Senin, 13 Oktober 2014
Bersyukur
Bersyukur untuk setiap tanda cinta yang kurasakan sejak bangun tidur hingga menjelang tidur lagi, begitulah seterusnya.
Terima kasih.
Untuk napas, untuk nyawa, untuk indera, untuk rasa syukur dan semua tanda cinta yang telah Kau berikan kepadaku, kepada kami.
Bersyukur untuk jiwa yang masih bisa dijaga dan dipelihara agar senantiasa berbuat segala hal yang Kau ridhoi.
Bersyukur untuk setiap kesempatan yang masih termiliki agar dapat memperbaiki begitu banyak kesalahan disetiap detik.
Dan masih banyak lagi.
Begitu sulit untuk menginprestasikan untaian rasa syukur yang tak terhingga.
Entah bagaimana caranya, kuharap dengan berusaha melakukan yang terbaik dan hanya semata-mata karenaMu adalah hal yang sudah bisa kulakukan untuk membalas semuanya. Tapi kurasa, tak pernah cukup.
Jumat, 10 Oktober 2014
Quote By Asma Nadia
Maafkan
JIka senyumku tersembunyi
Di balik air mata
Dan kata-kata mesra
menjadi tanpa daya
Karena terperangkap
dalam prasangka
Tapi Tuhan tahu
Cinta yang kupunya
Lebih berwarna
Dari yang kau kira...
JIka senyumku tersembunyi
Di balik air mata
Dan kata-kata mesra
menjadi tanpa daya
Karena terperangkap
dalam prasangka
Tapi Tuhan tahu
Cinta yang kupunya
Lebih berwarna
Dari yang kau kira...
-Asma Nadia
Engkau yang sedang dalam penantian
Engkau yang sedang dalam penantian
by Setia Furqon Kholid
Engkau yang sedang dalam penantian
Jangan putus berharap,
Jangan bosan berdo'a,
Jangan lelah berusaha.
Karena jodohmu telah tertulis di lauh mahfudz. Namun kaulah yang mesti menjemputnya.
Do'akan ia di sujud malammu.
Jemput ia dengan ketaatan pada Tuhanmu.
Pinang dirinya dengan keyakinan total akan Rabbmu.
Seringkali, pertolongan Allah hadir saat niat lurus, usaha jalan terus, insyaAllah prosesnya begitu mulus.
Setiap Pertemuan Selalu Ada Perpisahan, bukan?
Sayup kudengar angin berbisik dibalik jendela itu. Tak pernah terlihat lagi olehku keadaan dimana mereka membicarakanmu. Ketika katanya kau yang selalu pulang bersama lagu dalam saku kemejamu dan bernyanyi saat larut malam. Itu yang selalu kau lakukan bukan? Lalu saat sabit menemanimu, ia menjadi inspirasi terbesar untuk untaian syair yang tersembunyi dibalik lagumu. Bukan begitu?
Ratusan lembar hari telah berlalu begitu saja, waktu tergesa membuat semuanya tak terasa. Sama sekali. Ratusan lembar cerita pula telah tertulis, dimana kanvas hati tak pernah lelah melukis kala itu. Tapi kini, giliran tong sampah memori masa lalu yang menyimpannya.
Begitu banyak detik yang yang terlewati dengan melakukan hal-hal seperti menunggu, pertemuan, berbagi cerita, menulis, bernyanyi, dan masih banyak lagi. Di antara ribuan detik itu pula kau datang, dan pergi untuk beberapa lama. Lalu datang, dan pergi. Begitu seterusnya hingga kau benar-benar pergi. Pergi hingga saat ini.
Aku ingat, dimana merpati putih pengantar surat, mengantarkan secarik surat untukku. Darimu. Didalam surat itu tertulis permintaan maaf dan sebuah kata penyesalan. Tapi berujung selamat tinggal. Pahit, setelah sekian lama sang merpati tak kembali, lalu ketika ia datang, bukan kabar gembira yang dibawanya. Melainkan, puluhan kata yang awalnya penuh haru, namun berakhir dengan rasa sakit.
Bukankah selalu ada perpisahan setelah pertemuan? Ya.
Seperti cerita yang ditulis pengarang sebuah novel, aku sudah menamatkan satu buku.
Seperti penyair yang menulis lagu, aku telah bernyanyi puluhan lagu lawas yang kerap kali diputar.
Seperti seniman yang sedang membuat lukisan, aku telah melihat sebuah lukisan yang terpajang di museum dan usang.
Seperti musim kemarau yang akan segera tiba.
Seperti janji mentari bertemu bintang.
Tak pernah. Tak pernah lagi ada.
Dan terjadi.
Maaf untuk setiap keadaan yang tidak kalian sukai
Maaf untuk setiap keadaan yang tidak kalian sukai. Untuk noda pada warna yang tak sengaja tertumpah begitu saja. Maaf telah merusak harimu yang menyenangkan. Aku tidak pernah bermaksud, justru ingin kalian tetap gembira, dengan suasana yang kita ciptakan bersama. Dengan ide yang selalu berusaha kucari, dan kalian bagi.
Bukan ingin menghancurkan, tapi aku khawatir jika kalian terus bermain sehingga melupakan kewajiban kalian. Aku ingin kita belajar sambil bermain. Bukan sebaliknya.
Tetap semangat, mari kita seimbangkan, kalian dengan pelangi, dan kita dengan ilmu.
Kamis, 09 Oktober 2014
Semangat Menjemput Kebaikan
Semangat Menjemput Kebaikan
Oleh : Setia Furqon Kholid
Setiap
hari Allah menyediakan berbagai jalan menuju kebaikan untuk kita.
karena itu jemputlah kebaikan dan rejeki yang telah Allah rencanakan
untuk kita.
