Selasa, 30 September 2014

Please, be Awesome.

 


Hari baru, bulan baru, aktivitas yang juga baru. Semoga bisa terlewati dengan baik, dan berkah. Aamiin. O:)

Senin, 29 September 2014

Salah satu faktor menghilangnya keberkahan ilmu

Salah satu faktor menghilangnya keberkahan ilmu
By : Setia Furqon Kholid

Salah satu faktor menghilangnya keberkahan ilmu adalah:
Saat yang dikejar gelar bukan ilmu
Yang dikejar perhatian dosen atau guru, bukan perhatian Allah
Yang dipikir bagaimana dapat nilai yang tinggi bukan jadi orang yang bernilai.
Jangan heran kalau hari ini juga banyak yang sekadar mengajar tuk menggugurkan kewajiban atau mengejar jam belajar.
Mentransfer pengetahuan tapi tidak memberikan pencerahan.
Memerintah tapi tak menjadikan diri teladan.
Pendidikan akhirnya jadi barang dagangan,
Ijazah berjubel, sertifikat menumpuk, gelar berjejer. Tapi kompetensi nihil. Produktivitas melemah.
Jangan heran kalau akhirnya menyebar ke seluruh elemen bangsa yang dididik.
Jadi pejabat korupsi
Jadi pengusaha ngakali
Jadi cendekia membodohi.
Akibat hilangnya hati nurani.
Sudah saatnya kita kembalikan esensi sejati pendidikan. Untuk mengubah yang bodoh jadi cerdas. Yang berakhlak kurang baik menjadi baik.

Let it Go, Let it Be.

Hello! Little Busy

Work Hard
Keep Sweet as sweet as this ice cream
Cheese
Fresh, Nice



Finally i found you, my batman for me kuma

"Melihatmu" seperti melukis sebuah gambar



“Melihatmu” seperti sedang melukis sebuah gambar. Awalnya hanya titik, ini kuartikan sebagai potret saat pertama kali melihatmu. Kemudian menjadi garis tipis, ketika sosokmu mulai menjadi pasar malam dalam otakku; ramai. Selanjutnya mengarsir bagian yang kosong, ketika bisa memandangimu dari kejauhan dan intensitas bertemu sepihak mulai bertambah, ini membuat suasana baru yang manis. Lalu berkembang menjadi gradasi-gradasi halus, ketika mulai mencari tahu siapa kau sebenarnya. Begitu seterusnya sampai aku bisa menebalkannya dengan rapi, ini kubaca sebagai percakapan kami yang mulai dekat, meski hanya dalam ribuan pesan terkirim. Mungkin aku tak yakin, karena frekuensi pesan terkirimlah yang mendukung kami. Mengingat pertemuan nyata hanya sesekali terjadi (Ini bukan sepihak lagi). 
Tetapi, setiap gambarpun tak selalu mulus sesuai harapan. Selalu ada rintangan dan kesalahan. Ketika aku begitu menginginkan sebuah gambar yang bagus, kuhapus berulang kali hingga akhirnya bukan gambar indah yang kudapatkan, tapi sebaliknya; semua tak rapi lagi dan kertas yang kupunya hanya satu. Artinya, mungkin aku mengingkari janji yang tak ada, melihat keluar batas perasaan dan tanpa sadar mengubahnya menjadi ego, hingga akhirnya kesempatan tunggalku tak dapat kuraih dengan baik. Aku mengawalinya sejak awal, dan tanpa akhir aku memulainya kembali, detik ini.

Jumat, 26 September 2014

Kekayaan Jiwa, Itulah Kekayaan Hakiki

Kekayaan Jiwa, Itulah Kekayaan Hakiki
by Setia Furqon Kholid
Sebagai manusia, setiap hari kita bergelut dengan kesuksesan yang berbau dunia.
Seorang siswa berpikir bagaimana caranya agar bisa menjadi siswa terbaik di sekolahnya.
Seorang yang telah lulus SMA berpikir tentang bagaimana caranya agar lulus di PTN idamannya.
Seorang yang tengah kuliah berpikir bagaimana caranya agar kesuksesan bisa segera diraih olehnya.
Seakan semua berlomba meraih sukses hanya di mata manusia.
Sementara itu, jarang sekali kita menemukan diri kita berpikir bagaimana caranya agar sepanjang hayat bisa shalat tepat pada waktunya, bagaimana caranya agar Al-Qur’an bisa dihafalkan dan diamalkan pada kehidupan sehari-hari kita dan bagaimana caranya agar hati ini selalu ikhlas menjalani ujianNya.
Sahabat setia, terkadang kita lebih focus dan berlomba meraih sukses dunia. Semetara itu kita lupa menjadikan amal untuk kehidupan akhirat sebagai penyeimbangnya.
Padahal, hidup tanpa amal akan kosong.
Dan kekayaan harta serta kesuksesan tanpa kekayaan jiwa tak akan pernah bertemu pada rasa syukur.

