Senin, 09 Januari 2017

Beloved People I Called: Family❤

Malam itu, seperti dua hari sebelumnya, aku tidur terlalu larut, yaitu sampai jam dua dini hari demi mengerjakan project film bahasa inggris sebagai tugas UAS di kampus. Padahal, besoknya aku harus kembali ke Bandung untuk pergi kuliah. Tapi, mau tidak mau, harus kulakukan agar semuanya dapat selesai dengan baik.

Pagi itu, diawali dengan mama yang membangunkanku lima menit sebelum alarm HP-ku berbunyi. MasyaAllah mama memang alarm terbaik sepanjang masa. Aku lekas bangun dan 'sadar' bahwa aku harus bergegas, bersiap-siap untuk kemudian berangkat sepagi mungkin, karena jarak Subang - Bandung itu tidaklah dekat mengingat kuliah masuk pukul 07.30. Sambil masih terkantuk-kantuk dan rasa penat yang sulit dihindari masih melekat, aku memaksakan diri. Segera bangkit dan pergi ke kamar mandi. 

Selesai aku mandi aku mendapati mama kembali dari membelikan sarapan untuk aku dan Apa, (APA adalah sapaanku untuk ayah) Seawal itu, bahkan ini belum masuk waktu subuh. Mama mengingatkanku untuk sarapan terlebih dahulu, tapi aku masih harus menyelesaikan tugasku yang semalam belum rampung. Ditambah masih sibuk mempersiapkan barang dan perlengkapan yang harus kubawa. 

Aku agak panik karena hari ini ada tiga mata kuliah yang ketiganya adalah tugas tugas yang harus diselesaikan dan dipersiapkan terlebih dahulu sebelum dipresentasikan / di tes. Dan dari ketiganya, aku baru menyelesaikan satu tugas yang sudah benar-benar siap. Aku panik, tapi tidak lama karena kemudian berusaha menenangkan diri serta tetap memohon pertolongan Allah.

Pukul 05.30.
Setelah selesai mempersiapkan diri dan segala perlengkapan. Aku berencana pergi ke Subang kota dengan diantar oleh Apa. Ya, karena aku akan terlambat mendapatkan mobil jurusan Bandung yang akan berangkat lebih pagi jika aku tidak diantar oleh Apa menggunakan motor, mengingat jarak rumahku ke Subang kota adalah 16 KM lebih. 

Maafkan aku, Pa.. sejujurnya aku tidak ingin menyusahkanmu. 

Padahal sebelumnya aku telah meminta untuk diantar adikku yg laki-laki saja, agar Apa tetap di rumah dan bisa bersepeda pagi sesuai dengan jadwalnya hari itu. 
Tapi Apa tidak mengizinkan dan lebih memilih mengantarkanku langsung. Soal ini, kurasa apa mengkhawatirkan adikku. Padahal aku yakin kami akan baik-baik saja dan adikku juga sudah biasa menjemputku ketika aku pulang dan tiba malam hari. Tapi Apa tetap khawatir pada kami, akhirnya Apa memutuskan bahwa ialah yang akan mengantarkanku.

Saat aku akan berangkat, berkali-kali aku masuk ke dalam rumah dan berkata pada adik perempuanku: "Ingatkan aku apa lagi yang harus kubawa"

Ia menjawab :"Dompet? Kunci? Garn*er? Charger?"

"Oh iya charger", dengan cepat aku mencarinya, akhirnya kutemukan kabelnya saja, ah, tak apa, pikirku, kurasa aku masih punya satu di sana.

Disaat panik seperti itu aku tak dapat memastikan 'semua' barangku sudah lengkap masuk ke dalam tas. Malam sebelumnya pun tak sempat kupersiapkan karena aku mengerjakan tugas Project film yang lama sekali rampungnya itu. 

Setelah selesai, aku berpamitan kepada mama.

"Kuenya belum sempat di buat, lain kali saja ya"

Mama berencana membuatkan kue untuk kubawa sebagai bekal. Tapi ia tak sempat membuatnya karena aku pun mengerti, aku akan pergi sepagi ini sementara membuat kue membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Aku mengerti, tidak masalah, Ma. 

Aku berpamitan, mencium tangannya lalu pergi ke depan, dimana Apa telah menungguku,

Seperti biasa, apa bertanya:

"Teu aya nu kakantun?"
"InsyaAllah atos sadayana"
"Hape, kade.."
Segera aku mengecek tasku, kudapati HP ku disana.
"Aya,Pa.."

