Jumat, 10 Oktober 2014

Setiap Pertemuan Selalu Ada Perpisahan, bukan?



Sayup kudengar angin berbisik dibalik jendela itu. Tak pernah terlihat lagi olehku keadaan dimana mereka membicarakanmu. Ketika katanya kau yang selalu pulang bersama lagu dalam saku kemejamu dan bernyanyi saat larut malam. Itu yang selalu kau lakukan bukan? Lalu saat sabit menemanimu, ia menjadi inspirasi terbesar untuk untaian syair yang tersembunyi dibalik lagumu. Bukan begitu?


Ratusan lembar hari telah berlalu begitu saja, waktu tergesa membuat semuanya tak terasa. Sama sekali. Ratusan lembar cerita pula telah tertulis, dimana kanvas hati tak pernah lelah melukis kala itu. Tapi kini, giliran tong sampah memori masa lalu yang menyimpannya.

Begitu banyak detik yang yang terlewati dengan melakukan hal-hal seperti menunggu, pertemuan, berbagi cerita, menulis, bernyanyi, dan masih banyak lagi. Di antara ribuan detik itu pula kau datang, dan pergi untuk beberapa lama. Lalu datang, dan pergi. Begitu seterusnya hingga kau benar-benar pergi. Pergi hingga saat ini.

Aku ingat, dimana merpati putih pengantar surat, mengantarkan secarik surat untukku. Darimu. Didalam surat itu tertulis permintaan maaf dan sebuah kata penyesalan. Tapi berujung selamat tinggal. Pahit, setelah sekian lama sang merpati tak kembali, lalu ketika ia datang, bukan kabar gembira yang dibawanya. Melainkan, puluhan kata yang awalnya penuh haru, namun berakhir dengan rasa sakit.

Bukankah selalu ada perpisahan setelah pertemuan? Ya.
Seperti cerita yang ditulis pengarang sebuah novel, aku sudah menamatkan satu buku.
Seperti penyair yang menulis lagu, aku telah bernyanyi puluhan lagu lawas yang kerap kali diputar.
Seperti seniman yang sedang membuat lukisan, aku telah melihat sebuah lukisan yang terpajang di museum dan usang.
Seperti musim kemarau yang akan segera tiba.
Seperti janji mentari bertemu bintang.
Tak pernah. Tak pernah lagi ada.
Dan terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar