Minggu, 04 Januari 2015
Sabtu, 03 Januari 2015
SemangArt
Mozaik Ketiga (Fujisawa)
Fujisawa. Ini adalah nama samaran. Dia adalah salah satu
teman sekelasku ketika SMP kelas tujuh. Kami berdua sama-sama pendiam dan tidak
pernah mengobrol atau apa. Tidak akrab sama sekali. Tetapi aku pernah .....
padanya. Sejak kapan? Sejak kami satu kelas. Cerita lama. Lupakan.
Suatu hari saat masih kelas tujuh itu, ada seseorang yang
meng-SMS ku. Orang itu mengaku-ngaku sebagai fujisawa. Tentu saja aku merasa
senang. Akhirnya orang yang tidak pernah menyapaku sedikitpun bisa menyapaku
kali ini, meski hanya lewat sebuah pesan. Beberapa hari, aku bertukar pesan
dengan seseorangyang kuanggap Fujisawa tersebut dan aku percaya bahwa dia itu
memang fujisawa. Tapi beberapa hari berikutnya aku mulai curiga. Karena
fujisawa dengan kata-katanya di SMS sangat berbeda dengan fujisawa yang
terlihat pada kenyataannya (di kelas). Dia tidak pernah melihatku sedikitpun.
Pernah sekali aku menyapanya saat sepulang sekolah. Tapi respon cuek yang
kudapatkan. Seperti tidak pernah mengobrol denganku sebelumnya. Aku mulai tidak
percaya. Akhirnya aku memaksa pada sosok dibalik SMS itu untuk mengaku siapa
dia sebenarnya. Dugaanku benar. Dia bukan fujisawa. Dia adalah Kitano (nama
samaran) teman sekelasku yang lain. Tidak begitu baik perasaanku setelah tahu
hal itu. Entahlah.
Enam tahun berlalu. Kami sudah lulus SMA sekarang.
Orang-orang sibuk dengan hidupnya masing-masing, ada yang kuliah, bekerja,
bahkan yang sudah menikahpun ada (kebanyakan teman perempuanku semasa SD/SMP).
Sepanjang tahun itu aku sudah melihat beberapa teman SMPku di media sosial.
Tapi hanya beberapa yang saling berkirim pesan, menyapa, atau sekedar bertanya
kabar dan seterusnya. Yang lainnya, aku hanya melihat mereka dalam
status-status mereka yang melintas diberandaku. Termasuk fujisawa, yang tidak
pernah berkirim pesan denganku, hanya sesekali saling melike, mengkomentar,
atau mengucapkan selamat ulang tahun di wall kita satu sama lain.
Senin, 29 Desember 2014 (22:00)
Malam itu aku tidak bisa tidur. Padahal ini sudah cukup larut. Aku memutukan untuk online sehingga mataku bisa cepat tertidur. Ada beberapa teman yang aktif saat itu. Termasuk fujisawa. Iseng aku memulai percakapan.
Malam itu aku tidak bisa tidur. Padahal ini sudah cukup larut. Aku memutukan untuk online sehingga mataku bisa cepat tertidur. Ada beberapa teman yang aktif saat itu. Termasuk fujisawa. Iseng aku memulai percakapan.
“Fujisawa... jam berapa disana sekarang?”
“jam 02.00 dini hari sal..”
“wah.... berarti kamu bergadang ya”
“iya mumpung libur, kamu sendiri belum tidur?"
“iya, belum ngantuk.”
Dan seterusnya hingga percakapan itu merupakan percakapan
terpanjang yang pernah kita lakukan selama enam tahun terakhir. Iya, karena itu
pertama kalinya bisa mengobrol selama itu dan begitu banyak topik sudah kami
bahas. Ajaib.
Didalam percakapan itu aku bercerita semuanya. Tentang si
pengirim SMS misterius yang mengaku-ngaku sebagai dirinya beberapa tahun lalu.
Sudah lama ingin aku ceritakan padanya, tapi aku begitu ragu. Lalu, tentang aku
yang tahu kini ia berada di Luar Negeri. Selain aku tahu dari status-status
fb-nya, aku juga tahu informasi itu dari
Mozaik Pertama (Sulton Max)
Hmm. Pernahkah kalian melihat, mendengarkan atau merasakan
sesuatu yang sebelumnya pernah kalian lihat, dengar dan rasakan? Misalnya
kejadian di masa lalu, lalu terjadi lagi hari ini. Seperti mozaik hidup kalian yang
hilang lalu kembali lagi melengkapi ratusan pecahan mozaik lainnya dalam memori
yang tersimpan sejak lama. Aku menyimpan beberapa peristiwa dan ingatan yang
terjadi sebagai potongan-potongan kecil dari hidupku. Seperti sebuah kejutan
yang manis dan membahagiakan.