Allah lebih suka hambaNya yang berusaha maksimal daripada hamba yang menunggu rejeki itu datang sendiri padanya dengan meminta-minta.
Bagaimana caranya menjemput kebaikan itu?
Mulailah hari dengan bangundi sepertiga malam untuk menitipkan diri pada Ilahi.
Kemudian keluarlah di pagi hari dengan keyakinan bahwa Allah telah menyediakan rejeki untuk kita. perlancar dengan do’a dan sedekah.
Allah lebih suka hambaNya yang berusaha maksimal daripada hamba yang menunggu rejeki itu datang sendiri padanya dengan meminta-minta.
Bagaimana caranya menjemput kebaikan itu?
Mulailah hari dengan bangundi sepertiga malam untuk menitipkan diri pada Ilahi.
Kemudian keluarlah di pagi hari dengan keyakinan bahwa Allah telah menyediakan rejeki untuk kita. perlancar dengan do’a dan sedekah.
Hey you! Yes you. You are Cute :3
Oh So Happy.
Walaupun hari ini sedikit melelahkan, menyebalkan, muram, suram, tapi akhirnya terobati oleh hal yang satu ini..
Phi Zam a.k.a Suppakorn Chaiyo
<3 <3 <3
And one of his favorite song :
I Live My Life For You By Firehouse
this is the lyric
"I Live My Life For You"
You know you're everything to me and I could never see
The two of us apart
And you know I give myself to you and no matter what you do
I promise you my heart
I've built my world around you and I want you to know
I need you like I've never needed anyone before
[Chorus:]
I live my life for you
You know you're everything to me and I could never see
The two of us apart
And you know I give myself to you and no matter what you do
I promise you my heart
I've built my world around you and I want you to know
I need you like I've never needed anyone before
[Chorus:]
I live my life for you
Rabu, 08 Oktober 2014
Cintailah Orang yang MencintaiNya
Cintailah Orang yang MencintaiNya
by Setia Furqon Kholid
Cinta
pada Allah akan semakin tumbuh besar jika kita mencintai orang yang
mengenal Allah dengan baik sehingga ketika kita kurang mengenalNya dia
akan dengan senang hati mengenalkan Allah kepada kita. Dan ketika kita
mulai lupa padaNya dia akan dengan setulus hati mengingatkan kita untuk
kembali padaNya.
Subhanallah, betapa indah pernikahan yang dijalani dengan orang yang
Subhanallah, betapa indah pernikahan yang dijalani dengan orang yang
Gerhana Bulan
"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda
kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang
atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah
kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah" (HR
Bukhari)
Keep Coloring my day!
![]() |
| Like Yall :) |
Ah terima kasih, pelepas penat.
Rasa lelah kini tak terasa karena kalian.
Bahagia karena melihat kalian bahagia.
Tenang saja, aku akan selalu berusaha membuat hari kalian
menyenangkan.
![]() |
| Sweet as Jelly Bear :3 |
Jangan pernah menyerah.
Tetap belajar bersama dan saling mendoakan.
Juga pertahankan pelangi ini!
Keep Learning
Keep Coloring my day!
Selasa, 07 Oktober 2014
Mahkota Cinta oleh Habiburrahman El Shirazy (Bag.VIII)
Zul mondar-mandir di ruang tamu. Penghuni flat itu
semua telah tidur. Namun Zul tidak bisa tidur. Malam
itu setelah kejadian di rumah Mari, Zul selalu terbayang
wajah Mari. Ia kembali merasakan apa yang dulu pernah
ia rasakan saat remaja. Sejak pertama bertemu dengan
Mari, ia sebetulnya telah terpikat oleh kehalusan tutur
katanya. Juga perhatian, kepekaan dan jiwa sosialnya.
Namun itu semua tidak berpengaruh apa-apa dalam
hatinya. Mari masih ia anggap sebagai perempuan biasa yang
ia kenal di jalan. Tapi setelah kejadian siang itu.
Setelah apa yang ia alami, ia lihat dan ia ketahui rasa
sayangnya pada Mari merasuk begitu saja ke dalam
hatinya. Rasa sayang yang lebih dari biasa.
Bahwa Mari begitu teguh menjaga kesuciannya
itulah yang paling membekas di dalam hatinya. Ia sudah
banyak mendengar cerita tentang tenaga kerja wanita
Indonesia di Malaysia yang tidak lagi menjaga kehormatannya.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa tidak
sedikit tenaga kerja wanita yang bekerja di kilangkilang12
juga berprofesi menjajakan tubuhnya selepas
bekerja. Tapi Mari tetap menjaga kehormatan dan
kesuciannya. Dengan label janda yang dilekatkan pada
dirinya, dan parasnya yang tidak bisa dikatakan jelek,
tentulah itu perjuangan yang luar biasa. Ia sangat yakin,
bahkan haqqul yakin, kalau Mari tidaklah berkata dusta.
Dalam kondisi shock seperti itu kejujuranlah yang lazim
keluar dari diri anak manusia. Ia merasa Mari adalah
perempuan yang berkarakter, dan sanggup menjadi
perempuan yang luar biasa. Itulah yang membuat
hatinya condong pada Mari.
Ia bingung harus berbuat apa? Ia sudah dewasa. Dan
Mari juga sudah dewasa. Tidak mungkin lagi ia hanya
mengutarakan bahwa hatinya condong pada Mari.
Mengutarakan itu artinya siap berumah tangga. Ia sudah
tahu hukum bermain hati pada perempuan yang tidak
halal dari Yahya. Itu dosa.
