat buang air
juga harus dibayar. Kau makan tidak gratis. Kuliah tidak
gratis. Semua ada tagihannya. Jika kau terus malas dan
murung seperti itu kau tidak akan bertahan hidup. Kalau
pun kau tetap hidup kau tak lebih bernilai dari sampah.
Sampah masih bisa didaur ulang. Tapi manusia yang
telah mati sebelum mati jauh merepotkan daripada
sampah.

"Aku ingin melihatmu berjaya. Meraih prestasi yang
gemilang Zul. Sungguh aku sangat menginginkan itu.
Aku akan membantumu semampuku. Itu jika kamu mau.
Jika kamu tidak mau aku tidak berhak memaksamu. Kau
lebih berhak menentukan jalan hidupmu.

'Aku tahu kau masih sakit. Hatimu masih dijajah oleh
rasa cintamu pada wanita yang kaucintai itu. Ketahuilah
Zul, tak ada dokter yang bisa menyembuhkanmu kecuali
kamu sendiri. Sebagai orang tua, aku hanya bisa
memberikan beberapa saran untuk kebaikanmu dan
kebaikan kita bersama.

"Saranku yang pertama Zul, jika kamu ingin sukses
dan berhasil lupakan wanita itu. Jodoh itu tanpa dikejar,
tanpa dibuat bersakit-sakit seperti kau sekarang ini jika
tiba saatnya akan datang juga. Jodohmu sudah ditulis
oleh Allah. Kalau jodohmu memang wanita bernama Siti
Martini itu ya nanti Allah pasti akan mempertemukan
kamu dengan dia. Tapi jika jodohmu bukan dia, sampai
kau minta banruan seluruh jin di jagad raya ini untuk
membantumu mendapatkan dia ya kamu tidak akan
mendapatkannya.

"Sementara ilmu dan prestasi juga amal ibadah. Jika
tidak kauusahakan dengan serius tidak akan kauraih.
Ilmu tidak bisa kauraih dengan tiduran dan malasmalasan.
Prestasi dan kesuksesan tidak akan kauraih
kecuali dengan pengorbanan penuh pikiran, tenaga dan
perasaan. Kalau perlu bahkan nyawa. Tak ada dalam
catatan sejarah ada orang sukses hanya dengan
melamun, tidur, dan banyak angan-angan seperti yang
kaulakukan tiga bulan ini. Tak ada seorang juara di
bidang apapun kecuali ia pasti seorang pejuang yang
ulung. Kalau ingin mendapatkan ilmu yang cukup,
berprestasi dan hidup sukses kau harus bangkit,
bersemangat, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan
gigih berjuang. Itulah jalannya orang-orang yang sukses.

"Zul, godaan wanita adalah godaan utama orang
mencari ilmu. Dan fitnah perempuan adalah salah satu
fitnah yang sangat dikuatirkan oleh Nabi akan melumpuhkan
umatnya. Bahkan saat Nabi berdakwah di
Makkah, di antara hal yang ditawarkan orang-orang
kafir Quraisy untuk membujuk Nabi agar menghentikan
dakwahnya adalah dengan mengiming-imingi Nabi akan
dinikahkan dengan wanita paling cantik di Arab. Tapi
Nabi menolaknya.

"Zul, siapa pun yang kasmaran, siapa pun yang jatuh
cinta seperti kamu saat ini. Maka akal, pikiran dan
perasaannya akan terus terfokus untuk mendapatkan
yang dicintainya. Jika keadaan seperti itu terus berlarut,
maka kewajiban-kewajibannya, tugas-tugas utamanya
akan segera terlupakan. Dan saat itu hanya tinggal
menunggu datangnya kebinasaan.

"Sudah tidak terhitung lagi jumlahnya pelajar dan
mahasiswa yang gagal karena

Kutipan Novel Padang Bulan karya Andrea Hirata


Nasihat ibu bak suara Tuhan. Nasihat ibu, sering meragukan awalnya, apa adanya, tak ilmiah, tak keren, tak penting, namun diujung sana nanti, pendapat yang hakiki itu pastilah nasihat ibu.

