Tampilkan postingan dengan label Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hati. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Maret 2017

QUOTES by @mayastikasalma







Padamu, Kukatakan, Wahai Diri


Padamu, kukatakan, wahai diri,

Terus berbuat baik itu adalah tugasmu,
sementara pahala itu urusan Allah

Menyampaikan kebaikan itu adalah tugasmu,
sementara hidayah itu urusan Allah

Berjuang di jalan kebaikan itu adalah tugasmu,
sementara hasilnya itu urusan Allah

Berdoa sebanyak mungkin itu adalah tugasmu,
sementara terkabul atau tidaknya itu urusan Allah.

Kamu hanya perlu melakukan semuanya dengan ikhlas,

Berusaha - berdoa - Serahkan pada Allah.

Sesederhana itu.

Jika masih sulit, tanyakan pada hatimu:

"Masihkah Allah menjadi tujuan?"

Wahai diri, mari berjuang lebih keras lagi


#selfreminder



Takdir = Kejutan



Dalam perjuangan dan doa tak henti.
Kita tidak tahu doa mana yang akan kembali. 

Bahkan bisa jadi, 
hal yang datang itu ternyata belum pernah ada 
dalam doamu sama sekali.

Ketahuilah, takdir itu seperti sebuah kejutan. 
Tapi jangan menunggu kejutan itu tiba, 

karena ketika kamu begitu berharap, 
namun tak kunjung dapat,
kamu akan kecewa.

Allah maha tahu yang terbaik,
maka berharaplah hanya pada-Nya.

Pada musim gugur, aku belajar

Pada musim gugur yang menanti musim semi, 
aku belajar bersabar.

Meski daun-daunnya berjatuhan,
ia tak pernah mengeluh,
apalagi marah.

Pada ranting-ranting yang menanti bunga,
aku belajar kuat.

Meski angin berupaya menjatuhkannya,
ia tetap berdiri dan percaya akan satu janji:
Bunga kan bersemi sebentar lagi.

Rabu, 29 Maret 2017

Jika Rindu


Jika rindu, berdoalah.
Karena doa menenangkan hati.
Karena doa tahu kemana ia harus pergi.
Karena doa tak mengenal siapa yang kita doakan, 
melainkan seberapa tulus kita mendoakannya.

Selasa, 28 Maret 2017

Baik dihadapan Allah, sudahkah?


Terkadang kita lebih berhati-hati dan ingin selalu mempersembahkan yang terbaik dihadapan manusia.

Tapi, sudahkah kita berbenah & mempersembahkan yang terbaik dihadapan Allah?

Misalnya ketika akan pergi menghadap Allah untuk shalat. Sudahkah kita menggunakan pakaian terbaik yang kita miliki untuk beribadah kepada-Nya?

Mengingat ini, jadi teringat tentang percakapan dua orang adik kelasku di SMA, 4 tahun yg lalu.

A:"Mukena kamu terbalik tuh"

B: (melihat) "wah iya... ah biarin ah, males ngebenerinnya"

A:"jangan gitu... Kamu kalo ke pesta dandannya cantik, bajunya bagus... ari mau shalat menghadap Allah mukenanya kebalik"

B:"Iya ya astagfirullah"
(kemudian membetulkan mukenanya)

Terkadang kita pun seperti itu, dihadapan manusia, semuanya diperbaiki, semuanya dipoles, semuanya ditata agar terlihat 'baik'. Tapi ketika dihadapan Allah, terkadang sholat saja ditunda, pakaian untuk beribadah asal-asalan, sedekah menggunakan uang sisa-sisa kembalian, receh pula, dan lain sebagainya.  Astagfirullah :'(

Padahal.. yang memberikan pakaian kita itu siapa?
yang menjadikan kita bisa bergerak, melakukan berbagai aktivitas kita itu siapa?
bukan, bukan manusia... Allah lah yg kuasa atas segalanya yg terjadi pada hidup kita.

Lantas, sudahkah kita bersungguh-sungguh mengerjakan segala sesuatu karenaNya? hanya untuk mndapat ridhoNya?
Amalan apa yg sudah kita persembahkan & persiapkan untuk bekal nanti?

Kembali lagi kepada diri sendiri. Tanya hati, tanya iman.

