Rabu, 26 Agustus 2015

Ketika....

Ketika sesuatu yang telah kamu perjuangkan dengan susah payah, tidak dilihat sama sekali, Itu tidak apa-apa. Kamu hidup bukan untuk membahagiakan mereka dengan usahamu, namun untuk merasa bahagia kamu telah berusaha untuk mereka. 

26-08-15 19:46

Sabtu, 11 Juli 2015

Ketika

Ketika niat baik dibalas dengan tatapan curiga.
Ketika niat baik dibalas pandangan tidak suka.
Ketika niat baik dibalas cibiran, sindiran, dan semacamnya.
Ketika niat baik dianggap 'berbeda'.

Itu tidak apa-apa.

Sesungguhnya Allah maha tau segala isi hati manusia.

Rabu, 08 Juli 2015

Perjalanan

Jika kamu berjalan pada jalan yang kamu pilih, kemudian ada kerikil-kerikil kecil dihadapanmu, teruslah berjalan, jangan berbalik arah.

Jika kamu terus berjalan, kemudian ada penghalang dihadapanmu, singkirkan, atau berdoalah agar penghalang itu terbuka, atau tunggu hingga penghalang itu tidak menghalangi jalanmu Setelah itu, kembali berjalan.

Jika kamu sedang berjalan, kemudian merasa "sendirian". Ingatlah, Allah tidak pernah pergi meninggalkanmu. Lanjutkan perjalananmu.

Jika sedang berjalan, kamu menemukan orang-orang yang menatapmu "berbeda", itu tidak apa-apa. Kamu hanya belum menemukan yang sama. Teruslah berjalan.

Jika perjalanan yang kamu tempuh belum sejauh yang kamu impikan, tidak apa-apa. Tetaplah berjalanlah, tanpa harus berlari.

Jika ditengah perjalanan ada sesuatu yang membuatmu ingin kembali ke titik sebelumnya, diamlah, katakan pada hatimu : "Jangan Menyerah".

Teruslah berjalan, tanpa berbalik arah, berbelok, atau berhenti. Jangan menyerah. Karena ketika kamu menyerah, mungkin saja apa yang kamu cari sudah sejengkal lebih dekat dari tempat kamu menyerah.

Rabu, 01 Juli 2015

Pelangi setelah hujan

Jika kamu sedang sakit, bayangkanlah kesembuhan yang akan kamu dapatkan setelahnya.

Jika kamu bersedih, bayangkanlah kebahagiaan yang akan kamu rasakan setelahnya.

Jika kamu sedang melewati suatu ujian, bayangkanlah seolah-olah ujian itu akan segera berakhir.

Jika kamu sangat sibuk dengan pekerjaanmu, bayangkanlah akan segera tiba waktu berkumpul dengan orang yang kamu cintai.

Jika kamu merasa sendiri, ingatlah, Allah tidak pernah pergi meninggalkanmu.

Ada hujan setelah kemarau panjang.
dan ada pelangi setelah hujan.

Ada buah manis dari kesabaran, ada senyum setelah perjuangan panjang.

Tidak ada hal sesulit apapun yang tidak diakhiri dengan kemudahan setelahnya.

Maka bersabarlah, bersyukurlah. Dengan bersyukur, kebahagiaan mengiringinya. Dan kemudahan mengikutinya, InsyaAllah.

Kamis, 25 Juni 2015

Doa

Aku pernah bermimpi menjadi sebuah nama yang terselip dalam doa diujung sajadahmu, hingga ada air mata yang terjatuh.

Senin, 22 Juni 2015

Untitled

Tidak semua kata mampu merubah takdir, menjadi doa yang terkabulkan. Aku berkata, aku bekerja, aku berdoa, Tuhan menentukan.

mayastikasalma, 22 juni 2015

Dimana?

Sejatinya aku adalah kepingan mozaik. Hinggap pada tempat yang telah ditentukan. Berjalan bersama waktu yang berputar. Sejalan dengan takdirku, dimana nama telah tertuliskan, hidup sudah digariskan.

Tapi, terkadang aku merasa tidak sedang berada dimanapun. Aku merasa diam pada titik yang sama tanpa waktu yang menyeretku. Merasa masih mencari, dan mencoba menemukan dimana hidupku. Dimana aku akan menemukan kejutan itu pada akhirnya.