"Hati pun, kata Nabi, bisa berzina." Kata-kata Yahya
itu seolah berdengung-dengung dalam pikirannya.
Tapi bayangan Mari, juga suaranya, seolah terus
menghampirinya. Sempat terbersit dalam pikirannya
untuk berterus terang pada Mari dan mengajaknya
menikah. Lalu hidup sederhana apa adanya di Kuala
Lumpur sambil kuliah. Toh, banyak mahasiswa yang
berkeluarga dan hidup apa adanya di Kuala Lumpur.
Tapi tiba-tiba ada semacam keraguan dalam hatinya.
Ia kuatir jika ia menikah akhirnya kuliahnya tidak selesai.
Ia jadi sibuk memikirkan hidup keluarga. Apalagi kalau
nanti punya anak. Ia bisa hidup nekat. Makan sehari pun
bisa, tapi anak yang masih bayi apa bisa? Sementara ia
masih hidup sangat pas-pasan untuk makan, membayar
sewa aparteman dan kuliah. Padahal jika berkeluarga
ialah yang harus menanggung sepenuhnya sewa
rumahnya. Sekarang ia yang menyewa bersama
temantemannya
saja, masih terasa berat membayarnya.
Hutangnya pada Pak Muslim untuk membeli sepeda
motor juga belum lunas.
Ia sempat berpikir bahwa Mari juga bekerja dan bisa
meringankan beban. Ia langsung menjawab sendiri
bahwa tugas memberi nafkah adalah tugas suami. Andai
pun Mari bekerja ia tidak tahu berapa gajinya. Ia juga
tidak tahu sanggupkah Mari tetap bekerja jika misalnya
hamil. Ia sampai sudah begitu jauhnya memikirkan jika
Mari hamil segala. Ia menegaskan pada dirinya jika ia
menikahi Mari ia tidak bisa menggantungkan nasibnya
pada Mari. Alangkah jahatnya dia jika menikahi Mari
karena merasa aman, sebab Mari juga bekerja. Apakah
itu namanya bukan eksploitasi? Mari nanti bekerja.
Mengerjakan pekerjaan rumah tangga lazimnya
perempuan di Indonesia. Mengurus anak. Jika itu yang
terjadi ia merasa tidak menjadi seorang suami yang
benar.
Ia juga sempatberpikir untuk mengajak Mari pulang
ke Indonesia dan hidup apa adanya di Indonesia. Buat
apa hidup lama-lama di negeri orang. Tapi akal logikanya
seolah mencercanya habis-habisan: "Buat apa susah
payah datang ke negeri orang? Katanya mau mengubah
takdir? Menyiapkan masa depan yang gemilang? Kalau
kau pulang hanya dengan berhasil menikahi perempuan
seperti Mari, tidak harus jauh-jauh ke Malaysia. Tidak
harus berdarah-darah melewati
semua telah tidur. Namun Zul tidak bisa tidur. Malam
itu setelah kejadian di rumah Mari, Zul selalu terbayang
wajah Mari. Ia kembali merasakan apa yang dulu pernah
ia rasakan saat remaja. Sejak pertama bertemu dengan
Mari, ia sebetulnya telah terpikat oleh kehalusan tutur
katanya. Juga perhatian, kepekaan dan jiwa sosialnya.
Namun itu semua tidak berpengaruh apa-apa dalam
hatinya. Mari masih ia anggap sebagai perempuan biasa yang
ia kenal di jalan. Tapi setelah kejadian siang itu.
Setelah apa yang ia alami, ia lihat dan ia ketahui rasa
sayangnya pada Mari merasuk begitu saja ke dalam
hatinya. Rasa sayang yang lebih dari biasa.
Bahwa Mari begitu teguh menjaga kesuciannya
itulah yang paling membekas di dalam hatinya. Ia sudah
banyak mendengar cerita tentang tenaga kerja wanita
Indonesia di Malaysia yang tidak lagi menjaga kehormatannya.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa tidak
sedikit tenaga kerja wanita yang bekerja di kilangkilang12
juga berprofesi menjajakan tubuhnya selepas
bekerja. Tapi Mari tetap menjaga kehormatan dan
kesuciannya. Dengan label janda yang dilekatkan pada
dirinya, dan parasnya yang tidak bisa dikatakan jelek,
tentulah itu perjuangan yang luar biasa. Ia sangat yakin,
bahkan haqqul yakin, kalau Mari tidaklah berkata dusta.
Dalam kondisi shock seperti itu kejujuranlah yang lazim
keluar dari diri anak manusia. Ia merasa Mari adalah
perempuan yang berkarakter, dan sanggup menjadi
perempuan yang luar biasa. Itulah yang membuat
hatinya condong pada Mari.
Ia bingung harus berbuat apa? Ia sudah dewasa. Dan
Mari juga sudah dewasa. Tidak mungkin lagi ia hanya
mengutarakan bahwa hatinya condong pada Mari.
Mengutarakan itu artinya siap berumah tangga. Ia sudah
tahu hukum bermain hati pada perempuan yang tidak
halal dari Yahya. Itu dosa.
"Hati pun, kata Nabi, bisa berzina." Kata-kata Yahya
itu seolah berdengung-dengung dalam pikirannya.
Tapi bayangan Mari, juga suaranya, seolah terus
menghampirinya. Sempat terbersit dalam pikirannya
untuk berterus terang pada Mari dan mengajaknya
menikah. Lalu hidup sederhana apa adanya di Kuala
Lumpur sambil kuliah. Toh, banyak mahasiswa yang
berkeluarga dan hidup apa adanya di Kuala Lumpur.
Tapi tiba-tiba ada semacam keraguan dalam hatinya.