Segera aku naik ke motor. Selama dalam perjalanan, Apa tidak banyak bicara seperti biasanya, hanya terkadang bertanya tentang kuliahku, pekerjaanku, dan juga mengkhawatirkan mengapa aku terbatuk-batuk saat itu. Tak lupa menasihatiku atas jawaban dari setiap pertanyaannya. Juga mengingatkanku agar banyak minum air putih. (Salah satu hal yg paling sering kedua orang tuaku ingatkan kepada kami, anak2nya)

Diboncengi Apa, jadi teringat saat aku masih kecil. Aku sering diajak jalan-jalan oleh Apa menggunakan sepeda, juga motor (ketika sudah ada). Keluarga kami bukanlah keluarga yang sering menghabiskan waktu di tempat wisata atau tempat liburan yang menyenangkan, cukup menghabiskan waktu di rumah, menikmati masakan ibuku, atau sekedar berkumpul di ruang TV pun adalah hal yang tak ternilai harganya. Termasuk diboncengi Apa pergi jalan-jalan adalah salah satu hal yang membahagiakan bagi masa kecilku, dan kurasa bagi masa kecil kakak dan adikku juga.

Sepanjang perjalanan aku menikmati hembusan angin pagi, juga pemandangan langit  yang mempesona, jingga, biru, pink... semuanya ada disana berkolaborasi menjadi sentuhan yang tak bisa terelakkan keindahannya. Semakin jauh, kendaraan yang kutumpangi melaju menembus jalanan, cahaya semakin terang karena mentari mulai menyeruak, hendak menampakkan dirinya diufuk timur. Hangat, rasanya... momen yang tak bisa kucampakkan begitu saja. Hingga saatnya kami berada di atas jalan layang, lebih tepatnya jalan yang melintang di atas jalan tol Cipali, Aku dapat melihat lebih jelas lukisan Allah itu, maka dengan usaha seadanya kupotret menggunakan kamera ponsel yang ternyata hasilnya pun blur. (Tak apa, setidaknya aku sudah berusaha mengabadikan momen, hehe.)

Ah, Apa... momen saat itu tak bisa kudapatkan lagi dengan mudah mengingat waktu dan jarak yang sudah lebih sering memisahkan kita. Juga, aku bukan anak kecil lagi sekarang, seharusnya akulah yang melakukan kebahagiaan itu untukmu :')

Setengah jam lebih akhirnya aku tiba di tempat dimana mobil jurusan Bandung yg menjadi tujuanku itu berada. Awalnya aku sempat khawatir akan terlambat, mengingat biasanya elf atau kendaraan umum akan menunggu penumpang sangat lama, tapi dengan saran ibu dan kakakku yang sudah pernah naik di tempat ini, maka aku lega dan bisa lebih tenang saat menumpanginya.

Aku masuk ke dalam elf, memilih tempat yang dekat dengan pintu keluar. Baru ada 5 penumpang saat itu. Tapi entah kenapa aku tetap merasa tenang, dan percaya bahwa mobil ini akan segera berangkat. 

Meskipun begitu, aku masih tetap memohon pertolongan dan perlindungan-Nya agar perjalananku juga semua urusanku hari ini dapat berjalan dengan lancar. Karena aku tau, tanpa-Nya, aku mungkin tak akan bisa sampai ke sini, detik ini.

Apa meng-SMSku,
"Atos aya penumpangna? Apa di gang Palab*an ngantosan infona"

"Atos ayaan tapi teu acan pinuh.."

"Sabar + doa tong hilap".

Ternyata Apa menungguku di tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat aku turun, memastikan mobil yang kutumpangi sudah dipenuhi penumpang, lalu berangkat dengan selamat. Ah apa, lagi-lagi... :')  

Tak lama setelah SMS Apa itu, penumpang berdatangan satu persatu, hingga akhirnya penuh dan kemudian mobil berangkat, akupun segera mengSMS Apa bahwa mobilku sudah akan pergi. 

Perlahan mobil itu melaju, menjauh dari tempatnya semula, meninggalkan Apa yang menungguku di suatu tempat, meninggalkan kota kelahiranku. 

Ah, sedih rasanya. 
Masih ingin berada di rumah. 
Masih ingin bersama mereka. 
Masih ingin menghabiskan waktu bersama adik-kakak-dan keponakan-keponakanku yang lucu. 
Masih ingin bersepeda sore bersama adik perempuanku.
Masih ingin ingin melukis bersama adik laki-lakiku.
Masih ingin menyempatkan membuat kue.
Masih ingin menyempatkan membersihkan taman.
Masih ingin melihat bunga pink bermekaran lebih banyak lagi, mengingat dua hari sebelum aku pergi, bunga itu sudah bermunculan karena hujan yang mengguyur mereka malam harinya.
Ah....masih banyak lagi yang sangat ingin dilakukan di rumah. Belum sempat terceklis semua daftar "to do list" yang pernah kubuat.