#selfreminder :')

📝📝📝

Senin, 09 Januari 2017

Beloved People I Called: Family❤

Malam itu, seperti dua hari sebelumnya, aku tidur terlalu larut, yaitu sampai jam dua dini hari demi mengerjakan project film bahasa inggris sebagai tugas UAS di kampus. Padahal, besoknya aku harus kembali ke Bandung untuk pergi kuliah. Tapi, mau tidak mau, harus kulakukan agar semuanya dapat selesai dengan baik.

Pagi itu, diawali dengan mama yang membangunkanku lima menit sebelum alarm HP-ku berbunyi. MasyaAllah mama memang alarm terbaik sepanjang masa. Aku lekas bangun dan 'sadar' bahwa aku harus bergegas, bersiap-siap untuk kemudian berangkat sepagi mungkin, karena jarak Subang - Bandung itu tidaklah dekat mengingat kuliah masuk pukul 07.30. Sambil masih terkantuk-kantuk dan rasa penat yang sulit dihindari masih melekat, aku memaksakan diri. Segera bangkit dan pergi ke kamar mandi. 

Selesai aku mandi aku mendapati mama kembali dari membelikan sarapan untuk aku dan Apa, (APA adalah sapaanku untuk ayah) Seawal itu, bahkan ini belum masuk waktu subuh. Mama mengingatkanku untuk sarapan terlebih dahulu, tapi aku masih harus menyelesaikan tugasku yang semalam belum rampung. Ditambah masih sibuk mempersiapkan barang dan perlengkapan yang harus kubawa. 

Aku agak panik karena hari ini ada tiga mata kuliah yang ketiganya adalah tugas tugas yang harus diselesaikan dan dipersiapkan terlebih dahulu sebelum dipresentasikan / di tes. Dan dari ketiganya, aku baru menyelesaikan satu tugas yang sudah benar-benar siap. Aku panik, tapi tidak lama karena kemudian berusaha menenangkan diri serta tetap memohon pertolongan Allah.

Pukul 05.30.
Setelah selesai mempersiapkan diri dan segala perlengkapan. Aku berencana pergi ke Subang kota dengan diantar oleh Apa. Ya, karena aku akan terlambat mendapatkan mobil jurusan Bandung yang akan berangkat lebih pagi jika aku tidak diantar oleh Apa menggunakan motor, mengingat jarak rumahku ke Subang kota adalah 16 KM lebih. 

Maafkan aku, Pa.. sejujurnya aku tidak ingin menyusahkanmu. 

Padahal sebelumnya aku telah meminta untuk diantar adikku yg laki-laki saja, agar Apa tetap di rumah dan bisa bersepeda pagi sesuai dengan jadwalnya hari itu. 
Tapi Apa tidak mengizinkan dan lebih memilih mengantarkanku langsung. Soal ini, kurasa apa mengkhawatirkan adikku. Padahal aku yakin kami akan baik-baik saja dan adikku juga sudah biasa menjemputku ketika aku pulang dan tiba malam hari. Tapi Apa tetap khawatir pada kami, akhirnya Apa memutuskan bahwa ialah yang akan mengantarkanku.

Saat aku akan berangkat, berkali-kali aku masuk ke dalam rumah dan berkata pada adik perempuanku: "Ingatkan aku apa lagi yang harus kubawa"

Ia menjawab :"Dompet? Kunci? Garn*er? Charger?"

"Oh iya charger", dengan cepat aku mencarinya, akhirnya kutemukan kabelnya saja, ah, tak apa, pikirku, kurasa aku masih punya satu di sana.

Disaat panik seperti itu aku tak dapat memastikan 'semua' barangku sudah lengkap masuk ke dalam tas. Malam sebelumnya pun tak sempat kupersiapkan karena aku mengerjakan tugas Project film yang lama sekali rampungnya itu. 

Setelah selesai, aku berpamitan kepada mama.

"Kuenya belum sempat di buat, lain kali saja ya"

Mama berencana membuatkan kue untuk kubawa sebagai bekal. Tapi ia tak sempat membuatnya karena aku pun mengerti, aku akan pergi sepagi ini sementara membuat kue membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Aku mengerti, tidak masalah, Ma. 

Aku berpamitan, mencium tangannya lalu pergi ke depan, dimana Apa telah menungguku,

Seperti biasa, apa bertanya:

"Teu aya nu kakantun?"
"InsyaAllah atos sadayana"
"Hape, kade.."
Segera aku mengecek tasku, kudapati HP ku disana.
"Aya,Pa.."