Ia kuatir jika ia menikah akhirnya kuliahnya tidak selesai.
Ia jadi sibuk memikirkan hidup keluarga. Apalagi kalau
nanti punya anak. Ia bisa hidup nekat. Makan sehari pun
bisa, tapi anak yang masih bayi apa bisa? Sementara ia
masih hidup sangat pas-pasan untuk makan, membayar
sewa aparteman dan kuliah. Padahal jika berkeluarga
ialah yang harus menanggung sepenuhnya sewa
rumahnya. Sekarang ia yang menyewa bersama
temantemannya
saja, masih terasa berat membayarnya.
Hutangnya pada Pak Muslim untuk membeli sepeda
motor juga belum lunas.
Ia sempat berpikir bahwa Mari juga bekerja dan bisa
meringankan beban. Ia langsung menjawab sendiri
bahwa tugas memberi nafkah adalah tugas suami. Andai
pun Mari bekerja ia tidak tahu berapa gajinya. Ia juga
tidak tahu sanggupkah Mari tetap bekerja jika misalnya
hamil. Ia sampai sudah begitu jauhnya memikirkan jika
Mari hamil segala. Ia menegaskan pada dirinya jika ia
menikahi Mari ia tidak bisa menggantungkan nasibnya
pada Mari. Alangkah jahatnya dia jika menikahi Mari
karena merasa aman, sebab Mari juga bekerja. Apakah
itu namanya bukan eksploitasi? Mari nanti bekerja.
Mengerjakan pekerjaan rumah tangga lazimnya
perempuan di Indonesia. Mengurus anak. Jika itu yang
terjadi ia merasa tidak menjadi seorang suami yang
benar.
Ia juga sempatberpikir untuk mengajak Mari pulang
ke Indonesia dan hidup apa adanya di Indonesia. Buat
apa hidup lama-lama di negeri orang. Tapi akal logikanya
seolah mencercanya habis-habisan: "Buat apa susah
payah datang ke negeri orang? Katanya mau mengubah
takdir? Menyiapkan masa depan yang gemilang? Kalau
kau pulang hanya dengan berhasil menikahi perempuan
seperti Mari, tidak harus jauh-jauh ke Malaysia. Tidak
harus berdarah-darah melewati
Quotes 99 Cahaya di Langit Eropa
“Wahai anakku! dunia ini bagaikan samudera tempat banyak
ciptaan-ciptaaNya yg tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dg menyebut
nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang
menyelamatkanmu. kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai
pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nakhoda perjalannanmu dan
sabar sebagai jangkar dlm setiap badai dan cobaan (Ali bin Abi thalib
ra)”
“Ilmu pengetahuan itu pahit pada awalnya, tetapi manis melebihi madu pada akhirnya”
“Esensi sejarah bukanlah hanya siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Lebih dari itu: siapa yang lebih cepat belajar dari kemenangan dan
kekalahan”
“Pergilah, jelajahilah dunia, lihatlah dan carilah kebenaran dan rahasia
- rahasia hidup ; niscaya jalan apa pun yang kaupilih akan
mengantarkanku menuju titik awal”
“Mengalah itu tidak kalah, melainkan menang secara hakiki”
“Tentang kopi kesukaanmu, cappucino, kopi itu bukan dari italia. Aslinya
berasal dari biji-biji kopi Turki yang tertinggal di medan perang di
Kahlenberg. Hanya sebuah info pengetahuan kecil-kecilan.
Assalamu’alaikum” — Fatma, 99 Cahaya di Langit Eropa hal. 50”
Source : goodreads.com
Mahkota Cinta oleh Habiburrahman El Shirazy (Bag.VII)
Zul menarik nafas dalam-dalam. Ia masih memejamkan
kedua matanya sambil menyandarkan punggungnya
ke sofa. Inilah untuk kedua kalinya ia bertarung
dengan penjahat. Dan kali ini ia menang. Ia merasa puas
karena bisa memberi ganjaran setimpal pada penjahat
berkepala gundul itu.
Mari masih berada di dalam kamarnya.
Zul kembali menarik nafas. Tiba-tiba ia merasa ada
yang mengalir di ujung mata kanan turun ke pipi. Ia
raba. Darah. Darah itu mengalir dari pelipisnya yang luka.
Namun ia yakin luka itu tidak parah. Paling hanya
sobek beberapa senti saja. Ia merasa itu hanya luka kecil
yang dalam beberapa hari akan sembuh.
Mari keluar dari kamarnya dengan wajah yang lebih
cerah. Pakaiannya rapi. Blues merah muda lengan
panjang dengan bawahan celana kulot merah marun.
Jika diperhatikan dengan sedikit serius penampilannya
tampak anggun. Ia menggelung rambutnya dengan
sederhana. Sehingga tidak lagi awut-awutan. Tampaknya
ia telah membasuh mukanya, dan telah berusaha
menghapus bekas-bekas tangis dari wajahnya. Meskipun
tidak benar-benar berhasil.
Zul masih memejamkan mata sehingga tidak
menyadari ketika Mari keluar dari kamarnya dan
memandangnya beberapa saat lamanya. Posisi Zul
membelakangi pintu kamar Mari. Sehingga Mari tidak
melihat Zul dari depan. Mari mendekat. Dan ketika
melihat wajah Zul ia kaget.
"Zul, kau luka Zul! Kau berdarah Zul, ya Allah ya
Rabbi!" Ucap Mari setengah berteriak.
Zul mengerjapkan matanya. Dan langsung menyahut,
"Ah tidak apa-apa kok Mbak. Cuma luka kecil saja."
"Tapi darahnya sampai mengalir ke dagu begitu.