Padahal, hidup bukanlah misteri. Dimana kau berpijak hari ini, itu hidupmu. Waktu yang kau jalani saat ini, itu hidupmu. Dan peristiwa yang  yang kau lewati hari ini, itu juga hidupmu. Semua berjalan selaras dengan apa yang dituliskan pada buku harian takdirmu.

Tinta sudah hampir mengering, bahkan sudah mengering. Hadapi saja yang ada didepan mata, jalani saja yang sedang terasa. Toh hidup bukan sebuah kejutan di akhir, tapi bagaimana makna disetiap detiknya. Hidup sejalan dengan kebahagiaan. Bahagia hadir karena rasa syukur. Maka, bersyukurlah untuk setiap detik yang kau rasakan. Sejauh mana kamu bersyukur, itulah hidupmu.

Selasa, 31 Maret 2015

Pilihan

Seribu jalan telah tersedia
Tapi hanya dua yang menghampiriku
Bagaikan pilihan menuruni bukit
atau malah mendaki tebing yang tinggi

Pilih yang mana?

Memang, sepertinya jalan turun lebih mudah
dan tidak menghabiskan banyak tenaga
Tapi aku tidak akan mendapatkan apa-apa setelahnya
kecuali pemandangan yang sama dan familiar

Sementara, diatas tebing itu aku bisa melihat semuanya
bahkan awanpun dapat kusentuh, pelangi dapat kugenggam
meskipun tebing itu sangat tinggi
dan butuh waktu yang lama untuk mencapai puncaknya

Itulah.

Tinggal aku yang memilih dan memutuskan
Mudah tapi berakhir biasa saja
Susah tapi berakhir menyenangkan.

Setidaknya ada rasa bahagia karena sebuah perjuangan besar yang telah dilakukan. :)

Kamis, 19 Maret 2015

Ada

Ada yang senang berada dalam satu titik tempatnya berpijak, tanpa beranjak sedikitpun
Ada pula yang senang pergi lebih jauh lagi dari tempat semula

Ada yang senang menjadi diri sendiri dan hidup mencari jati diri
Ada pula yang lebih senang beranjak dari jati diri dan hidup untuk mendapatkan pujian

Ada yang lebih suka membuat dunia sendiri, tanpa apapun yang mengganggu
Ada pula yang lebih suka mengganggu kehidupan orang lain hingga lupa akan dunianya sendiri

Ada yang lebih bangga percaya pada diri sendiri dan melakukan apa yang membuat hatinya bahagia
Ada pula yang lebih bangga membuat rumor buruk tentang orang lain demi membuat hatinya bahagia

Ada yang senang melakukan apa saja yang dapat membuat ia merasa nyaman dan lega tanpa melibatkan siapapun
Ada pula yang lebih senang merasa nyaman dan bahagia karena melihat orang lain terluka

Ada yang hidup sendirian, tapi menyenangkan
Ada pula yang hidup bersama-sama tapi saling merugikan

Ada yang senang membagikan kebahagiaan yang ia miliki agar orang lain merasakan hal yang sama
Ada yang senang menyembunyikan luka dan berusaha terlihat bahagia
Ada pula yang lebih senang merenggut kebahagiaan orang lain, lalu ia membuat kebahagiaan itu sendiri

Ada.
Bermacam-macam warna seperti pelangi, ada disetiap sudut hati manusia.
Ada yang sama. ada yang berbeda.
Ada yang bertolak belakang. ada pula yang sejalan.
Hidup seperti siklus.
Seperti angin waktu menyeret.
Bak perubah rona.
Bagai  magnet dari dua kutub hati.
Seperti segala takdir yang berpasangan.
Hidup.

Kamis, 26 Februari 2015

Kutipan Syair dalam Novel "Sang Penyair" Karya Musthafa Luthfi Al-Manfaluthi

"Aku akan bahagia karena aku adalah seorang penyair.
Seorang penyair bersandiwara dengan fitrahnya.
Ia akan merasakan kenikmatan dengan memakai pakaian yang bukan jubahnya,
menampakkan perasaan jiwa yang bukan kata hatinya.

Ia berperan sebagai orang gila, padahal ia orang yang cerdas.
Berperan sebagai pemberani, padahal ia pengecut.
Berperan bahagia, padahal ia.... menderita.
Ia juga bisa berperan sebagai pencinta,
yang menekan getaran cinta dihati untuk kebahagiaan orang lain.

