Tampilkan postingan dengan label you. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label you. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Mei 2017

Aku Belum Separuh ♡


Repost from @nikahasik on Instagram


"Siapa yang menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi." (HR.Thabrani) Mungkin saat ini aku belum separuh, karenanya aku belum bertemu denganmu. Allah memintaku untuk bertakwa kepadaNya agar ku peroleh separuhku. Dalam penantian menunggu kamu datang, aku kan berusaha penuhi separuh itu. Bukan untuk mengejarmu, bukan. Karena aku yakin kamu kan datang tepat pada waktunya, disaat aku dan kamu sudah separuh, Allah kan pertemukan kita. Dalam penantian ini aku harus giat belajar agar aku menjadi wanita cerdas. Karena wanita adalah madrasah pertama bagi anaknya. Artinya, kecerdasanku lebih penting dari parasku. Dalam penantian ini aku harus mengerti bagaimana cara menjaga lisanku agar perkataanku tak menyinggung perasaanmu. Aku takut jika diam mu karena perkataanku akan menggiringku ke neraka. Dalam penantian ini aku harus belajar masak. Sedikit demi sedikit. Karena kamu berbeda denganku. Aku lebih suka bercerita banyak ketika ada masalah, sedang kamu lebih suka menyendiri dan diam. Barang kali kue kering dan jus kan sejukkan suasana. Dalam penantian ini aku harus belajar mengalah dan tidak membantah. Karena nanti kamu adalah imamku. Syurga kan ku dapatkan jika aku berbakti padamu. Dalam penantian ini aku harus terus memantaskan diriku di hadapanNya untuk dapatkan jodoh terbaik dari Nya.

By: @aayufuji

Rabu, 05 April 2017

Mas...

Bertemu dalam doa itu, menyenangkan, ya, Mas.
Kita tak perlu merasa khawatir karena ada Allah yang menjaga.
Karena hanya Allah satu2nya yang menjadi perantara.

Biarlah untuk saat ini seperti ini saja, tak ada saling sapa, tak  saling berkirim pesan, tak saling bertatap muka, apalagi mengobrol disengaja. Cukup bertemu dalam doa. Itu saja.

Serahkan pada Allah saja ya, Mas. Penantianku, perjuanganmu, semoga Allah selalu melindungi hingga saatnya tiba.

"Tiba" disini bisa jadi tak berakhir pada pertemuan, mungkin saja berujung pada perpisahan dan menemukan takdir terbaik masing-masing.

Wallahu 'alam bish shawab.

Sebaik-baik rencana kita, sekuat usaha dan doa kita, jika Allah berkehendak lain, maka kita bisa apa?

Sekali lagi, serahkan semuanya pada Allah ya, Mas. :")


Teruntuk, Mas..........
Mas.............


(Masih di lauhul mahfuzh namanya) 😄

Kamis, 12 Februari 2015

Kini aku tidak melihatmu lagi

Aku melihatmu
dalam bayang yang tak sempat menjadi sebuah cerita
hanya ilusi biasa, sederhana

Aku melihatmu
dibalik sayup yang kudengar sesekali
tapi pada kenyataannya, suara itu tidak pernah ada

Aku melihatmu
pada hari dimana kata hampir membuka cerita
tetapi tidak jadi, karena kini semua pergi

Kini aku tidak melihatmu lagi
baik dalam bayang semu maupun dibalik sayup intuisi
kamu tidak disana sejak hari itu

dimana aku tersenyum
setengah terkejut dan kecewa, tapi sedikit lega
dimana aku seperti sedang berjalan
lalu tersandung dan tersungkur jatuh, kemudian bangkit dan tidak apa-apa

Ya, tidak apa apa.
Sedikit luka dari kata yang terbaca olehku
Sedikit kecewa dari nama yang kini terpatri dalam hatimu, dan aku melihatnya
Sedikit saja, hanya sedikit.