Harus segera diusap dan dibersihkan. Sebentar Zul."
Mari kembali ke kamarnya. Ia mengambil kapas dan
obat merah.
"Sini Zul biar aku bersihkan dan aku obati!" Kata
Mari lagi sambil membawa kapas dan obat merah.
"Tidak usah Mbak. Sini kapas dan obat merahnya
biar aku obati sendiri. Sekalian aku mau ke kamar kecil."
Sergah Zul.
Mau tidak mau Mari menyerahkan kapas dan obat
merah pada Zul. Saat itu Mari ingin sekali mengusapkan
dan membersihkan darah orang yang telah
membela kehormatannya. Ia rasanya ingin langsung
membalas segala kebaikan Zul. Mari memandangi Zul
yang melangkah ke kamar kecil dengan pandangan
yang susah untuk diartikan. Pandangan merasa
berhutang budi, sayang, kagum, kasihan, juga cinta.
Zul mengusap lukanya dengan kapas. Lalu membasuh
dengan air. Darah dari lukanya mulai berhenti.
Setelah mengeringkan lukanya itu dengan kapas, ia
mengobatinya dengan obat merah. Setelah itu ia
keluar. Mari menunggunya di sofa. Ia duduk tak jauh
dari Mari.
"Harus bagaimana aku berterima kasih padamu
Zul?" Mari mengawali pembicaraan.
"Tak perlu berterima kasih pada saya Mbak. Saya
hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan.
Itulah kewajiban manusia jika melihat kemungkaran."
Tiba-tiba Mari terisak-isak,
"Kau telah menyelamatkan kehormatanku Zul.
Kalau tadi tidak ada kau, entah apa jadinya diriku saat
ini. Mungkin aku telah bunuh diri Zul!"
"Berterima kasihlah pada Allah Mbak. Allahlah yang
menggerakkan kedua kaki saya untuk bertandang ke
sini pagi ini."
Mari sepertinya tidak mendengar kalimat yang
diucapkan Zul. la menundukkan mata dan
kedua matanya sambil menyandarkan punggungnya
ke sofa. Inilah untuk kedua kalinya ia bertarung
dengan penjahat. Dan kali ini ia menang. Ia merasa puas
karena bisa memberi ganjaran setimpal pada penjahat
berkepala gundul itu.
Mari masih berada di dalam kamarnya.
Zul kembali menarik nafas. Tiba-tiba ia merasa ada
yang mengalir di ujung mata kanan turun ke pipi. Ia
raba. Darah. Darah itu mengalir dari pelipisnya yang luka.
Namun ia yakin luka itu tidak parah. Paling hanya
sobek beberapa senti saja. Ia merasa itu hanya luka kecil
yang dalam beberapa hari akan sembuh.
Mari keluar dari kamarnya dengan wajah yang lebih
cerah. Pakaiannya rapi. Blues merah muda lengan
panjang dengan bawahan celana kulot merah marun.
Jika diperhatikan dengan sedikit serius penampilannya
tampak anggun. Ia menggelung rambutnya dengan
sederhana. Sehingga tidak lagi awut-awutan. Tampaknya
ia telah membasuh mukanya, dan telah berusaha
menghapus bekas-bekas tangis dari wajahnya. Meskipun
tidak benar-benar berhasil.
Zul masih memejamkan mata sehingga tidak
menyadari ketika Mari keluar dari kamarnya dan
memandangnya beberapa saat lamanya. Posisi Zul
membelakangi pintu kamar Mari. Sehingga Mari tidak
melihat Zul dari depan. Mari mendekat. Dan ketika
melihat wajah Zul ia kaget.
"Zul, kau luka Zul! Kau berdarah Zul, ya Allah ya
Rabbi!" Ucap Mari setengah berteriak.
Zul mengerjapkan matanya. Dan langsung menyahut,
"Ah tidak apa-apa kok Mbak. Cuma luka kecil saja."
"Tapi darahnya sampai mengalir ke dagu begitu.
Harus segera diusap dan dibersihkan. Sebentar Zul."
Mari kembali ke kamarnya. Ia mengambil kapas dan
obat merah.
"Sini Zul biar aku bersihkan dan aku obati!" Kata
Mari lagi sambil membawa kapas dan obat merah.
"Tidak usah Mbak. Sini kapas dan obat merahnya
biar aku obati sendiri. Sekalian aku mau ke kamar kecil."
Sergah Zul.
Mau tidak mau Mari menyerahkan kapas dan obat
merah pada Zul. Saat itu Mari ingin sekali mengusapkan
dan membersihkan darah orang yang telah
membela kehormatannya. Ia rasanya ingin langsung
membalas segala kebaikan Zul. Mari memandangi Zul
yang melangkah ke kamar kecil dengan pandangan
yang susah untuk diartikan. Pandangan merasa
berhutang budi, sayang, kagum, kasihan, juga cinta.
Zul mengusap lukanya dengan kapas. Lalu membasuh
dengan air. Darah dari lukanya mulai berhenti.
Setelah mengeringkan lukanya itu dengan kapas, ia
mengobatinya dengan obat merah. Setelah itu ia
keluar. Mari menunggunya di sofa. Ia duduk tak jauh
dari Mari.
"Harus bagaimana aku berterima kasih padamu
Zul?" Mari mengawali pembicaraan.
"Tak perlu berterima kasih pada saya Mbak. Saya
hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan.
Itulah kewajiban manusia jika melihat kemungkaran."
Tiba-tiba Mari terisak-isak,
"Kau telah menyelamatkan kehormatanku Zul.
Kalau tadi tidak ada kau, entah apa jadinya diriku saat
ini. Mungkin aku telah bunuh diri Zul!"