Sulton Max. Artis cilik favoriteku semasa kecil. Sejak
kemunculannya dalam serial tv ratu malu dan jendral kancil, aku diam-diam
menyukainya hehe walaupun pada saat itu aku masih duduk dibangku SD.
Karakternya selalu yang baik-baik dan mengagumkan menurutku. Juga pada masanya,
iklan wafer superstar yang dibintangi olehnya pun menjadi favoriteku haha.
Suatu hari aku meminjam majalah bobo milik saudaraku. Eh, ternyata dibagian
profil terdapat biodatanya, Sulton Max a.k.a Sulton Mohamad. Karena suka,
akhirnya aku lihat bahkan sampai dihafalkan tanggal lahir, beserta makanan
favoritenya yaitu nasi lemak/nasi kebuli. Oh iya, dia lahir di mekkah dan masih
keturunan arab. Pantas saja makanan kesukaannya ala timur tengah ya :p
Waktu berlalu, bertahun-tahun tak terasa. Begitu banyak
artis baru muncul tenggelam berlalu lalang dilayar televisi. Sampai-sampai aku
baru menyadari “sulton max” si artis cilik favoritku semasa kecil menghilang
dari layar kaca. Karena aku sering bermain media sosial, akhirrnya aku
penasaran dan mencoba mencari nama dia “Sulton Max” Dan ternyata benar-benar
ada. Awalnya aku tak percaya. Tapi pada akhirnya aku bahkan sempat chatting.
Dia ramah menurutku. Karena setiap orang yang mungkin dulu fansnya ia jawab
dengan sopan meski terkadang terlihat kocak. Hehe. Jika ingin tahu lebih lanjut
bagaimana ia sekarang, ini dia linknya sudah kubuat
Terbukti, sulton max merupakan mozaik di masa silam yang
kini kutemukan lagi dan terasa sedikit lebih nyata dari dahulu yang hanya bisa
kulihat di televisi :D
Senin, 29 Desember 2014
Senin, 15 Desember 2014
Dunia
Bagaimana bisa kita disuguhkan
dengan begitu banyak kepalsuan. Kata dan warna yang tak sesungguhnya melekat
disana, menjadi pemandangan pahit yang harus kunikmati. Sampai mereka begitu terlena dan terpesona.
Ah, andai, satu saja disekeliling
mereka, hal kecil seperti........... dinding tempat mereka melihat suasana itu
berkata, “Tempat ini bukan keaslian yang sebenarnya, ini dua, tiga bahkan
ribuan dunia yang berbaur menjadi satu, namun dengan bagaimana caranya dapat
terlihat begitu samar, bahkan sama sekali tak terlihat. Ini bukan dia, tapi
sebagian dari mereka yang tak kalian ketahui”.
Tapi ia mengaku bahwa ia adalah ia. Pengakuan yang kontras dengan tumpukan
rahasia dibaliknya.
Tapi kebanyakan dari kita terlalu menutup mata dan telinga, lebih senang pura-pura tak melihat,
lebih suka merasa ini menyenangkan ketimbang sebuah kenyataan bahwa ini pahit.
Ya, memang, terkadang dunia ini begitu naif, naif tapi sesungguhnya ia tau, ia
melihat, ia merasakan. Hanya tak ingin terlihat begitu berbeda, maka mereka
melakukan hal yang sama, hal yang disukai banyak orang, hal yang membuat mereka
terlihat begitu agung, termasuk tempat ini.
Tetaplah memeluk mimpi-mimpiku
Aku tidak pernah menyangka bisa berjalan sejauh ini. Ah, kurasa ini tidak terlalu jauh, hanya berada sedikit lebih jauh dari garis start. Maha Baik Allah, telah menggulirkan hidupku sebagaimana mestinya. Memberikan kesempatan demi kesempatan yang begitu membuatku menemukan segalanya. Aku bisa melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Tanpa harus kucari hingga titik darah penghabisan. Aku bisa mengenal ribuan arti dari banyak hal. Belajar mengenal segalanya.
Terima kasih Allah, tetaplah bersamaku, memelukku serta mimpi-mimpiku. Agar aku selalu bisa berjalan pada jalan yang telah engkau sediakan.Aamiin
Terima kasih Allah, tetaplah bersamaku, memelukku serta mimpi-mimpiku. Agar aku selalu bisa berjalan pada jalan yang telah engkau sediakan.Aamiin
Aku melihatnya sekali lagi.
Aku melihatnya sekali lagi.
Dengan kesempatan yang belum kusadari sepenuhnya.
Padahal, kebaikan ada didepanku, kemarin, atau saat ini sama
saja. Hanya perlu kusadari tanpa harus pergi pura-pura tak mengerti.
Melihatnya membuatku belajar menemukan hal-hal terbaik yang
memang seharusnya kulakukan.
Hanya dengan melihatnya membuatku sadar, kembali adalah
jalan paling terbaik.
Andai saja aku bisa melihatnya seumur hidupku.