Memang benar, waktu tak dapat berhenti, atau bahkan kembali lagi, kecuali sang pemilik waktu benar-benar menghendakinya. Kesempatanku sudah habis kali ini, tapi bukan berarti telah berakhir.

Dan yang harus aku lakukan adalah... tentu saja; BERSYUKUR
Bersyukur karena Allah masih memberikan waktu untuk dapat bertemu dengan orang-orang yang kucintai, di tempat yang aku sangat nyaman tinggal didalamnya.
Bersyukur karena masih sempat melihat mereka dalam keadaan sehat dan bahagia. 
Bersyukur karena masih bisa ada untuk mereka.
Bersyukur untuk hal sederhana yang ternyata mempesona.
Bersyukur, bersyukur, bersyukur.. Karena kita tidak tahu, hidup yang terkadang kita keluhkan ini, mungkin saja adalah hidup yang sangat orang lain inginkan. Masya Allah.

- فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ -

"Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
(Q.S.Ar-rahman) 

Rabu, 26 Oktober 2016

Menata Hati, Menjaga Hati ❤


Bak menyusun puzzle, mari mulai menata hati yang berserakan.
Berserakan bukan berarti pecah.
Pecah bukan berarti sakit, hanya perlu diperbaiki. 

Ada banyak kepingan yang harus ditata kembali.
Tentang Sabar, Syukur, Mimpi dan cita-cita, Daur ulang rasa, dan masih banyak lagi. 

Jangan sampai hal-hal negatif yang bersarang disana. dan yang paling penting adalah.....jadikan Allah satu-satunya pemilik hatimu. 

Dia yang Maha membolak-balikkan hati manusia.
Dia yang menguatkan saat kamu lemah.
Dia yang meyakinkanmu ketika kamu ragu.

Mari mulai menjaga hati, lillaah.
IG: @mayastikasalma

Tak Selamanya, Sendiri Itu Sepi 🍀

Berhentilah membenci kesendirian.

Karena, tidak selamanya sendiri itu sepi. 
Bukan berarti sendiri itu menyedihkan.

Bisa jadi, sendiri adalah cara Allah meluangkan waktu kita agar lebih dekat dengan-Nya.

Bisa jadi, sendiri adalah waktunya untuk berpikir dan belajar. 
Belajar memperbaiki kesalahan. 
Belajar menata hati. 
Belajar menjaga indera dari hal-hal yang menjauhkan kita dari-Nya.

Sendiri tak selamanya sepi, bisa jadi, inilah saatnya diri dan hati untuk diperbaiki. 
 🍀



you two❤

Tadi siang, aku mendapati salah satu anak didikku menangis. Wajar memang, namun tak seperti biasanya, anak yang setiap hari terlihat periang, kali ini menangis dengan keras dan sulit untuk berhenti. Sebelum kelas dimulai, sang ayah memintanya berhenti menangis masuk ke dalam kelas. Namun ia terus menerus mengeluarkan air mata dan berteriak, meminta ditemani oleh ayahnya. Aneh sekali, padahal hampir tidak pernah aku melihatnya menangis sekeras itu.

"Ayo masuk"
"Sama Ayah...." (sambil menyeka air matanya dan terus menangis)
"Masa ayah ikut..."
(terus menangis, meraung-raung sembari sesegukan)

Aku saat itu tengah sibuk membicarakan suatu hal dengan orang tua murid yang lain, plus suasana kelas yang belum

Minggu, 23 Oktober 2016

🍀


مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ ٱلَّذِينَ صَبَرُوٓا۟ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
(Q. S. An-nahl : 96)

🍀🍀🍀

Sabtu, 22 Oktober 2016

Ujian Tanda Sayang♥

Ponsel dan Kacamata.
Dua pekan lalu, aku kehilangan keduanya.
Hilang bukan berarti orang lain mengambilnya.
Hilang bukan berarti dicuri.
Hilang bisa jadi rusak.
Hilang bisa jadi tak bisa digunakan lagi.
Dan, kata -bisa jadi- diatas, berarti: memang benar begitu.

