Tampilkan postingan dengan label Puisi kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi kecil. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Januari 2015

Musim Gugur


Perlahan kupatri selaksa janji
Kuharap tak ada salur-salur benci
biar kukuh, rapat, tiada daya terpecah
biar mimpi terjamah sebuah penentuan

Kujumpa setitik asa dalam ribuan bayang semu
Hadir tersirat membentuk sebuah pilihan
Hilang kuasa, 
aku terjatuh kedalam sebuah lubang kesempatan

Satu persatu mozaik itu berterbangan
Mengkhianati jiwa, menghempaskan kelu pada hati yang pasrah
Seperti musim semi yang enggan bertemu musim gugur
Walau bagaimanapun, ia harus berlalu

Kini, aku si musim gugur, siap kembali menghadapi perputaran
Untuk melihat daun-daunku berubah seiring waktu
Untuk berani merasakan dunia lebih keras lagi
Untuk melihat,  bahkan menjadi semua musim tanpa rasa takut

Inilah aku, si musim gugur.

Jumat, 07 November 2014

Aku belajar mengerti


Aku belajar mengerti
ada kata dan warna 
yang harus kau hindari

Aku belajar mengerti
Ketika waktu sedang tak peduli
Saat jarak lebih senang memisahkan

Tapi semuanya begitu berharga
Jika dipikirkan dua kali

Kata, warna, waktu dan jarak 
Terkadang mereka memang harus melakukan semua itu

Menutup kalimat dan warna yang tak senada
Waktu yang pergi sekarang juga
Juga ribuan jengkal jarak yang manis

Semuanya demi sebuah kebaikan,
demi sebuah keutuhan.

Rabu, 15 Oktober 2014

Sesyahdu mentari terbit di khusyuk fajar

Sesyahdu mentari terbit di khusyuk fajar
cerita ini mengalun begitu damai
tak ada sebersit emosi
apalagi ego yang berubah menjadi benci

Lihatlah, kau kelembutan itu
arti dari sebuah nama, namamu
semoga teramanah
semoga menjadi satu kesatuan jiwa

Bukankah hidup ini pelangi
pelik, tapi menyenangkan
mari bermimpi, selagi gratis
warnai hari dan waktumu

Tapi hai waktu, bisakah berlari biasa saja
tak perlu tergesa untuk membawaku melihat takdir
Hmm, aku tahu, kau hanya berperan sebagaimana tugasmu;
pergi sekarang juga

Terlalu indah
karenanya aku tak berani menjamah
apalagi sampai berkata satu dua
tak bisa, rasanya

Ingin terucap, tapi satu huruf adalah ganjil
dua huruf tak mengerti,
tiga huruf bahkan lebih dari itu,
ah, aku tak ingin meghancurkan semuanya

Biarlah terkurung disini
dalam doa yang terpanjat setiap hari
tanpa sapa, tanpa rasa
bersama hati yang bersikap apa adanya

Semoga kelak semua unsur mengerti
waktu berjalan seperti biasa
takdir bertemu tepat pada waktunya
jika Allah meridhoi..

Senin, 06 Oktober 2014

Bagaimanapun ini hidup, kan?


Begitu cepat waktu berlari
Menukar cerita dan pemerannya silih berganti
Ada suka duka, penyesalan serta impian
Berhilir mudik saling bertabrakan

Ada begitu banyak warna baru
Menghias detik dan hati kian menderu
Semakin hari kehilangan
Karena cerita tergesa berlalu dengan enggan

Bagaimanapun ini hidup, kan?
Ada waktu, takdir, dan roda perputaran
Terkadang berada diatas
Terkadang  berada dibawah

Tapi bagaimanapun ini hidup, kan?
ada rintangan dan tantangan
ada sabar ada mengeluh
Tapi Segalanya akan terasa adil
Dan bahagia Jika disyukuri

Senin, 16 September 2013

Kamu, malam, dan lagu.