Segera aku naik ke motor. Selama dalam perjalanan, Apa tidak banyak bicara seperti biasanya, hanya terkadang bertanya tentang kuliahku, pekerjaanku, dan juga mengkhawatirkan mengapa aku terbatuk-batuk saat itu. Tak lupa menasihatiku atas jawaban dari setiap pertanyaannya. Juga mengingatkanku agar banyak minum air putih. (Salah satu hal yg paling sering kedua orang tuaku ingatkan kepada kami, anak2nya)

Diboncengi Apa, jadi teringat saat aku masih kecil. Aku sering diajak jalan-jalan oleh Apa menggunakan sepeda, juga motor (ketika sudah ada). Keluarga kami bukanlah keluarga yang sering menghabiskan waktu di tempat wisata atau tempat liburan yang menyenangkan, cukup menghabiskan waktu di rumah, menikmati masakan ibuku, atau sekedar berkumpul di ruang TV pun adalah hal yang tak ternilai harganya. Termasuk diboncengi Apa pergi jalan-jalan adalah salah satu hal yang membahagiakan bagi masa kecilku, dan kurasa bagi masa kecil kakak dan adikku juga.

Sepanjang perjalanan aku menikmati hembusan angin pagi, juga pemandangan langit  yang mempesona, jingga, biru, pink... semuanya ada disana berkolaborasi menjadi sentuhan yang tak bisa terelakkan keindahannya. Semakin jauh, kendaraan yang kutumpangi melaju menembus jalanan, cahaya semakin terang karena mentari mulai menyeruak, hendak menampakkan dirinya diufuk timur. Hangat, rasanya... momen yang tak bisa kucampakkan begitu saja. Hingga saatnya kami berada di atas jalan layang, lebih tepatnya jalan yang melintang di atas jalan tol Cipali, Aku dapat melihat lebih jelas lukisan Allah itu, maka dengan usaha seadanya kupotret menggunakan kamera ponsel yang ternyata hasilnya pun blur. (Tak apa, setidaknya aku sudah berusaha mengabadikan momen, hehe.)

Ah, Apa... momen saat itu tak bisa kudapatkan lagi dengan mudah mengingat waktu dan jarak yang sudah lebih sering memisahkan kita. Juga, aku bukan anak kecil lagi sekarang, seharusnya akulah yang melakukan kebahagiaan itu untukmu :')

Setengah jam lebih akhirnya aku tiba di tempat dimana mobil jurusan Bandung yg menjadi tujuanku itu berada. Awalnya aku sempat khawatir akan terlambat, mengingat biasanya elf atau kendaraan umum akan menunggu penumpang sangat lama, tapi dengan saran ibu dan kakakku yang sudah pernah naik di tempat ini, maka aku lega dan bisa lebih tenang saat menumpanginya.

Aku masuk ke dalam elf, memilih tempat yang dekat dengan pintu keluar. Baru ada 5 penumpang saat itu. Tapi entah kenapa aku tetap merasa tenang, dan percaya bahwa mobil ini akan segera berangkat. 

Meskipun begitu, aku masih tetap memohon pertolongan dan perlindungan-Nya agar perjalananku juga semua urusanku hari ini dapat berjalan dengan lancar. Karena aku tau, tanpa-Nya, aku mungkin tak akan bisa sampai ke sini, detik ini.

Apa meng-SMSku,
"Atos aya penumpangna? Apa di gang Palab*an ngantosan infona"

"Atos ayaan tapi teu acan pinuh.."

"Sabar + doa tong hilap".

Ternyata Apa menungguku di tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat aku turun, memastikan mobil yang kutumpangi sudah dipenuhi penumpang, lalu berangkat dengan selamat. Ah apa, lagi-lagi... :')  

Tak lama setelah SMS Apa itu, penumpang berdatangan satu persatu, hingga akhirnya penuh dan kemudian mobil berangkat, akupun segera mengSMS Apa bahwa mobilku sudah akan pergi. 

Perlahan mobil itu melaju, menjauh dari tempatnya semula, meninggalkan Apa yang menungguku di suatu tempat, meninggalkan kota kelahiranku. 