"Berterima kasihlah pada Allah Mbak. Allahlah yang
menggerakkan kedua kaki saya untuk bertandang ke
sini pagi ini."
Mari sepertinya tidak mendengar kalimat yang
diucapkan Zul. la menundukkan mata dan
Mahkota Cinta oleh Habiburrahman El Shirazy (Bag.VI)
Tak terasa Zul telah melewati satu semester. Selama
itu ia seperti tidak mengenal siang dan malam. Hariharinya
ia lewati dengan bekerja dan belajar. Bekerja dan
belajar. Ia tampak lebih kurus dari hari pertama saat ia
tiba di Malaysia. Hidup setengah tahun lebih bersama
Yahya membuatnya lebih banyak tahu tentang ajar an
agamanya. Ia yang selama ini tidak mendapat pengajaran
agama secara mendalam, banyak mendapat
masukan-masukan tentang keindahan Islam. Sedikit demi
sedikit Yahya memberikan pencerahan, tanpa terasa.
Tidak ada waktu khusus mengaji pada Yahya. Cukuplah
interaksi harian menjadi tempatnya menimba ilmu.
Malam itu Kuala Lumpur hujan deras. Zul bangun
dan shalat Tahajjud. Di keheningan malam itu ia
memuhasabahi dirinya sendiri. Ia merenungi perjalanan
hidupnya selama ini. Banyak sekali tingkah lakunya yang
jauh dari perilaku yang dibenarkan oleh agama. Ia jadi
teringat masa SMA-nya dulu. Ia pernah pacaran dengan
anak SMA tetangga desa. Ia pacaran diam-diam.
Pakdenya, yang menjadi pengasuhnya, tidak pernah tahu.
Ia pernah pergi dengan pacamya itu malam mingguan di
Simpang Lima Semarang. Dan astaghfirullah ia bergandeng
tangan dan duduk berpelukan mesra dengan
pacarnya itu sambil nonton ramainya kawasan Simpang
Lima. Ia putus dengan pacarnya, setelah lulus SMA.
Pacarnya itu dikawinkan paksa oleh orangtuanya. Dan ia
tidak memberitahukan hal itu kepadanya. Tahu-tahu ia
mendapat kabar pacarnya sudah kawin dan hidup
bersama suaminya di luar Jawa. Ia sempat sakit hati. Lalu
saat kuliah di IKIP ia sempat pacaran lagi. Hanya bertahan
dua bulan. Ia putuskan pacarnya itu setelah ia tahu
pacarnya itu temyata punya pacar selain dia. Ia sakit hati.
Setelah itu ia tidak pernah pacaran lagi. Dua kali ia dikhianati
perempuan, dan baginya itu cukup. Ia tak mau lagi.
Ia bersyukur kepada Allah yang menjaganya, hanya
dua kali saja pacaran. Dan tidak sampai melakukan yang
lebih dari sekadar bergandeng tangan dan berpelukan.
Ia tidak bisa membayangkan jika Allah tidak menjaganya.
Mungkin ia telah berbuat maksiat yang lebih besar
lagi madharatnya.
Dari Yahya ia tahu bahwa tidak halal menyentuh
tubuh perempuan yang bukan mahramnya. Tidak halal
berasyik-masyuk dengan perempuan yang bukan
isterinya. Pacaran adalah cara setan menggiring umat
manusia agar jatuh pada perbuatan nista yang dikutuk
semua agama, yaitu zina. Banyak orang melakukan
pacaran yang—karena masih disayang Allah—diselamatkan
oleh Allah dari
itu ia seperti tidak mengenal siang dan malam. Hariharinya
ia lewati dengan bekerja dan belajar. Bekerja dan
belajar. Ia tampak lebih kurus dari hari pertama saat ia
tiba di Malaysia. Hidup setengah tahun lebih bersama
Yahya membuatnya lebih banyak tahu tentang ajar an
agamanya. Ia yang selama ini tidak mendapat pengajaran
agama secara mendalam, banyak mendapat
masukan-masukan tentang keindahan Islam. Sedikit demi
sedikit Yahya memberikan pencerahan, tanpa terasa.
Tidak ada waktu khusus mengaji pada Yahya. Cukuplah
interaksi harian menjadi tempatnya menimba ilmu.
Malam itu Kuala Lumpur hujan deras. Zul bangun
dan shalat Tahajjud. Di keheningan malam itu ia
memuhasabahi dirinya sendiri. Ia merenungi perjalanan
hidupnya selama ini. Banyak sekali tingkah lakunya yang
jauh dari perilaku yang dibenarkan oleh agama. Ia jadi
teringat masa SMA-nya dulu. Ia pernah pacaran dengan
anak SMA tetangga desa. Ia pacaran diam-diam.
Pakdenya, yang menjadi pengasuhnya, tidak pernah tahu.
Ia pernah pergi dengan pacamya itu malam mingguan di
Simpang Lima Semarang. Dan astaghfirullah ia bergandeng
tangan dan duduk berpelukan mesra dengan
pacarnya itu sambil nonton ramainya kawasan Simpang
Lima. Ia putus dengan pacarnya, setelah lulus SMA.
Pacarnya itu dikawinkan paksa oleh orangtuanya. Dan ia
tidak memberitahukan hal itu kepadanya. Tahu-tahu ia
mendapat kabar pacarnya sudah kawin dan hidup
bersama suaminya di luar Jawa. Ia sempat sakit hati. Lalu
saat kuliah di IKIP ia sempat pacaran lagi. Hanya bertahan
dua bulan. Ia putuskan pacarnya itu setelah ia tahu
pacarnya itu temyata punya pacar selain dia. Ia sakit hati.