Tapi, selalu ada hikmah dari setiap kejadian.
Dari -kehilangan- ini aku berpikir dan belajar mengerti.
bahwa apa yang Allah ambil dariku hanya sebagian kecil dari seluruh nikmat Allah yang tak terhitung, yang hingga kini masih mengalir deras dalam setiap waktu yang kupunya. Ah, bahkan, waktu pun aku tak punya, Maha baik Allah yang telah meminjamkan waktu untuk kita.
Hakikatnya, semua ini milikNya. lantas, haruskah aku mengeluh? marah?
Tidak sama sekali. Wahai diri, mari belajar ikhlas :')

Allah mengambilnya agar aku lebih dekat dengan-Nya.
Bisa jadi, ponselku selama ini mencuri waktu ibadahku yang semestinya kulakukan lebih banyak.
Bisa jadi, ponselku selama ini hanya bagian dari penunda saat akan bercengkrama denganNya di dalam doa.
Bisa jadi, ponselku menjauhkanku dariNya.

Astaghfirullah. . .
Sedih, sedih saat setelah menyadari semuanya.

dan, sudah kukatakan tadi, -selalu- ada hikmah dalam setiap kejadian.
satu lagi yang hilang dariku, kacamata.
Bisa jadi, Allah mengambilnya agar aku bisa menjaga pandangan lebih baik lagi.
Bisa jadi, Allah mengambilnya karena agar aku lebih berusaha mengenali setiap wajah dari orang yang aku temui, agar bermaksud bersikap ramah, dengan senyum penjelas di wajahku, tanpa harus cuek karena buram tak terlihat.

Bisa jadi pula....Allah mengambil keduanya karena akan menggantikan dengan yang jauh lebih baik. Aamiiin, InsyaaAllah.

Positive Thinking.♥

Ingat pesan Allah yang satu ini:

"Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)


Karena,
Ujian hadir karena Allah menyayangi kita,
Ujian hadir untuk menjadikan kita lebih kuat dari diri kita kemarin dan hari ini,
Ujian hadir karena Allah menginginkan kita lebih dekat denganNya♥

Rabu, 05 Oktober 2016

Maafkan, Wahai Diri

Maafkan wahai diri, belum sempat terpenuhi segala janji
Seharusnya perjalanan ini bisa lebih baik lagi dari mimpi yang telah terangkai
Bukan “tidak” memang, hanya “belum”, insyaAllah.
Mari berjuang lebih keras lagi.

Sempat berpikir menyerah saja, melihat langkahmu sudah semakin jauh diatas
Sementara aku, masih berkutat dalam pusaran yang sama.
dalam labirin yang masih ku nikmati perjalanannya
Tanpa mencari jalan pulang

Aku memang masih disini, di tempat yang sama
Bukannya tak ingin melangkah lebih jauh.Tapi,

Rona


Lalu, pada rona manakah dunia akan percaya 
bahwa hatimu baik-baik saja, 
sementara mereka melihat sebaliknya?

Be Yourself


Menjadi lebih baik bukan berarti harus menjadi orang lain. :)
Jadilah dirimu sendiri sebagaimana Allah karuniakan keunikan dari setiap diri manusia.

Love your self.
Be your self.
You are beautiful as you are. :)

Kamu dan Doa

Bagiku,
kamu hanya sebatas nama yang kuselipkan dalam doa,
diluar itu, kita bukan apa-apa,
sampai Allah meng-Iya-kan doaku.

Jika pada akhirnya Allah berkata -tidak-,
maka Aku akan tetap berdoa yang terbaik untukmu.

Minggu, 19 Juni 2016

Aku Melihatmu ...

Aku melihatmu
dalam bayang yang belum sempat menjadi sebuah cerita
hanya ilusi biasa, sederhana

Aku melihatmu
dibalik sayup yang kudengar sesekali
tapi pada kenyataannya, suara itu tidak pernah ada

Aku melihatmu
dalam satu detik yang terasa berhenti
hanya satu detik, karena detik selanjutnya aku bangun dari mimpi


Aku melihatmu
pada hari dimana kata hampir membuka cerita
tetapi tidak jadi, karena hati lebih senang bersembunyi

Aku melihatmu
dalam rangkaian kata yang sesekali mengusik telinga hati
padahal sebenarnya tidak bermaksud sama sekali

Aku melihatmu
pada senyum yang teranggai berkali-kali
namun bukan terkhusus untukku

Aku melihatmu
Hanya ketika angin berbisik, dan daun terjatuh dengan ikhlas
Hanya ketika Allah menunjukkan mata dan hatiku untuk melihatmu