Namun, tahukah dirimu? Cinta akan membawa pelakunya pada kegilaan dan kesengsaraan yang tak terbayangkan. Cinta adalah sebuah tempat dimana orang dapat menyakiti dirinya sendiri. Cinta, dapatt pada seseorang, atau pada cinta itu sendiri, dan keduanya mengandung bahaya yang tidak kecil. 

Namun, ternyata, jika seseorang hanya memikirkan seseorang, bertahun-tahun, dan dari waktu ke waktu mengenai isi hatinya sendiri dengan cinta hanya untuk orang itu saja, maka saat orang itu pergi, kehilangan menjelma menjadi sakit yang tak tertangguhkan, menggeletar sepanjang waktu. 

Soe Hok Gie

 Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”

(Catatan Seorang Demonstran, Selasa, 11 November 1969)

source: gispala

Senin, 13 Oktober 2014

Lakukanlah yang terbaik sesuai peran

Semanis warna pada rona
Sepahit kenyataan
Sesulit Rindu
Sedalam mimpi
dan Sesamar anggai tersirat

Enggan pergi Meski waktu sudah berganti
Imaji memang selalu berbeda
Dari realita
Ada dua pilihan

Bertahan manis
atau Keluar berjalan

Bukankah hidup itu baik?
sesabar waktu menunjukkan nasib

Tapi bukan hanya itu

Waktu, kita, dan Allah berperan.

Waktu berusaha melakukan yang terbaik.
Terkadang ia berlari secepat cheetah
Tak jarang ia terseok bagai siput kecil yang malang

Kita pun berusaha melakukan yang terbaik
Bekerja, Beramal, dan Berdoa
Tiga kekuatan selain mengejar waktu

dan Allah, Satu-satunya kekuatan pengendali semuanya
Allah yang berperan menentukan Waktu dan Kita
Serta bagaimana hidup ini berjalan

Lakukanlah yang terbaik sesuai peran
lalu serahkanlah hidup dan matimu kepada-Nya

Bersyukur


Bersyukur untuk setiap tanda cinta yang kurasakan sejak bangun tidur hingga menjelang tidur lagi, begitulah seterusnya.
Terima kasih.
Untuk napas, untuk nyawa, untuk indera, untuk rasa syukur dan semua tanda cinta yang telah Kau berikan kepadaku, kepada kami.
Bersyukur untuk jiwa yang masih bisa dijaga dan dipelihara agar senantiasa berbuat segala hal yang Kau ridhoi.
Bersyukur untuk setiap kesempatan yang masih termiliki agar dapat memperbaiki begitu banyak kesalahan disetiap detik.
Dan masih banyak lagi.
Begitu sulit untuk menginprestasikan untaian rasa syukur yang tak terhingga.
Entah bagaimana caranya, kuharap dengan berusaha melakukan yang terbaik dan hanya semata-mata karenaMu adalah hal yang sudah bisa kulakukan untuk membalas semuanya. Tapi kurasa, tak pernah cukup.

Jumat, 10 Oktober 2014

Happy Birthday Sulton Max



Jodoh Itu Pasti


Quote By Asma Nadia

 Maafkan
JIka senyumku tersembunyi
Di balik air mata
Dan kata-kata mesra
menjadi tanpa daya
Karena terperangkap
dalam prasangka
Tapi Tuhan tahu
Cinta yang kupunya
Lebih berwarna
Dari yang kau kira...

-Asma Nadia

Engkau yang sedang dalam penantian

Engkau yang sedang dalam penantian
by Setia Furqon Kholid


Engkau yang sedang dalam penantian
Jangan putus berharap,
Jangan bosan berdo'a,
Jangan lelah berusaha.
Karena jodohmu telah tertulis di lauh mahfudz. Namun kaulah yang mesti menjemputnya.
Do'akan ia di sujud malammu.
Jemput ia dengan ketaatan pada Tuhanmu.
Pinang dirinya dengan keyakinan total akan Rabbmu.
Seringkali, pertolongan Allah hadir saat niat lurus, usaha jalan terus, insyaAllah prosesnya begitu mulus.

Setiap Pertemuan Selalu Ada Perpisahan, bukan?