Ah, sedih rasanya. 
Masih ingin berada di rumah. 
Masih ingin bersama mereka. 
Masih ingin menghabiskan waktu bersama adik-kakak-dan keponakan-keponakanku yang lucu. 
Masih ingin bersepeda sore bersama adik perempuanku.
Masih ingin ingin melukis bersama adik laki-lakiku.
Masih ingin menyempatkan membuat kue.
Masih ingin menyempatkan membersihkan taman.
Masih ingin melihat bunga pink bermekaran lebih banyak lagi, mengingat dua hari sebelum aku pergi, bunga itu sudah bermunculan karena hujan yang mengguyur mereka malam harinya.
Ah....masih banyak lagi yang sangat ingin dilakukan di rumah. Belum sempat terceklis semua daftar "to do list" yang pernah kubuat.

Memang benar, waktu tak dapat berhenti, atau bahkan kembali lagi, kecuali sang pemilik waktu benar-benar menghendakinya. Kesempatanku sudah habis kali ini, tapi bukan berarti telah berakhir.

Dan yang harus aku lakukan adalah... tentu saja; BERSYUKUR
Bersyukur karena Allah masih memberikan waktu untuk dapat bertemu dengan orang-orang yang kucintai, di tempat yang aku sangat nyaman tinggal didalamnya.
Bersyukur karena masih sempat melihat mereka dalam keadaan sehat dan bahagia. 
Bersyukur karena masih bisa ada untuk mereka.
Bersyukur untuk hal sederhana yang ternyata mempesona.
Bersyukur, bersyukur, bersyukur.. Karena kita tidak tahu, hidup yang terkadang kita keluhkan ini, mungkin saja adalah hidup yang sangat orang lain inginkan. Masya Allah.

- فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ -

"Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
(Q.S.Ar-rahman) 

Rabu, 26 Oktober 2016

Menata Hati, Menjaga Hati ❤


Bak menyusun puzzle, mari mulai menata hati yang berserakan.
Berserakan bukan berarti pecah.
Pecah bukan berarti sakit, hanya perlu diperbaiki. 

Ada banyak kepingan yang harus ditata kembali.
Tentang Sabar, Syukur, Mimpi dan cita-cita, Daur ulang rasa, dan masih banyak lagi. 

Jangan sampai hal-hal negatif yang bersarang disana. dan yang paling penting adalah.....jadikan Allah satu-satunya pemilik hatimu. 

Dia yang Maha membolak-balikkan hati manusia.
Dia yang menguatkan saat kamu lemah.
Dia yang meyakinkanmu ketika kamu ragu.

Mari mulai menjaga hati, lillaah.
IG: @mayastikasalma

Rabu, 05 Oktober 2016

Maafkan, Wahai Diri

Maafkan wahai diri, belum sempat terpenuhi segala janji
Seharusnya perjalanan ini bisa lebih baik lagi dari mimpi yang telah terangkai
Bukan “tidak” memang, hanya “belum”, insyaAllah.
Mari berjuang lebih keras lagi.

Sempat berpikir menyerah saja, melihat langkahmu sudah semakin jauh diatas
Sementara aku, masih berkutat dalam pusaran yang sama.
dalam labirin yang masih ku nikmati perjalanannya
Tanpa mencari jalan pulang

Aku memang masih disini, di tempat yang sama
Bukannya tak ingin melangkah lebih jauh.Tapi,

Rona


Lalu, pada rona manakah dunia akan percaya 
bahwa hatimu baik-baik saja, 
sementara mereka melihat sebaliknya?

Minggu, 19 Juni 2016

Aku Melihatmu ...

Aku melihatmu
dalam bayang yang belum sempat menjadi sebuah cerita
hanya ilusi biasa, sederhana

Aku melihatmu
dibalik sayup yang kudengar sesekali
tapi pada kenyataannya, suara itu tidak pernah ada

Aku melihatmu
dalam satu detik yang terasa berhenti
hanya satu detik, karena detik selanjutnya aku bangun dari mimpi


Aku melihatmu
pada hari dimana kata hampir membuka cerita
tetapi tidak jadi, karena hati lebih senang bersembunyi

Aku melihatmu
dalam rangkaian kata yang sesekali mengusik telinga hati
padahal sebenarnya tidak bermaksud sama sekali

Aku melihatmu
pada senyum yang teranggai berkali-kali
namun bukan terkhusus untukku

Aku melihatmu
Hanya ketika angin berbisik, dan daun terjatuh dengan ikhlas
Hanya ketika Allah menunjukkan mata dan hatiku untuk melihatmu


Kamis, 29 Oktober 2015

Kazoku :)

