Kamis, 30 Maret 2017
Padamu, Kukatakan, Wahai Diri
Takdir = Kejutan
Allah maha tahu yang terbaik,
maka berharaplah hanya pada-Nya.
Pada musim gugur, aku belajar
aku belajar bersabar.
ia tak pernah mengeluh,
apalagi marah.
aku belajar kuat.
ia tetap berdiri dan percaya akan satu janji:
Bunga kan bersemi sebentar lagi.
Rabu, 29 Maret 2017
Jika Rindu
Selasa, 28 Maret 2017
Baik dihadapan Allah, sudahkah?
Terkadang kita lebih berhati-hati dan ingin selalu mempersembahkan yang terbaik dihadapan manusia.
Tapi, sudahkah kita berbenah & mempersembahkan yang terbaik dihadapan Allah?
Misalnya ketika akan pergi menghadap Allah untuk shalat. Sudahkah kita menggunakan pakaian terbaik yang kita miliki untuk beribadah kepada-Nya?
Mengingat ini, jadi teringat tentang percakapan dua orang adik kelasku di SMA, 4 tahun yg lalu.
A:"Mukena kamu terbalik tuh"
B: (melihat) "wah iya... ah biarin ah, males ngebenerinnya"
A:"jangan gitu... Kamu kalo ke pesta dandannya cantik, bajunya bagus... ari mau shalat menghadap Allah mukenanya kebalik"
B:"Iya ya astagfirullah"
(kemudian membetulkan mukenanya)
Terkadang kita pun seperti itu, dihadapan manusia, semuanya diperbaiki, semuanya dipoles, semuanya ditata agar terlihat 'baik'. Tapi ketika dihadapan Allah, terkadang sholat saja ditunda, pakaian untuk beribadah asal-asalan, sedekah menggunakan uang sisa-sisa kembalian, receh pula, dan lain sebagainya. Astagfirullah :'(
Padahal.. yang memberikan pakaian kita itu siapa?
yang menjadikan kita bisa bergerak, melakukan berbagai aktivitas kita itu siapa?
bukan, bukan manusia... Allah lah yg kuasa atas segalanya yg terjadi pada hidup kita.
Lantas, sudahkah kita bersungguh-sungguh mengerjakan segala sesuatu karenaNya? hanya untuk mndapat ridhoNya?
Amalan apa yg sudah kita persembahkan & persiapkan untuk bekal nanti?
Kembali lagi kepada diri sendiri. Tanya hati, tanya iman.
#selfreminder :')
📝📝📝
Senin, 09 Januari 2017
Beloved People I Called: Family❤
Setengah jam lebih akhirnya aku tiba di tempat dimana mobil jurusan Bandung yg menjadi tujuanku itu berada. Awalnya aku sempat khawatir akan terlambat, mengingat biasanya elf atau kendaraan umum akan menunggu penumpang sangat lama, tapi dengan saran ibu dan kakakku yang sudah pernah naik di tempat ini, maka aku lega dan bisa lebih tenang saat menumpanginya.
"Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"- فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ -
(Q.S.Ar-rahman)
Rabu, 26 Oktober 2016
Menata Hati, Menjaga Hati ❤
Berserakan bukan berarti pecah.
Pecah bukan berarti sakit, hanya perlu diperbaiki.
Tentang Sabar, Syukur, Mimpi dan cita-cita, Daur ulang rasa, dan masih banyak lagi.
Dia yang Maha membolak-balikkan hati manusia.
Dia yang menguatkan saat kamu lemah.
Dia yang meyakinkanmu ketika kamu ragu.
Mari mulai menjaga hati, lillaah. ❤
Rabu, 05 Oktober 2016
Maafkan, Wahai Diri
Seharusnya perjalanan ini bisa lebih baik lagi dari mimpi yang telah terangkai
Bukan “tidak” memang, hanya “belum”, insyaAllah.
Mari berjuang lebih keras lagi.
Sempat berpikir menyerah saja, melihat langkahmu sudah semakin jauh diatas
Sementara aku, masih berkutat dalam pusaran yang sama.
dalam labirin yang masih ku nikmati perjalanannya
Tanpa mencari jalan pulang
Aku memang masih disini, di tempat yang sama
Bukannya tak ingin melangkah lebih jauh.Tapi,
Rona
Minggu, 19 Juni 2016
Aku Melihatmu ...