“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta tetapi kekayaan adalah kaya akan jiwa” (HR. Mutafaq Alaihi)”

Kamis, 25 September 2014

Quotes







KETIKA MAS GAGAH PERGI (dan…Kembali) II oleh : Helvy Tiana Rosa


KETIKA MAS GAGAH PERGI (dan…Kembali)
(Edisi Lanjutan Cerpen Ketika Mas Gagah Pergi)

II

Setahun kemudian…

Pagi itu aku kembali berlari-lari mengejar bus jurusan Pulo Gadung-Depok dengan seragam putih abu-abu.

Ya, sejak kami sekeluarga pindah dari Pasar Minggu ke Rawamangun, perjalananku menuju SMA Cendana jadi lebih lama. Bukan itu saja, aku yang terbiasa berjalan kaki ke sekolah kini harus berdesak-desakan dalam bus, menahan sabar saat macet, mendengarkan sumpah serapah kondektur bus pada beberapa mahasiswa yang selalu dikiranya karyawan, dan tiba di sekolah dengan perut mual serta kepala pening akibat supir yang ugal-ugalan dan suka mengerem mobilnya secara mendadak.

“Kamu nggak mau diantar saja, Gita? Capek loh di jalan. Apalagi kamu sudah kelas III,” tanya Mama.

Aku menggeleng. Sejak Mas Gagah meninggal, entah mengapa aku tak pernah mau naik sedan itu lagi. Hal yang akan semakin mengingatkanku pada masa-masa bersamanya….Lagi pula macet yang dahsyat selalu membuatku merasa lebih baik naik kendaraan umum.

Jadi begitulah, aku selalu berangkat lebih pagi. Jam setengah enam aku sudah berada dalam bus dan semua jadi lebih menyenangkan. Udara yang segar, jalanan lengang, Sopir dan kondektur yang belum stress, serta bangku-bangku yang belum seluruhnya terisi.

“Asalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh! Salam sejahtera!”

Aku melihat ke depan. Para penumpang lain juga melakukan hal yang sama tanpa menjawab salamnya. Pengamen atau mau minta sumbangan nih?

Kulihat lelaki dengan kemeja kotak-kotak cokelat dan celana panjang krim. Ia menyandang tas hitam. Tak ada gitar atau kotak amal di tangannya. So, mau ngapain nih orang?

Aku melengos.

“Maaf bila kehadiran saya mengganggu kenyamanan bapak Ibu dan saudara-saudara. Tetapi ijinkanlah saya menunaikan kewajiban sebagai hamba yang telah diberikan setitik ilmu oleh Allah SWT, yang tentunya harus disampaikan setelah diamalkan.”

Lalu tiba-tiba saja ia mengucapkan

KETIKA MAS GAGAH PERGI (dan…Kembali) oleh : Helvy Tiana Rosa



KETIKA MAS GAGAH PERGI (dan…Kembali)
(Edisi Lanjutan Cerpen Ketika Mas Gagah Pergi)

I

Mas Gagah berubah! Ya, sudah beberapa bulan belakangan ini Mas, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah.

Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah tingkat akhir di Teknik Sipil UI. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja ganteng! Mas Gagah juga sudah mampu membiayai kuliahnya sendiri dari hasil mengajar privat matematika untuk anak-anak SMP dan SMA, menjadi model majalah, hingga menjadi senpai di sebuah klub karate.

“Hai cewek tomboi!” sapanya suatu kali. “Waktunya kamu belajar bela diri! Percuma kan punya Mas karateka sabuk hitam, kalau kamu nggak bisa karate?”

Hari-hari kami pun bertambah dengan berlatih karate bersama. “Nggak usah kursus. Kursus sama Mas aja. Habis ini latihan modeling ya, biar jalanmu nggak lebih gagah dari Mas!” sindirnya sambil senyum.

Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku kemana ia pergi. Ia yang menolong saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak untukku.

Saat memasuki usia dewasa kami jadi makin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film, konser musik atau sekadar bercanda bersama teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelucon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak-bahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan dulu di Kemang atau tempat-tempat yang sedang happening.

Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya!

“Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?”

“Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang serumahku sering membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?”

“Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?”

Dan masih banyak lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku cuma mesam-mesem. Bangga.

Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum punya pacar. Apa jawabnya?

“Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! Hehehe,” kata Mas Gagah pura-pura serius.

Mas Gagah dalam pandanganku adalah sosok ideal. Kombinasi yang unik dari banyak talenta. Ia punya rancangan masa depan, tapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tapi tak pernah meninggalkan shalat! He’s a very easy going person. Almost perfect!

Huaa, itulah Mas Gagah. Mas Gagah-ku yang dulu!