Juga sedikit lega untuk "kalian".
Untuk kamu yang telah berhasil menemukannya.
Aku percaya, Allah memberikan yang terbaik untuk seseorang yang juga baik, sepertimu.
Selamat, ya.

Kamis, 22 Januari 2015

Di Khusyuk Fajar



"Biar kujumpa senyummu di khusyuk fajar
Merekah bersama mandi cahaya mentari
Sehangat kata menyelimutiku
Setenang senyum pelega hati"

Mayastika Salma, 16/01/15

Selasa, 13 Januari 2015

Thanks for always being there, Kazoku.

Hari kelima saat sakit.

Hari itu aku bangun ketika adzan subuh berkumandang, sama seperti doaku sebelum tidur, aku ingin bangun pada saat adzan subuh. Subhanallah, Allah mengabulkannya. Segera aku bangun, dan mengambil air wudhu, lalu shalat sunnah dua rakaat, dilanjut shalat subuh. 

Hari itu, meskipun fase demam sudah berakhir, tapi masih ada beberapa hal yang masih terasa, aku masih harus beristirahat. Tubuhku belum 100% fit kala itu, aku belum diizinkan mengajar. Oleh karenanya, kuputuskan hari itu untuk beristirahat saja agar badanku terasa lebih baik. 

Selesai membaca surat Ar-Rahman dan Al-Mulk dari Mushafku, aku lekas tidur dibalik selimut. Udara sangat dingin, maklum disini daerah yang dikelilingi pegunungan. Awalnya memang sulit untuk tidur, karena pusingku belum sepenuhnya hilang. Tapi setelah berusaha, akhirnya aku berhasil. 

Sampai menjelang pagi aku masih tertidur, sedikit bangun sebentar, kemudian tidur lagi. Dan disinilah aku bermimpi. Seperti nyata. Dalam mimpiku aku membuka mataku dan bangun dari tidurku, ada seseorang yang membuka pintu, ibuku, rupanya. Kapan dia datang? Akhirnya ibuku masuk dan membawa beberapa makanan, aku ikut makan bersamanya, ada banyak sekali cemilan yang ia bawa saat itu, termasuk ice cream coklat. Oh aku senang sekali, aku mengobrol banyak sambil terus makan makanan tersebut. Melegakan rasanya, ibuku datang ketika aku sakit. Tapi.......... sampai akhirnya aku benar-benar membuka mataku. Ternyata aku hanya bermimpi. Aku memutuskan untuk tidur kembali.

Ini mimpi kedua. Dalam mimpiku, aku tidak sedang tidur, melainkan sedang bersama kedua saudariku. Satu kakak perempuan dan satu adik perempuan. Mereka rupanya baru mengunjungi kamarku (karena aku tinggal bersama saudaraku yg lain). Pada saat itu mereka mengatakan padaku bahwa mereka lapar. “Hmm.. tunggu, akan kuambilkan makanan” kataku, lekas aku membuka pintu kamarku, untuk mengambil makanan, tapi yang ada disana seperti sedang ada suatu acara. Ha? Mengapa bisa begini? Kututup kembali pintu dan aku berbalik ke arah kedua saudariku, tapi.... mereka tidak ada. Aku membuka mataku, ternyata ini hanya mimpi (lagi). Dua kali aku bermimpi bertemu dengan keluargaku, tapi pada kenyataannya mereka tidak ada. Aku benar-benar merasa kesepian sekarang. Hmm... kulihat jam, masih jam 9 pagi. Aku belum merasa cukup untuk beristirahat, kepalaku pun masih terasa pusing. Oleh karena itu kuputuskan untuk tidur kembali.
Aku bermimpi lagi. Kali ini  suara pintu kamar diketuk.

“Aunty.........Aunty............Aunty..........”