Aku melihatmudalam bayang yang belum sempat menjadi sebuah cerita
hanya ilusi biasa, sederhana
Aku melihatmu
dibalik sayup yang kudengar sesekali
tapi pada kenyataannya, suara itu tidak pernah ada
Aku melihatmu
dalam satu detik yang terasa berhenti
hanya satu detik, karena detik selanjutnya aku bangun dari mimpi
Aku melihatmu
pada hari dimana kata hampir membuka cerita
tetapi tidak jadi, karena hati lebih senang bersembunyi
Aku melihatmu
dalam rangkaian kata yang sesekali mengusik telinga hati
padahal sebenarnya tidak bermaksud sama sekali
Aku melihatmu
pada senyum yang teranggai berkali-kali
namun bukan terkhusus untukku
Aku melihatmu
Hanya ketika angin berbisik, dan daun terjatuh dengan ikhlas
Hanya ketika Allah menunjukkan mata dan hatiku untuk melihatmu
Kamis, 29 Oktober 2015
Kazoku :)
Kamis, 15 Oktober 2015
Hidup adalah Pilihan
Senin, 22 Juni 2015
Dimana?
Sejatinya aku adalah kepingan mozaik. Hinggap pada tempat yang telah ditentukan. Berjalan bersama waktu yang berputar. Sejalan dengan takdirku, dimana nama telah tertuliskan, hidup sudah digariskan.
Tapi, terkadang aku merasa tidak sedang berada dimanapun. Aku merasa diam pada titik yang sama tanpa waktu yang menyeretku. Merasa masih mencari, dan mencoba menemukan dimana hidupku. Dimana aku akan menemukan kejutan itu pada akhirnya.
Padahal, hidup bukanlah misteri. Dimana kau berpijak hari ini, itu hidupmu. Waktu yang kau jalani saat ini, itu hidupmu. Dan peristiwa yang yang kau lewati hari ini, itu juga hidupmu. Semua berjalan selaras dengan apa yang dituliskan pada buku harian takdirmu.
Tinta sudah hampir mengering, bahkan sudah mengering. Hadapi saja yang ada didepan mata, jalani saja yang sedang terasa. Toh hidup bukan sebuah kejutan di akhir, tapi bagaimana makna disetiap detiknya. Hidup sejalan dengan kebahagiaan. Bahagia hadir karena rasa syukur. Maka, bersyukurlah untuk setiap detik yang kau rasakan. Sejauh mana kamu bersyukur, itulah hidupmu.
Selasa, 31 Maret 2015
Pilihan
Tapi hanya dua yang menghampiriku
Bagaikan pilihan menuruni bukit
atau malah mendaki tebing yang tinggi
Pilih yang mana?
Memang, sepertinya jalan turun lebih mudah
dan tidak menghabiskan banyak tenaga
Tapi aku tidak akan mendapatkan apa-apa setelahnya
kecuali pemandangan yang sama dan familiar
Sementara, diatas tebing itu aku bisa melihat semuanya
bahkan awanpun dapat kusentuh, pelangi dapat kugenggam
meskipun tebing itu sangat tinggi
dan butuh waktu yang lama untuk mencapai puncaknya
Itulah.
Tinggal aku yang memilih dan memutuskan
Mudah tapi berakhir biasa saja
Susah tapi berakhir menyenangkan.
Setidaknya ada rasa bahagia karena sebuah perjuangan besar yang telah dilakukan. :)
Kamis, 19 Maret 2015
Ada
Ada pula yang senang pergi lebih jauh lagi dari tempat semula
Ada yang senang menjadi diri sendiri dan hidup mencari jati diri
Ada pula yang lebih senang beranjak dari jati diri dan hidup untuk mendapatkan pujian
Ada yang lebih suka membuat dunia sendiri, tanpa apapun yang mengganggu
Ada pula yang lebih suka mengganggu kehidupan orang lain hingga lupa akan dunianya sendiri
Ada yang lebih bangga percaya pada diri sendiri dan melakukan apa yang membuat hatinya bahagia
Ada pula yang lebih bangga membuat rumor buruk tentang orang lain demi membuat hatinya bahagia
Ada yang senang melakukan apa saja yang dapat membuat ia merasa nyaman dan lega tanpa melibatkan siapapun
Ada pula yang lebih senang merasa nyaman dan bahagia karena melihat orang lain terluka
Ada yang hidup sendirian, tapi menyenangkan
Ada pula yang hidup bersama-sama tapi saling merugikan
Ada yang senang membagikan kebahagiaan yang ia miliki agar orang lain merasakan hal yang sama
Ada yang senang menyembunyikan luka dan berusaha terlihat bahagia
Ada pula yang lebih senang merenggut kebahagiaan orang lain, lalu ia membuat kebahagiaan itu sendiri
Ada.