Setelah itu ia tidak pernah pacaran lagi. Dua kali ia dikhianati
perempuan, dan baginya itu cukup. Ia tak mau lagi.
Ia bersyukur kepada Allah yang menjaganya, hanya
dua kali saja pacaran. Dan tidak sampai melakukan yang
lebih dari sekadar bergandeng tangan dan berpelukan.
Ia tidak bisa membayangkan jika Allah tidak menjaganya.
Mungkin ia telah berbuat maksiat yang lebih besar
lagi madharatnya.
Dari Yahya ia tahu bahwa tidak halal menyentuh
tubuh perempuan yang bukan mahramnya. Tidak halal
berasyik-masyuk dengan perempuan yang bukan
isterinya. Pacaran adalah cara setan menggiring umat
manusia agar jatuh pada perbuatan nista yang dikutuk
semua agama, yaitu zina. Banyak orang melakukan
pacaran yang—karena masih disayang Allah—diselamatkan
oleh Allah dari
Kamulah Pemimpin Dirimu, Bukan Temanmu
Kamulah Pemimpin Dirimu, Bukan Temanmu by Setia Furqon Kholid
Anak remaja terkadang dipusingkan oleh hal-hal yang berkaitan dengan solidaritas sesama teman. Kalau nolak diajak teman satu sekolah nyerang sekolah lain dianggap gak solider. Kalau semua teman segeng punya pacar sobat setia gak punya dikucilkan dari geng. Kalau sahabat dekat sekelas minta contekan gak dikasih dibilang pelit dan dimusuhin. Ribet, ya?
Sebagai makhluk social sobat setia memang harus punya banyak teman, apalagi ketika remaja. Teman akan sangat berpengaruh pada kesuksesan di masa depan. Tapi teman seperti apa yang harus kita cari? Tentu saja teman yang bisa membawa sobat setia lebih baik, bukan teman yang menjerumuskan.
Kalau teman sobat menjauh karena merasa sobat setia berbeda dari mereka atas prinsip yang dipegang cuekin aja. Tetaplah berbuat baik sewajarnya pada mereka tapi jangan sampai sobat harus ngorbanin diri dan masa depan hanya karena alasan solidaritas yang salah kaprah.
Hidupmu ada di tanganmu sendiri. Kalau sobat sukses yang bahagia dirimu sendiri dan orang tua. Teman-teman hanya akan bilang selamat ya lalu kembali ke kehidupannya masing-masing. Begitupula jika sobat setia celaka dan ngorbanin diri buat mereka. Tak akan ada yang bisa bantu sobst keluar dari penjara kalau sobat ditangkap polisi karena tawuran. Tak akan ada yang mau bertanggung jawab atas diri sobat kalau sobat terjerumus saat pacaran.
So, berbuatlah sesuai prinsipmu sendiri. Jika sobat tak ingin melakukannya jangan sungkan untuk katakana TIDAK. Karena sukses atau tidak ada ditangan sobat sendiri. Jangan pernah sandarkan diri pada teman-teman. Toh kita lahir seorang diri, di akhiratpun hisabnya masing-masing.
So, katakana TIDAK ketika sobat merasa itu TIDAK PANTAS untuk dilakukan
Anak remaja terkadang dipusingkan oleh hal-hal yang berkaitan dengan solidaritas sesama teman. Kalau nolak diajak teman satu sekolah nyerang sekolah lain dianggap gak solider. Kalau semua teman segeng punya pacar sobat setia gak punya dikucilkan dari geng. Kalau sahabat dekat sekelas minta contekan gak dikasih dibilang pelit dan dimusuhin. Ribet, ya?
Sebagai makhluk social sobat setia memang harus punya banyak teman, apalagi ketika remaja. Teman akan sangat berpengaruh pada kesuksesan di masa depan. Tapi teman seperti apa yang harus kita cari? Tentu saja teman yang bisa membawa sobat setia lebih baik, bukan teman yang menjerumuskan.
Kalau teman sobat menjauh karena merasa sobat setia berbeda dari mereka atas prinsip yang dipegang cuekin aja. Tetaplah berbuat baik sewajarnya pada mereka tapi jangan sampai sobat harus ngorbanin diri dan masa depan hanya karena alasan solidaritas yang salah kaprah.
Hidupmu ada di tanganmu sendiri. Kalau sobat sukses yang bahagia dirimu sendiri dan orang tua. Teman-teman hanya akan bilang selamat ya lalu kembali ke kehidupannya masing-masing. Begitupula jika sobat setia celaka dan ngorbanin diri buat mereka. Tak akan ada yang bisa bantu sobst keluar dari penjara kalau sobat ditangkap polisi karena tawuran. Tak akan ada yang mau bertanggung jawab atas diri sobat kalau sobat terjerumus saat pacaran.
So, berbuatlah sesuai prinsipmu sendiri. Jika sobat tak ingin melakukannya jangan sungkan untuk katakana TIDAK. Karena sukses atau tidak ada ditangan sobat sendiri. Jangan pernah sandarkan diri pada teman-teman. Toh kita lahir seorang diri, di akhiratpun hisabnya masing-masing.
So, katakana TIDAK ketika sobat merasa itu TIDAK PANTAS untuk dilakukan
Senin, 06 Oktober 2014
Hati wanita
Hati wanita by Setia Furqon Kholid
Hati wanita itu begitu sensitif.
Hati-hati saat berinteraksi dengannya.
Terlalu tegas kau dikira kasar.
Terlalu kaku bisa malah miskomunikasi
Terlalu dekat bisa tumbuh rasa
Terlalu perhatian bisa dikesankan suka
Intinya, jangan terlalu.