Sayup kudengar angin berbisik dibalik jendela itu. Tak pernah terlihat lagi olehku keadaan dimana mereka membicarakanmu. Ketika katanya kau yang selalu pulang bersama lagu dalam saku kemejamu dan bernyanyi saat larut malam. Itu yang selalu kau lakukan bukan? Lalu saat sabit menemanimu, ia menjadi inspirasi terbesar untuk untaian syair yang tersembunyi dibalik lagumu. Bukan begitu?


Ratusan lembar hari telah berlalu begitu saja, waktu tergesa membuat semuanya tak terasa. Sama sekali. Ratusan lembar cerita pula telah tertulis, dimana kanvas hati tak pernah lelah melukis kala itu. Tapi kini, giliran tong sampah memori masa lalu yang menyimpannya.

Begitu banyak detik yang yang terlewati dengan melakukan hal-hal seperti menunggu, pertemuan, berbagi cerita, menulis, bernyanyi, dan masih banyak lagi. Di antara ribuan detik itu pula kau datang, dan pergi untuk beberapa lama. Lalu datang, dan pergi. Begitu seterusnya hingga kau benar-benar pergi. Pergi hingga saat ini.

Aku ingat, dimana merpati putih pengantar surat, mengantarkan secarik surat untukku. Darimu. Didalam surat itu tertulis permintaan maaf dan sebuah kata penyesalan. Tapi berujung selamat tinggal. Pahit, setelah sekian lama sang merpati tak kembali, lalu ketika ia datang, bukan kabar gembira yang dibawanya. Melainkan, puluhan kata yang awalnya penuh haru, namun berakhir dengan rasa sakit.

Bukankah selalu ada perpisahan setelah pertemuan? Ya.
Seperti cerita yang ditulis pengarang sebuah novel, aku sudah menamatkan satu buku.
Seperti penyair yang menulis lagu, aku telah bernyanyi puluhan lagu lawas yang kerap kali diputar.
Seperti seniman yang sedang membuat lukisan, aku telah melihat sebuah lukisan yang terpajang di museum dan usang.
Seperti musim kemarau yang akan segera tiba.
Seperti janji mentari bertemu bintang.
Tak pernah. Tak pernah lagi ada.
Dan terjadi.

Maaf untuk setiap keadaan yang tidak kalian sukai


Maaf untuk setiap keadaan yang tidak kalian sukai. Untuk noda pada warna yang tak sengaja tertumpah begitu saja. Maaf telah merusak harimu yang menyenangkan. Aku tidak pernah bermaksud, justru ingin kalian tetap gembira, dengan suasana yang kita ciptakan bersama. Dengan ide yang selalu berusaha kucari, dan kalian bagi.
Bukan ingin menghancurkan, tapi aku khawatir jika kalian terus bermain sehingga melupakan kewajiban kalian. Aku ingin kita belajar sambil bermain. Bukan sebaliknya.
Tetap semangat, mari kita seimbangkan, kalian dengan pelangi, dan kita dengan ilmu.

Kamis, 09 Oktober 2014

Semangat Menjemput Kebaikan


Semangat Menjemput Kebaikan
Oleh : Setia Furqon Kholid 
 
Setiap hari Allah menyediakan berbagai jalan menuju kebaikan untuk kita. karena itu jemputlah kebaikan dan rejeki yang telah Allah rencanakan untuk kita.
Allah lebih suka hambaNya yang berusaha maksimal daripada hamba yang menunggu rejeki itu datang sendiri padanya dengan meminta-minta.
Bagaimana caranya menjemput kebaikan itu?
Mulailah hari dengan bangundi sepertiga malam untuk menitipkan diri pada Ilahi.
Kemudian keluarlah di pagi hari dengan keyakinan bahwa Allah telah menyediakan rejeki untuk kita. perlancar dengan do’a dan sedekah.

Hey you! Yes you. You are Cute :3

Oh So Happy.
Walaupun hari ini sedikit melelahkan, menyebalkan, muram, suram, tapi akhirnya terobati oleh hal yang satu ini..  
Phi Zam a.k.a Suppakorn Chaiyo  
<3 <3 <3
And one of his favorite song :
I Live My Life For You By Firehouse
this is the lyric 
"I Live My Life For You"

You know you're everything to me and I could never see
The two of us apart
And you know I give myself to you and no matter what you do
I promise you my heart

I've built my world around you and I want you to know
I need you like I've never needed anyone before

[Chorus:]
I live my life for you