Ketika sebuah pertemuan semakin mahal, 
dan kesibukan mencuri waktu berhargamu, Bersabarlah.
Mungkin Allah sedang mengujimu dengan Tanda Sayang.
Ujian yang jika kamu menghadapinya dengan Ikhlas akan menghasilkan Kebahagiaan.
Tetaplah Berdoa untuk para pemilik senyum itu.
Terkadang Sabar memang sulit, tapi berbuah Manis :)

Kamis, 15 Oktober 2015

Hidup adalah Pilihan


Hidup adalah Pilihan.
Bagaimana membedakan yang baik dengan yang buruk.
Memilih yang baik dengan yang lebih baik.
Memilih yang lebih baik dengan yang paling baik.
Memilih yang paling baik dengan yang terbaik.

Terkadang apa yang menurut kita terbaik belum tentu terbaik menurut Allah.
Begitupun sebaliknya, apa yang tidak kita sukai bisa jadi adalah yang terbaik untuk kita.
Allah lebih tau apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Allah diatas segala-galanya.
Betapapun kita memilih dan memutuskan, 
 ketika Allah berkehendak lain, 
maka sesuatu itu tidak akan terjadi
meskipun sudah berusaha sekeras mungkin untuk terjadi.

Senin, 22 Juni 2015

Dimana?

Sejatinya aku adalah kepingan mozaik. Hinggap pada tempat yang telah ditentukan. Berjalan bersama waktu yang berputar. Sejalan dengan takdirku, dimana nama telah tertuliskan, hidup sudah digariskan.

Tapi, terkadang aku merasa tidak sedang berada dimanapun. Aku merasa diam pada titik yang sama tanpa waktu yang menyeretku. Merasa masih mencari, dan mencoba menemukan dimana hidupku. Dimana aku akan menemukan kejutan itu pada akhirnya.

Padahal, hidup bukanlah misteri. Dimana kau berpijak hari ini, itu hidupmu. Waktu yang kau jalani saat ini, itu hidupmu. Dan peristiwa yang  yang kau lewati hari ini, itu juga hidupmu. Semua berjalan selaras dengan apa yang dituliskan pada buku harian takdirmu.

Tinta sudah hampir mengering, bahkan sudah mengering. Hadapi saja yang ada didepan mata, jalani saja yang sedang terasa. Toh hidup bukan sebuah kejutan di akhir, tapi bagaimana makna disetiap detiknya. Hidup sejalan dengan kebahagiaan. Bahagia hadir karena rasa syukur. Maka, bersyukurlah untuk setiap detik yang kau rasakan. Sejauh mana kamu bersyukur, itulah hidupmu.

Selasa, 31 Maret 2015

Pilihan

Seribu jalan telah tersedia
Tapi hanya dua yang menghampiriku
Bagaikan pilihan menuruni bukit
atau malah mendaki tebing yang tinggi

Pilih yang mana?

Memang, sepertinya jalan turun lebih mudah
dan tidak menghabiskan banyak tenaga
Tapi aku tidak akan mendapatkan apa-apa setelahnya
kecuali pemandangan yang sama dan familiar

Sementara, diatas tebing itu aku bisa melihat semuanya
bahkan awanpun dapat kusentuh, pelangi dapat kugenggam
meskipun tebing itu sangat tinggi
dan butuh waktu yang lama untuk mencapai puncaknya

Itulah.

Tinggal aku yang memilih dan memutuskan
Mudah tapi berakhir biasa saja
Susah tapi berakhir menyenangkan.

Setidaknya ada rasa bahagia karena sebuah perjuangan besar yang telah dilakukan. :)

Kamis, 19 Maret 2015

Ada

Ada yang senang berada dalam satu titik tempatnya berpijak, tanpa beranjak sedikitpun
Ada pula yang senang pergi lebih jauh lagi dari tempat semula

Ada yang senang menjadi diri sendiri dan hidup mencari jati diri
Ada pula yang lebih senang beranjak dari jati diri dan hidup untuk mendapatkan pujian

Ada yang lebih suka membuat dunia sendiri, tanpa apapun yang mengganggu
Ada pula yang lebih suka mengganggu kehidupan orang lain hingga lupa akan dunianya sendiri

Ada yang lebih bangga percaya pada diri sendiri dan melakukan apa yang membuat hatinya bahagia
Ada pula yang lebih bangga membuat rumor buruk tentang orang lain demi membuat hatinya bahagia