Dia akan mendengar suara kalbuku yang terucap dari mulutmu,
merasakan jiwa dan ruhku dari tubuhmu. Meminum perasaan sukmaku dari gelasmu, menyanyikan irama laguku, tetapi dari kenyaringan suaramu”

"Berbahagialah orang yang berusaha menjauhi istana raja sekuat tenaga
penuntut ilmu yang jauh dari keluarga
mengembara ke tempat yang jauh, melepas beban hidup
tidak melihat apapun, selain keindahan alam semesta" (Monvolery)

“Aku berjalan sendirian
Ketika bulan berjalan di kubah langit
Secercah cahaya berpendar di gurun pasir
Tiba-tiba cahayanya tertutup awan
Bumi menjadi gelap gulita dan kelam
Tak seorang pun dapat melihat cahaya
Yang lebih jauh dari tempatnya berpijak
Aku tahu sedang menghadapi bahaya besar, tapi aku hanya akan berperang melawan penguasa lalim
Yang ingin menendangku dengan kakinya seperti menendang jalan semut
Atau jika ingin mencengkeramku diantara

Selasa, 24 Februari 2015

Musim Gugur...

Lalu aku, si musim gugur yang jatuh pada musim yang sama sekali bukan jiwaku ini, kini terasa lemah.
Ada kondisi dimana aku sulit melewatinya, tapi aku berusaha.
Ada rasa tak bisa aku mengajak daun-daunku berubah, padahal aku sangat menginginkannya.
Ada pikiran ingin menyerah saja.
Tapi angin menyadarkanku.
Ia menjanjikan daun-daunku akan menjadi luar biasa indah kelak, ketika aku terus mencoba menjadi setiap musim yang kuhadapi.
Ketika aku mampu belajar beradaptasi pada kondisi dan situasi baru yang muncul tenggelam dihadapanku.
Ketika aku berjuang sekuat tenaga, meski harus dengan jatuh dan bangun, itu tidak apa-apa.
Seperti sebuah siklus. Ada fase-fase yang mesti kulewati dengan sabar dan kuat setiap harinya, ketika setiap musim berganti dan merubah daun-daunku.

Serpihan

Aku melihat ratusan kepingan momen dan pemerannya saling berhamburan
Terbang bersama angin menjelajahi waktu yang membawanya pergi
Lalu hinggap pada jalan berliku dan melekat diatasnya
Hingga kini, pecahan itu tetap terpisah

Kemudian ada saat dimana angin bertiup kembali
menghempaskan sayup kata melalui udara yang lembut, terkadang juga kasar
Ia membawa serpihan-serpihan berhijrah dari tempat semula ke tempat yang baru, melekat, dan singgah,
bahkan tinggal. Tapi tak sedikit yang kembali

Diantara yang kembali itu disebut kenangan
Ia lebih suka berjibaku dibalik tempat yang sama dengan sebelumnya
bergelut memutar cerita juga kata, tak lupa sebuah rona, padahal sedikit enggan
Akan teringat begitu saja, karena yang kembali, sesungguhnya tidak pernah pergi,

Bahkan mungkin yang lain pun tidak benar-benar pergi, hanya belum sempat angin membawanya kembali.

Kamis, 12 Februari 2015

Lirik Lagu Anak Muslim "Cara Hidup" (Kartun Syamil & Dodo)

 Apakah itu islam, cara hidup untuk semua
tertulis dalam Qur'an, untuk semua

Cara hidup, cara hidup,cara hidup, cara hidup
islamlah cara hidup yang sempurna

Taukah kamu ajaran islam, hidup ini cobaan belaka 
hidup ini hanya pinjaman, dikembalikan

Cara hidup, cara hidup,cara hidup, cara hidup
islamlah cara hidup yang sempurna

Semua masalah diselesaikan, tak satupun ditinggalkan
sempurna sungguh sempurna, hukum Allah

Cara hidup, cara hidup,cara hidup, cara hidup
islamlah cara hidup yang sempurna

Kini aku tidak melihatmu lagi

Aku melihatmu
dalam bayang yang tak sempat menjadi sebuah cerita
hanya ilusi biasa, sederhana

Aku melihatmu
dibalik sayup yang kudengar sesekali
tapi pada kenyataannya, suara itu tidak pernah ada

Aku melihatmu
pada hari dimana kata hampir membuka cerita
tetapi tidak jadi, karena kini semua pergi

Kini aku tidak melihatmu lagi
baik dalam bayang semu maupun dibalik sayup intuisi
kamu tidak disana sejak hari itu

dimana aku tersenyum
setengah terkejut dan kecewa, tapi sedikit lega
dimana aku seperti sedang berjalan
lalu tersandung dan tersungkur jatuh, kemudian bangkit dan tidak apa-apa

Ya, tidak apa apa.
Sedikit luka dari kata yang terbaca olehku
Sedikit kecewa dari nama yang kini terpatri dalam hatimu, dan aku melihatnya
Sedikit saja, hanya sedikit.