Sebab bisa menimbulkan persepsi lain dalam otak dan perasaannya.
Karena hati seseorang siapa yang tahu
Lirik Kau - T Five
Kau disini saat kusapa dirimu
Ragu dan malu hantui diriku
Tiada kata terucap tanpamu
Tersenyum menatap malu-malu
Rona merah pipimu terlukis jelas wajahmu
Diam membisu kuingat senyuman manis walau sesaat
Bayangan dirimu selalu mengisi hatiku
Bilakah kan terjadi kau kan jadi milikku selamanya
Kau tiada kata terucap tuk ungkapkan isi hati
Dan beri aku asa yang datang mengisi hidupku
Kau mungkinkah kau tahu apa yang ada di hati
Dan kau pergi disaat kuyakini hatiku untukmu
Ragu dan malu hantui diriku
Tiada kata terucap tanpamu
Tersenyum menatap malu-malu
Rona merah pipimu terlukis jelas wajahmu
Diam membisu kuingat senyuman manis walau sesaat
Bayangan dirimu selalu mengisi hatiku
Bilakah kan terjadi kau kan jadi milikku selamanya
Kau tiada kata terucap tuk ungkapkan isi hati
Dan beri aku asa yang datang mengisi hidupku
Kau mungkinkah kau tahu apa yang ada di hati
Dan kau pergi disaat kuyakini hatiku untukmu
Edisi Pangeran Kecil
Pangeran kecil,
Setiap senyum adalah kekuatan
dan satu kata adalah energi
Keduanya begitu berharga
Darimu, untukku
Tak pernah atau mungkin
Ini memang ilusi biasa
Begitu warnamu melukis pikiranku
Dengan ingatan ala kadarnya
Darimu, bagiku
Entahlah, beribu entah
Karena ini sulit ditafsirkan
Bahkan keluar dari logika
Mungkin hanya ejaan hati yang kurang terbaca
Atau candaan didalamnya menggoda rona
Bisakah sedikit mengalah pada kenyataan
Hey, ini bukan darinya untukmu atau sebaliknya
Kamu termakan hari dan intensitas pertemuan
Maka ia begitu tajam melekat
Senyummemang energi, tapi bukan untuk diingat
Baiklah, aku mengerti
Kamu tetap imaji saat hari bersamamu mendampingiku
Bukan saat malam irrasional menjelang bahkan lebih larut lagi
Kamu adalah energi, saat pertemuan terjadi
Bukan saat kau dan aku saling pergi.
tetaplah menjadi seperti itu.
The way you are!
Bagaimanapun ini hidup, kan?
Begitu cepat waktu berlari
Menukar cerita dan pemerannya silih berganti
Ada suka duka, penyesalan serta impian
Berhilir mudik saling bertabrakan
Ada begitu banyak warna baru
Menghias detik dan hati kian menderu
Semakin hari kehilangan
Karena cerita tergesa berlalu dengan enggan
Bagaimanapun ini hidup, kan?
Ada waktu, takdir, dan roda perputaran
Terkadang berada diatas
Terkadang berada
dibawah
Tapi bagaimanapun ini hidup, kan?
ada rintangan dan tantangan
ada sabar ada mengeluh
Tapi Segalanya akan terasa adil
Dan bahagia Jika disyukuri
Alhamdulillah
Pelangiku, alhamdulillah, waktu begitu tak terasa karena
kalian. Terima kasih telah membuat setiap detak jarum jamku sangat berharga.
Kini,
setiap detik adalah benar-benar belajar. Belajar mempertahankan ke-pelangi-an
kalian, belajar mengendalikan diri, belajar bertutur baik, dan belajar sabar
terutama serta tetap berbagi warna ilmu
didalamnya. Belajarlah, pahamilah, amalkanlah, bersama kita bisa. Never give
up!
Minggu, 05 Oktober 2014
When The Moonlight Shines by Mocca
When the moonlight shines,
all the stars are smiling
Now the time has come
You leave me all behind
I'm not feeling fine
I'm feeling down
When the moonlight smiles
With his pearly smile
I think it's very funny
How does life can be
And once you appear with the grind
And now you really left me
With no one to hold me
As time goes by I will drown
I think it's very funny
How does life can be
And once you appear with the grind
And now you really left me
With no one to hold me
As time goes by I will drown
When the moonlight shines,
all of stars are smiling
Now the time has come
You leave me all behind
all the stars are smiling
Now the time has come
You leave me all behind
I'm not feeling fine
I'm feeling down
When the moonlight smiles
With his pearly smile
I think it's very funny
How does life can be
And once you appear with the grind
And now you really left me
With no one to hold me
As time goes by I will drown
I think it's very funny
How does life can be
And once you appear with the grind
And now you really left me
With no one to hold me
As time goes by I will drown
When the moonlight shines,
all of stars are smiling
Now the time has come
You leave me all behind
Jumat, 03 Oktober 2014
Gadis kecil berpayung putih
Gadis kecil
berpayung putih
Tidakkah
kau tahu aku sangat letih
Berlari dengan
gundah dihati
Berharap
segera tiba di tempat yang dinanti-nanti
Gadis kecil
berpayung putih
Maukah kau
membagi payung putihmu itu denganku
Agar rintikkan
hujan itu tak membasahi kemeja baruku
Aku tak
ingin ibuku memarahiku
Gadis kecil
berpayung putih
Kau berjalan
tenang aku berlari tergesa.
Kau kering,
aku basah.
Kau nyaman,
aku gelisah.
Sepulang Sekolah, 2009.
Langganan:
Postingan (Atom)













.png)
.jpg)