Seperti puisi di pagi hari
lagumu mengalun sekhusyuk fajar
Aku tak pernah tau kemana perginya pecahan itu
entah kembali pada malam yang senyap, atau berkelana menuju siang yang penat

Katanya siangmu begitu pelik, tapi menyenangkan
sedangkan pekat malam sebagai kawan curhatmu
Aku pernah berharap menjadi bintang, agar bisa melihatmu menulis lagu
meskipun bukan bernyanyi tentang kisahku

Dimana ada nada, disana kamu berbeda
bersama sejumlah kata dan serenade
kau buat sebuah diskusi harmoni
untuk menumpahkan beragam perasaan

Hingga pada akhirnya,
Kamu, malam, dan lagu, menjadi satu.


Senin, 12 Agustus 2013

Sang Pemimpi Fantasi

Aku melihat melodi berkata-kata
menari dalam kertas irama
tergetar halus lewat kunci
yang kau rahasiakan

Syairnya menterjemahkan bahasamu
drama atau sebenarnya, entahlah.

melodi itu kau,
dan syair itu aku
meski tersembunyi dibalik kata
dan terhempas dibelakang kepalsuan rasa

Mengapa?
menjadi lirih saat berucap,
samar saat berterus terang?
dan memenjarakan aku dalam pekat.

Aku melihat nada terbata-bata
tak sanggup menghasilkan lagu terindah
jika ini semu,
jika ini jemu,
jika ini imaji dari sang pemimpi fantasi

Minggu, 30 Juni 2013

Hallo, ceritaku.

Hallo Kupu-kupu ungu.
Kepakkan melodi penganggai rindu.
Taburkan nektar semanis mimpiku.
Pergilah bersama memori masa lalu
Hempaskan kegagalan yang karam
Dan semailah keberhasilan baru

Hallo, kepingan ceritaku
jadilah mozaik yang bijak
Terbang sesukamu, tempati bagian yang seharusnya kau disana. Kendalikanlah aku. Kupas kisah yang terbuang, Lalu warnai dengan cat toska kesukaanku.

Jumat, 28 Juni 2013

Bangkai Cerita

Hari baru.
Matahari berdebu. 
Awan abu. 
Lazuardi terbalik.
Senja Tosca. 
Pelangi malam. 
Purnama berguguran.
Bintang satu. 
Jangkrik bersiul
Kelinci mengaum.
Ikan menangis
Pagi sembunyi. 
Siang tak ditemui. 
Malam berganti lebih asing lagi. 
Waktu karatan. 
Lagu biru berusang-usang mengerang.

Simbol berjatuhan menganggai rasa mati

Mozaik hidup perlahan terbang terkelupas angin rakus.

Bangkai menjadi cerita, dan Cerita menjadi bangkai.

Senin, 17 Juni 2013

Seperti Puzzle

Aku pernah bermimpi.
Kita seperti puzzle.
Bagian yang hilang, terisi satu dengan yang lainnya.
 Saling melengkapi.

Pernah aku merasa, 
entah hari apa itu, saat seperti apa aku lupa, 
kita seperti puzzle. 

Tapi, sebentar saja.
 Lalu aku mendapatimu menghancurkannya. 
Belum sempat ku beri lem disana, 
sudah terlanjur berantakan.

Lentera Ungu-ku

Aku tahu, kamu, lentera ungu-ku.
mengapa pergi saat ku terlelap?
dan kau biarkan aku terjaga tanpamu. 

Banyak melodi yang bisu
tak kau tinggalkan satu nada pun
membuatku sulit terpejam dalam damai

Aku tahu, kamu, lentera ungu-ku.
dimana kalimat-kalimat mulai karam
 dan tiada lagi penggambar hati
saat itu, kau pergi.

Sayap Kananku Patah

Hi.
sayap kananku patah. 
biasanya kau disini memperbaikinya.
kini aku tak bisa bermimpi lagi.
kau dimana?
bintang sudah mengajakku terbang.
 mari pergi bersama-sama.
aku tak ingin seperti ini.
tanpamu itu tak menyenangkan.

Jumat, 08 Maret 2013

Dear, Kertas

Ketika nadiku tercekat untuk
sebuah pena dan secarik putih.

Entah. Apa aku dibuat
memutar otak atau ia
mengecilkan api semangatku
untuk abstrak.

Atau ia membongkar
imajinasiku dan mengubahnya
menjadi dunia baginya lalu aku
diperbudak?

Apa aku dibuat tuna rungu
dan terbata-bata saat
berkomunikasi denganmu,
kertas?