Juga sedikit lega untuk "kalian".
Untuk kamu yang telah berhasil menemukannya.
Aku percaya, Allah memberikan yang terbaik untuk seseorang yang juga baik, sepertimu.
Selamat, ya.

Kamis, 05 Februari 2015

Jumat, 30 Januari 2015

Mozaik Keempat (Islamic Rose Book & Linda D. Delgado)

Aku juga bertemu mozaik lainnya. Tentang Novel “Islamic Rose Book” kesukaanku pada saat aku duduk dibangku kelas 6 SD semester akhir. Begitu senangnya membaca buku itu. Ada banyak petualangan dan hal-hal baru yang luar biasa yang kudapatkan dari ceritanya. Juga sebuah persahabatan yang unik. Hijab-Ez, best Friend Forever. Untuk lebih lengkapnya kalian bisa lihat sinopsis novel ini 

Aku senang ketika bisa menemukan akun bernama Linda D. Delgado di facebook yang juga adalah penulis buku tersebut. Oh, itu sudah cerita lama, 7 tahun berlalu aku masih bisa dipertemukan dengannya meski hanya lewat sosial media. Lebih bahagia lagi ketika bisa chatting dengannya.. Chat-ku yang pertama adalah sekitar 3 tahun lalu. Aku mengatakan aku menyukai seri bukunya, Islamic rose book. Dia bertanya, judul mana yang paling aku sukai?  dia menyebutkan judul setiap serinya satu per-satu
1.       Tamu asing di rumah nenek (The Visitors),
2.       Sahabat yang datang dan pergi (Hijab-Ez Friends)
3.       Kisah orang-orang teladan (Stories)
4.       Perpisahan yang indah (Saying Goodbye)

Dan aku menyukai..........SEMUANYA. :) Akhirnya Linda D. Delgado termasuk kedalam mozaik hidupku yang pernah ada, lalu muncul kembali pada satu hariku yang tidak disangka. Beberapa bulan lalu aku kembali menyapanya, dan pesan itu masih sempat dilihat, meski tidak dibalas, setidaknya aku tahu dia masih ada disana, membaca pesanku.

Kamis, 22 Januari 2015

Di Khusyuk Fajar



"Biar kujumpa senyummu di khusyuk fajar
Merekah bersama mandi cahaya mentari
Sehangat kata menyelimutiku
Setenang senyum pelega hati"

Mayastika Salma, 16/01/15

Ketika

Ketika seorang sahabat menyembunyikan berita bahagianya dibelakangmu.
Ketika kamu kecewa karena teman-teman yang kamu rindukan tiba-tiba tidak bisa bertemu denganmu.
Ketika seseorang yang kamu tunggu tiba-tiba memberikan tanda bahwa dia akan segera menikah.
Ketika teman mengobrolmu akan pergi jauh dan kini ia berubah.
Ketika seseorang yang tiba-tiba hadir dimimpimu semalam, membangkitkan ingatan masalalu yang tidak seharusnya diingat.
Ketika merasa sendirian.
Ketika merasa ditinggalkan.
Ketika merasa diuji.
Kamu perlu ingat satu hal bahwa ada yang tidak pernah pergi, tidak pernah jauh, tidak pernah meninggalkanmu.
Adalah Allah.
Allah dekat saat kamu menjauhi-Nya.
Allah dekat ketika mereka jauh darimu.
Allah dekat ketika orang-orang disekelilingmu pergi.
Allah yang memberikanmu sepi, Allah juga yang menghadirkan orang-orang yang kamu sayangi.
Allah yang memberikanmu ujian, agar kamu lebih kuat dan lebih dekat dengan-Nya.
Allah yang menyadarkanmu bahwa kehadiran-Nya begitu dekat, tanpa perlu mengkhawatirkan orang-orang disekelilingmu meninggalkanmu.
Allah ada, bersamamu, dihatimu.
Dekatlah, maka Allah akan lebih dekat.