Namun seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah. Drastis! Dan kalau aku tak salah, itu seusai ia pulang dari

Wahai Pemuda by Setia Furqon Kholid

Wahai Pemuda, Allah Lebih Menyukai Pribadi Mandiri daripada Meminta
Wahai pemuda, jangan bangga ketika kau bermobil mewah, bergadjet mahal dan selalu berpenampilan bermerek tapi semuanya pemberian orang tua.
Sungguh ketika itu berarti kamu masih meletakan tanganmu di bawah.
Sebagai peminta-minta meski pada orang tua sendiri.
Lihatlah, orangtuamu itu akan menua.
Dan tak bisa selalu ada memenuhi semua pinta.
Jikapun harta yang berlimpah itu akan jadi milikmu.
Semua itu akan lenyap jika kau tak belajar mengelolanya.
Padahal usiamu kini hampir dewasa, padahal kau sudah bergantung kepada orang tua terlalu lama.
Sejak kau bayi yang tak bisa apa-apa hingga kau kini sudah hampir dewasa.
Maka mulailah berpikir untuk hidupmu.
Mulailah rajut impianmu dan buat bangga orang tua yang telah membesarkanmu dengan segudang fasilitas mewahnya.
Agar kelak jika mereka tiada, mereka tersenyum bangga kepadamu.

“Sesungguhnya tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Mulailah dengan keluargamu dan sebaik-baik sedekah adalah yang datang dari orang yang tiada berlebih. (HR. Mutafaqun Alaihi)

Sabtu, 20 September 2014

Kutipan by Setia Furqon Kholid

Jangan pernah meragukan mimpi yang kau tuliskan. Karena Allah tak kan pernah lelah mengabulkan do'a hamba-hambaNya.
Tingkatkan :
Niat jadi tekad
Impian jadi kenyataan
Halangan jadi kesempatan
Bukankah kenyataan hari ini impian kita kemarin? Yakinlah insyaAllah impian hari inipun kenyataan hari esok.

Surat untukmu



Surat untukmu, 

Maaf, bertahun-tahun aku bersamamu. Begitu banyak kata yang telah kutumpahkan, baik kata yang baik, maupun kata yang buruk. “Baik” ketika aku senang, dan “buruk” ketika aku bersedih. Begitu banyak cerita yang sepertinya jika tak kutumpahkan, aku akan meledak. aku tau, aku selalu tak menghargaimu kala  aku merasa sedih. Dan emosi dari rasa sedih itu telah membuat aku lupa akan betapa berharganya kata, dan betapa berharganya dirimu. Betapa mahalnya suasana yang tercipta, betapa mahalnya suara hati yang mungkin hanya datang sesekali, bahkan bisa jadi tak pernah yang langsung  bisa kutuliskan padamu.

Maaf, untuk senyum yang muncul tenggelam dihadapanmu. Aku sedang banyak belajar untuk mengendalikan emosi, agar emosi yang baik, tidak terlalu berapi-api  saat aku bahagia, begitupun juga, emosi yang buruk tidak terlalu berlebihan saat aku bersedih atau marah. Aku juga sedang mengontrol suara hatiku, agar jika aku menumpahkannya padamu, semuanya mengalir tenang, tanpa terburu-buru, atau lamban, lalu berhenti ditengah jalan.
Baiklah, "Ikrar mengikrar kata, merangkai seakan berdoa, tapi jika pupus, aku bangkit dan menjadikanmu kenangan, serta penyimpan rahasia yang tak cukup besar. Kata adalah baik, kata dan kamu adalah aku”

"Ini aku, kata..." II





Ia dengan firasatnya.
bertahun-tahun, aku bersamanya. Senyum yang muncul tenggelam dihadapanku,
 juga segerombol kata yang entah apa itu benar-benar berasal dari hatinya yang terdalam, atau bukan.

Jika ia tersenyum,
bunga-bunga berjatuhan,
akupun seperti pelangi,
me-ji-ku-hi-bi-ni-u menghiasi setiap garisku,
tak jarang emoji yang lucu, bertebaran disekelilingku

Tapi jika ia menangis,
ruangku begitu sarat akan seribu kata kepedihan
terkadang, gerimis airmata pun berjatuhan
tapi aku tak pernah menyerah

Pernah ia bersandiwara
menjadi seorang

“Ini aku, kata”...




Hari ini,
Dimana selaksa puisi berjatuhan,
Memaksa tertumpah padaku, si suci ini.
“Ini aku, kata”, isi hatinya berkata.
Tapi si “kata” adalah banyak.
dan mereka berdesakan memenuhi ruang,
Ruang hati dan pikiran.
Memaksa keluar melalui tinta, atau tarian sekelompok jari.

Pagi ini ia rindu,
Melukis firasat dengan kata
Menjejalkan belasan kalimat pada