Tapi diberikan
kesempatan seperti ini saja sudah bersyukur.
Jangan menawar, berdoalah untuk
mendapatkan yang paling baik, lebih baik, hingga terbaik.
Semoga dengan melihatnya aku bisa lebih dekat dengan-Nya.
Mungkin seharusnya terbalik, baiklah, aku akan memulainya, InsyaAllah.
Sabtu, 13 Desember 2014
Seperti Daur Ulang.
Dan kamu, pelukis cerita yang tak kunjung henti.
Menjadi bagian dari siklus datang dan pergi.
Sementara aku? kepingan mozaik yang hilang.
Sederet memori kini tak lagi terpasang rapi bak puzzle saling melengkapi.
Tapi hilang sebagian, bahkan kacau.
Aku tak menyesalinya.
Semua seperti daur ulang.
Waktu berlalu kemudian kembali.
Menukar hal yang sama dan mengisi bagian yang rumpang.
Waktu begitu bahagia mengulur, dan dunia tak sabar menanti.
Hingga saatnya mereka mempertemukanku dengan hari dimana
kata terbaca tanpa samar, angan terbayar kenyataan, dan perjuangan terbalas nilai sebuah kebahagiaan.
Sabar itu sulit, tapi berbuah manis.
Menjadi bagian dari siklus datang dan pergi.
Sementara aku? kepingan mozaik yang hilang.
Sederet memori kini tak lagi terpasang rapi bak puzzle saling melengkapi.
Tapi hilang sebagian, bahkan kacau.
Aku tak menyesalinya.
Semua seperti daur ulang.
Waktu berlalu kemudian kembali.
Menukar hal yang sama dan mengisi bagian yang rumpang.
Waktu begitu bahagia mengulur, dan dunia tak sabar menanti.
Hingga saatnya mereka mempertemukanku dengan hari dimana
kata terbaca tanpa samar, angan terbayar kenyataan, dan perjuangan terbalas nilai sebuah kebahagiaan.
Sabar itu sulit, tapi berbuah manis.
Rabu, 10 Desember 2014
Ikhwan - Akhwat - Ta'aruf Oleh Ustadz Felix Siauw
(Repost from : Ustadz Felix Siauw)
02. "dlm Islam khalwat (dua2an tanpa mahram) tu gak boleh, krn kata Rasul yg ketiganya setan" (makanya jgn deket2 org pacaran, dikira setan)
03. dia nanya lg "kl nelp2 aja, kan gak khalwat toh mas?" >> sy jwb "sama aja, berdua2an di dunia maya, sayang2an, terbuai2an, pliss deh!"
04. dia gak puas "kl ta'aruf disitu ada adiknya yg SD boleh nggak?" >> sy jawab "nggaaaaak! (sambil *jitak) sama aja itu mah"
05. dia tobat lalu nanya "jadi gmn dong mas?" >> sy jwb "datengi ayah ibunya, ngobrol ttg rencanamu mau nikahin anaknya, be a man"
06. eh dia nanya lg "kan ta'aruf sama orangnya bukan bpk/ibuny? >> sy jwb
Selasa, 09 Desember 2014
Percayalah Semua Akan Indah Pada Waktunya :)
Biar kutemukan waktu dimana kata terselip rapi tanpa terutara dengan semena-mena. Dimana rasa bersabar dan membantu mengendalikan suasana. Dimana doa terpanjat lebih baik lagi. Serta harapan terangkai dengan tulusnya tanpa ambisi yang berapi-api.
Biarlah orang-orang yang datang dan pergi silih berganti mencoba membolak-balikan rasa, melempar senyum dan meninggalkan luka. Tetaplah hidup didalam siklus tanpa harus terbuai dan terlena.
Seperti pelangi yang muncul setelah hujan, seperti musim hujan yang hadir sehabis kemarau panjang, seperti mentari bersinar setelah gulita hilang, percayalah semua akan indah pada waktunya :)
Kutipan by Setia Furqon Kholid
Katakan yang benar walau pahit.
Lakukan yang benar walau berat.
Jauhi maksiat walau terlihat indah.
Jauhi dosa walau terkesan baik.
Lakukan yang benar walau berat.
Jauhi maksiat walau terlihat indah.
Jauhi dosa walau terkesan baik.
Dosa itu yang membuatmu gelisah.
Iman itu yang membuat dirimu yakin.
Tanyalah pada hari nuranimu.
Iman itu yang membuat dirimu yakin.
Tanyalah pada hari nuranimu.
Moga kita selalu istiqomah di jalan kebenaran.
Aamiin
Aamiin
Senin, 08 Desember 2014
Kutipan Novel Edensor Karya Andrea Hirata
"Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecah misteri dengan sains".
"Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka".
"Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan".
"Aku ingin ketempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan bintang gemintang".
"Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkram dingin.
"Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penakhlukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!"
Langganan:
Postingan (Atom)




.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)