Selasa, 13 Januari 2015

Thanks for always being there, Kazoku.

Hari kelima saat sakit.

Hari itu aku bangun ketika adzan subuh berkumandang, sama seperti doaku sebelum tidur, aku ingin bangun pada saat adzan subuh. Subhanallah, Allah mengabulkannya. Segera aku bangun, dan mengambil air wudhu, lalu shalat sunnah dua rakaat, dilanjut shalat subuh. 

Hari itu, meskipun fase demam sudah berakhir, tapi masih ada beberapa hal yang masih terasa, aku masih harus beristirahat. Tubuhku belum 100% fit kala itu, aku belum diizinkan mengajar. Oleh karenanya, kuputuskan hari itu untuk beristirahat saja agar badanku terasa lebih baik. 

Selesai membaca surat Ar-Rahman dan Al-Mulk dari Mushafku, aku lekas tidur dibalik selimut. Udara sangat dingin, maklum disini daerah yang dikelilingi pegunungan. Awalnya memang sulit untuk tidur, karena pusingku belum sepenuhnya hilang. Tapi setelah berusaha, akhirnya aku berhasil. 

Sampai menjelang pagi aku masih tertidur, sedikit bangun sebentar, kemudian tidur lagi. Dan disinilah aku bermimpi. Seperti nyata. Dalam mimpiku aku membuka mataku dan bangun dari tidurku, ada seseorang yang membuka pintu, ibuku, rupanya. Kapan dia datang? Akhirnya ibuku masuk dan membawa beberapa makanan, aku ikut makan bersamanya, ada banyak sekali cemilan yang ia bawa saat itu, termasuk ice cream coklat. Oh aku senang sekali, aku mengobrol banyak sambil terus makan makanan tersebut. Melegakan rasanya, ibuku datang ketika aku sakit. Tapi.......... sampai akhirnya aku benar-benar membuka mataku. Ternyata aku hanya bermimpi. Aku memutuskan untuk tidur kembali.

Ini mimpi kedua. Dalam mimpiku, aku tidak sedang tidur, melainkan sedang bersama kedua saudariku. Satu kakak perempuan dan satu adik perempuan. Mereka rupanya baru mengunjungi kamarku (karena aku tinggal bersama saudaraku yg lain). Pada saat itu mereka mengatakan padaku bahwa mereka lapar. “Hmm.. tunggu, akan kuambilkan makanan” kataku, lekas aku membuka pintu kamarku, untuk mengambil makanan, tapi yang ada disana seperti sedang ada suatu acara. Ha? Mengapa bisa begini? Kututup kembali pintu dan aku berbalik ke arah kedua saudariku, tapi.... mereka tidak ada. Aku membuka mataku, ternyata ini hanya mimpi (lagi). Dua kali aku bermimpi bertemu dengan keluargaku, tapi pada kenyataannya mereka tidak ada. Aku benar-benar merasa kesepian sekarang. Hmm... kulihat jam, masih jam 9 pagi. Aku belum merasa cukup untuk beristirahat, kepalaku pun masih terasa pusing. Oleh karena itu kuputuskan untuk tidur kembali.
Aku bermimpi lagi. Kali ini  suara pintu kamar diketuk.

“Aunty.........Aunty............Aunty..........”

Begitulah suara yang berasal dibalik pintu kamarku yang diketuk. Suara afka, keponakanku yang laki-laki. Afka? Mengapa dia ada disini? Dengan suara lucunya ia terus memanggilku. Dengan panggilan “Aunty”-nya yang khas. “Anteeeeee...” Oh. Aku hafal sekali suaranya. Suara yang tidak pernah karam dari ingatanku, suara yang langsung mengingatkanku kepada si lucu, afka. Aku berusaha bangun dan hendak membukakan pintu, tapi lagi-lagi aku tersadar, ini semua hanya mimpi. Kubuka mataku perlahan, tidak ada. Tidak ada afka. Pada saat itu pintu kamarku sudah terbuka sedikit, rupanya bibi dibalik sana. 

“Neng, bibi sudah 3x mengetuk pintu, ternyata neng tidur”
“Oh iya bi, maaf...”

Sejak saat itu, aku benar-benar merindukan mereka, keluargaku. Aku yakin mereka pun merindukanku. Merindukan kami kumpul bersama-sama. Terima kasih sudah hadir  meski hanya dalam mimpiku. Thanks for always being there, kazoku.