Ada yang senang melakukan apa saja yang dapat membuat ia merasa nyaman dan lega tanpa melibatkan siapapun
Ada pula yang lebih senang merasa nyaman dan bahagia karena melihat orang lain terluka

Ada yang hidup sendirian, tapi menyenangkan
Ada pula yang hidup bersama-sama tapi saling merugikan

Ada yang senang membagikan kebahagiaan yang ia miliki agar orang lain merasakan hal yang sama
Ada yang senang menyembunyikan luka dan berusaha terlihat bahagia
Ada pula yang lebih senang merenggut kebahagiaan orang lain, lalu ia membuat kebahagiaan itu sendiri

Ada.
Bermacam-macam warna seperti pelangi, ada disetiap sudut hati manusia.
Ada yang sama. ada yang berbeda.
Ada yang bertolak belakang. ada pula yang sejalan.
Hidup seperti siklus.
Seperti angin waktu menyeret.
Bak perubah rona.
Bagai  magnet dari dua kutub hati.
Seperti segala takdir yang berpasangan.
Hidup.

Selasa, 24 Februari 2015

Musim Gugur...

Lalu aku, si musim gugur yang jatuh pada musim yang sama sekali bukan jiwaku ini, kini terasa lemah.
Ada kondisi dimana aku sulit melewatinya, tapi aku berusaha.
Ada rasa tak bisa aku mengajak daun-daunku berubah, padahal aku sangat menginginkannya.
Ada pikiran ingin menyerah saja.
Tapi angin menyadarkanku.
Ia menjanjikan daun-daunku akan menjadi luar biasa indah kelak, ketika aku terus mencoba menjadi setiap musim yang kuhadapi.
Ketika aku mampu belajar beradaptasi pada kondisi dan situasi baru yang muncul tenggelam dihadapanku.
Ketika aku berjuang sekuat tenaga, meski harus dengan jatuh dan bangun, itu tidak apa-apa.
Seperti sebuah siklus. Ada fase-fase yang mesti kulewati dengan sabar dan kuat setiap harinya, ketika setiap musim berganti dan merubah daun-daunku.

Serpihan

Aku melihat ratusan kepingan momen dan pemerannya saling berhamburan
Terbang bersama angin menjelajahi waktu yang membawanya pergi
Lalu hinggap pada jalan berliku dan melekat diatasnya
Hingga kini, pecahan itu tetap terpisah

Kemudian ada saat dimana angin bertiup kembali
menghempaskan sayup kata melalui udara yang lembut, terkadang juga kasar
Ia membawa serpihan-serpihan berhijrah dari tempat semula ke tempat yang baru, melekat, dan singgah,
bahkan tinggal. Tapi tak sedikit yang kembali

Diantara yang kembali itu disebut kenangan
Ia lebih suka berjibaku dibalik tempat yang sama dengan sebelumnya
bergelut memutar cerita juga kata, tak lupa sebuah rona, padahal sedikit enggan
Akan teringat begitu saja, karena yang kembali, sesungguhnya tidak pernah pergi,

Bahkan mungkin yang lain pun tidak benar-benar pergi, hanya belum sempat angin membawanya kembali.

Kamis, 12 Februari 2015

Kini aku tidak melihatmu lagi

Aku melihatmu
dalam bayang yang tak sempat menjadi sebuah cerita
hanya ilusi biasa, sederhana

Aku melihatmu
dibalik sayup yang kudengar sesekali
tapi pada kenyataannya, suara itu tidak pernah ada

Aku melihatmu
pada hari dimana kata hampir membuka cerita
tetapi tidak jadi, karena kini semua pergi

Kini aku tidak melihatmu lagi
baik dalam bayang semu maupun dibalik sayup intuisi
kamu tidak disana sejak hari itu

dimana aku tersenyum
setengah terkejut dan kecewa, tapi sedikit lega
dimana aku seperti sedang berjalan
lalu tersandung dan tersungkur jatuh, kemudian bangkit dan tidak apa-apa

Ya, tidak apa apa.
Sedikit luka dari kata yang terbaca olehku
Sedikit kecewa dari nama yang kini terpatri dalam hatimu, dan aku melihatnya
Sedikit saja, hanya sedikit.

Juga sedikit lega untuk "kalian".
Untuk kamu yang telah berhasil menemukannya.
Aku percaya, Allah memberikan yang terbaik untuk seseorang yang juga baik, sepertimu.
Selamat, ya.