Bermacam-macam warna seperti pelangi, ada disetiap sudut hati manusia.
Ada yang sama. ada yang berbeda.
Ada yang bertolak belakang. ada pula yang sejalan.
Hidup seperti siklus.
Seperti angin waktu menyeret.
Bak perubah rona.
Bagai magnet dari dua kutub hati.
Seperti segala takdir yang berpasangan.
Hidup.
Selasa, 24 Februari 2015
Musim Gugur...
Ada kondisi dimana aku sulit melewatinya, tapi aku berusaha.
Ada rasa tak bisa aku mengajak daun-daunku berubah, padahal aku sangat menginginkannya.
Ada pikiran ingin menyerah saja.
Tapi angin menyadarkanku.
Ia menjanjikan daun-daunku akan menjadi luar biasa indah kelak, ketika aku terus mencoba menjadi setiap musim yang kuhadapi.
Ketika aku mampu belajar beradaptasi pada kondisi dan situasi baru yang muncul tenggelam dihadapanku.
Ketika aku berjuang sekuat tenaga, meski harus dengan jatuh dan bangun, itu tidak apa-apa.
Seperti sebuah siklus. Ada fase-fase yang mesti kulewati dengan sabar dan kuat setiap harinya, ketika setiap musim berganti dan merubah daun-daunku.
Serpihan
Terbang bersama angin menjelajahi waktu yang membawanya pergi
Lalu hinggap pada jalan berliku dan melekat diatasnya
Hingga kini, pecahan itu tetap terpisah
Kemudian ada saat dimana angin bertiup kembali
menghempaskan sayup kata melalui udara yang lembut, terkadang juga kasar
Ia membawa serpihan-serpihan berhijrah dari tempat semula ke tempat yang baru, melekat, dan singgah,
bahkan tinggal. Tapi tak sedikit yang kembali
Diantara yang kembali itu disebut kenangan
Ia lebih suka berjibaku dibalik tempat yang sama dengan sebelumnya
bergelut memutar cerita juga kata, tak lupa sebuah rona, padahal sedikit enggan
Akan teringat begitu saja, karena yang kembali, sesungguhnya tidak pernah pergi,
Bahkan mungkin yang lain pun tidak benar-benar pergi, hanya belum sempat angin membawanya kembali.
Kamis, 12 Februari 2015
Kini aku tidak melihatmu lagi
dalam bayang yang tak sempat menjadi sebuah cerita
hanya ilusi biasa, sederhana
Aku melihatmu
dibalik sayup yang kudengar sesekali
tapi pada kenyataannya, suara itu tidak pernah ada
Aku melihatmu
pada hari dimana kata hampir membuka cerita
tetapi tidak jadi, karena kini semua pergi
Kini aku tidak melihatmu lagi
baik dalam bayang semu maupun dibalik sayup intuisi
kamu tidak disana sejak hari itu
dimana aku tersenyum
setengah terkejut dan kecewa, tapi sedikit lega
dimana aku seperti sedang berjalan
lalu tersandung dan tersungkur jatuh, kemudian bangkit dan tidak apa-apa
Ya, tidak apa apa.
Sedikit luka dari kata yang terbaca olehku
Sedikit kecewa dari nama yang kini terpatri dalam hatimu, dan aku melihatnya
Sedikit saja, hanya sedikit.
Juga sedikit lega untuk "kalian".
Untuk kamu yang telah berhasil menemukannya.
Aku percaya, Allah memberikan yang terbaik untuk seseorang yang juga baik, sepertimu.
Selamat, ya.

