Begitulah suara yang berasal dibalik pintu kamarku yang diketuk. Suara afka, keponakanku yang laki-laki. Afka? Mengapa dia ada disini? Dengan suara lucunya ia terus memanggilku. Dengan panggilan “Aunty”-nya yang khas. “Anteeeeee...” Oh. Aku hafal sekali suaranya. Suara yang tidak pernah karam dari ingatanku, suara yang langsung mengingatkanku kepada si lucu, afka. Aku berusaha bangun dan hendak membukakan pintu, tapi lagi-lagi aku tersadar, ini semua hanya mimpi. Kubuka mataku perlahan, tidak ada. Tidak ada afka. Pada saat itu pintu kamarku sudah terbuka sedikit, rupanya bibi dibalik sana. 

“Neng, bibi sudah 3x mengetuk pintu, ternyata neng tidur”
“Oh iya bi, maaf...”

Sejak saat itu, aku benar-benar merindukan mereka, keluargaku. Aku yakin mereka pun merindukanku. Merindukan kami kumpul bersama-sama. Terima kasih sudah hadir  meski hanya dalam mimpiku. Thanks for always being there, kazoku.

Akan kujumpai dirimu

Akan kujumpai dirimu
Dibalik semak savana yang jarang jarang itu
Atau dilembuat awan berbentuk kelinci
Semua akan kucari

Aku percaya
Senyummu berasal dari cahaya
Karena ketika itu terjadi
Seperti dunia menyinariku, hangat rasanya

Kau tau hujan?
Ketika orang lain hanya melihat dan mendengarkan,
Aku merasakannya. Ada rintikkan yang jatuh tergesa memburu tanah, seperti perasaan seseorang yang sangat ingin bertemu. Apa itu berarti.......sebuah pesan rindu? Mungkin saja.

Aku berharap bisa melihatmu
Dibalik semak savana atau diatas awan sama saja
Karena kau hanya untukku
Dan akan tetap menjadi indah, selamanya

Senin, 15 Desember 2014

Aku melihatnya sekali lagi.


Aku melihatnya sekali lagi.
Dengan kesempatan yang belum kusadari sepenuhnya.
Padahal, kebaikan ada didepanku, kemarin, atau saat ini sama saja. Hanya perlu kusadari tanpa harus pergi pura-pura tak mengerti.
Melihatnya membuatku belajar menemukan hal-hal terbaik yang memang seharusnya kulakukan.
Hanya dengan melihatnya membuatku sadar, kembali adalah jalan paling terbaik.
Andai saja aku bisa melihatnya seumur hidupku.
Tapi diberikan kesempatan seperti ini saja sudah bersyukur. 
Jangan menawar, berdoalah untuk mendapatkan yang paling baik, lebih baik, hingga terbaik. 
Semoga dengan melihatnya aku bisa lebih dekat dengan-Nya.
Mungkin seharusnya terbalik, baiklah, aku akan memulainya, InsyaAllah.


Sabtu, 13 Desember 2014

Seperti Daur Ulang.

Dan kamu, pelukis cerita yang tak kunjung henti.
Menjadi bagian dari siklus datang dan pergi.
Sementara aku? kepingan mozaik yang hilang.
Sederet memori kini tak lagi terpasang rapi bak puzzle saling melengkapi.
Tapi hilang sebagian, bahkan kacau.
Aku tak menyesalinya.
Semua seperti daur ulang.
Waktu berlalu kemudian kembali.
Menukar hal yang sama dan mengisi bagian yang rumpang.
Waktu begitu bahagia mengulur, dan dunia tak sabar menanti.
Hingga saatnya mereka mempertemukanku dengan hari dimana
kata terbaca tanpa samar, angan terbayar kenyataan, dan perjuangan terbalas nilai sebuah kebahagiaan.
Sabar itu sulit, tapi berbuah manis.

Senin, 10 November 2014

Untitled

Aku tidak akan menyalahkanmu dan aku juga berusaha untuk tidak merasa sakit hati. Aku tidak ingin menambah bebanmu. Merasa sakit hati adalah salah satu hal yang dapat membuat dosamu bertambah. Dan aku tidak mau itu terjadi. Biarlah semuanya berlalu, aku akan kembali ketika semuanya terasa lebih baik dan keadaan sudah baik-baik saja.