Kamis, 25 September 2014
KETIKA MAS GAGAH PERGI (dan…Kembali) II oleh : Helvy Tiana Rosa
KETIKA MAS GAGAH PERGI (dan…Kembali)
(Edisi Lanjutan Cerpen Ketika Mas Gagah Pergi)
II
Setahun kemudian…
Pagi itu aku kembali berlari-lari mengejar bus jurusan Pulo Gadung-Depok dengan seragam putih abu-abu.
Ya, sejak kami sekeluarga pindah dari Pasar Minggu ke Rawamangun, perjalananku menuju SMA Cendana jadi lebih lama. Bukan itu saja, aku yang terbiasa berjalan kaki ke sekolah kini harus berdesak-desakan dalam bus, menahan sabar saat macet, mendengarkan sumpah serapah kondektur bus pada beberapa mahasiswa yang selalu dikiranya karyawan, dan tiba di sekolah dengan perut mual serta kepala pening akibat supir yang ugal-ugalan dan suka mengerem mobilnya secara mendadak.
“Kamu nggak mau diantar saja, Gita? Capek loh di jalan. Apalagi kamu sudah kelas III,” tanya Mama.
Aku menggeleng. Sejak Mas Gagah meninggal, entah mengapa aku tak pernah mau naik sedan itu lagi. Hal yang akan semakin mengingatkanku pada masa-masa bersamanya….Lagi pula macet yang dahsyat selalu membuatku merasa lebih baik naik kendaraan umum.
Jadi begitulah, aku selalu berangkat lebih pagi. Jam setengah enam aku sudah berada dalam bus dan semua jadi lebih menyenangkan. Udara yang segar, jalanan lengang, Sopir dan kondektur yang belum stress, serta bangku-bangku yang belum seluruhnya terisi.
“Asalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh! Salam sejahtera!”
Aku melihat ke depan. Para penumpang lain juga melakukan hal yang sama tanpa menjawab salamnya. Pengamen atau mau minta sumbangan nih?
Kulihat lelaki dengan kemeja kotak-kotak cokelat dan celana panjang krim. Ia menyandang tas hitam. Tak ada gitar atau kotak amal di tangannya. So, mau ngapain nih orang?
Aku melengos.
“Maaf bila kehadiran saya mengganggu kenyamanan bapak Ibu dan saudara-saudara. Tetapi ijinkanlah saya menunaikan kewajiban sebagai hamba yang telah diberikan setitik ilmu oleh Allah SWT, yang tentunya harus disampaikan setelah diamalkan.”
Lalu tiba-tiba saja ia mengucapkan
KETIKA MAS GAGAH PERGI (dan…Kembali) oleh : Helvy Tiana Rosa
KETIKA MAS GAGAH PERGI (dan…Kembali)
(Edisi Lanjutan Cerpen Ketika Mas Gagah Pergi)
I
Mas Gagah berubah! Ya, sudah beberapa bulan belakangan ini Mas, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah.
Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah tingkat akhir di Teknik Sipil UI. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja ganteng! Mas Gagah juga sudah mampu membiayai kuliahnya sendiri dari hasil mengajar privat matematika untuk anak-anak SMP dan SMA, menjadi model majalah, hingga menjadi senpai di sebuah klub karate.
“Hai cewek tomboi!” sapanya suatu kali. “Waktunya kamu belajar bela diri! Percuma kan punya Mas karateka sabuk hitam, kalau kamu nggak bisa karate?”
Hari-hari kami pun bertambah dengan berlatih karate bersama. “Nggak usah kursus. Kursus sama Mas aja. Habis ini latihan modeling ya, biar jalanmu nggak lebih gagah dari Mas!” sindirnya sambil senyum.
Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku kemana ia pergi. Ia yang menolong saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak untukku.
Saat memasuki usia dewasa kami jadi makin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film, konser musik atau sekadar bercanda bersama teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelucon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak-bahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan dulu di Kemang atau tempat-tempat yang sedang happening.
Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya!
“Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?”
“Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang serumahku sering membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?”
“Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?”
Dan masih banyak lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku cuma mesam-mesem. Bangga.
Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum punya pacar. Apa jawabnya?
“Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! Hehehe,” kata Mas Gagah pura-pura serius.
Mas Gagah dalam pandanganku adalah sosok ideal. Kombinasi yang unik dari banyak talenta. Ia punya rancangan masa depan, tapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tapi tak pernah meninggalkan shalat! He’s a very easy going person. Almost perfect!
Huaa, itulah Mas Gagah. Mas Gagah-ku yang dulu!
Namun seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah. Drastis! Dan kalau aku tak salah, itu seusai ia pulang dari
(Edisi Lanjutan Cerpen Ketika Mas Gagah Pergi)
I
Mas Gagah berubah! Ya, sudah beberapa bulan belakangan ini Mas, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah.
Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah tingkat akhir di Teknik Sipil UI. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja ganteng! Mas Gagah juga sudah mampu membiayai kuliahnya sendiri dari hasil mengajar privat matematika untuk anak-anak SMP dan SMA, menjadi model majalah, hingga menjadi senpai di sebuah klub karate.
“Hai cewek tomboi!” sapanya suatu kali. “Waktunya kamu belajar bela diri! Percuma kan punya Mas karateka sabuk hitam, kalau kamu nggak bisa karate?”
Hari-hari kami pun bertambah dengan berlatih karate bersama. “Nggak usah kursus. Kursus sama Mas aja. Habis ini latihan modeling ya, biar jalanmu nggak lebih gagah dari Mas!” sindirnya sambil senyum.
Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku kemana ia pergi. Ia yang menolong saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak untukku.
Saat memasuki usia dewasa kami jadi makin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film, konser musik atau sekadar bercanda bersama teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelucon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak-bahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan dulu di Kemang atau tempat-tempat yang sedang happening.
Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya!
“Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?”
“Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang serumahku sering membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?”
“Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?”
Dan masih banyak lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku cuma mesam-mesem. Bangga.
Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum punya pacar. Apa jawabnya?
“Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! Hehehe,” kata Mas Gagah pura-pura serius.
Mas Gagah dalam pandanganku adalah sosok ideal. Kombinasi yang unik dari banyak talenta. Ia punya rancangan masa depan, tapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tapi tak pernah meninggalkan shalat! He’s a very easy going person. Almost perfect!
Huaa, itulah Mas Gagah. Mas Gagah-ku yang dulu!
Namun seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah. Drastis! Dan kalau aku tak salah, itu seusai ia pulang dari
Wahai Pemuda by Setia Furqon Kholid
Wahai Pemuda, Allah Lebih Menyukai Pribadi Mandiri daripada Meminta
Wahai pemuda, jangan bangga ketika kau bermobil mewah, bergadjet mahal dan selalu berpenampilan bermerek tapi semuanya pemberian orang tua.
Sungguh ketika itu berarti kamu masih meletakan tanganmu di bawah.
Sebagai peminta-minta meski pada orang tua sendiri.
Lihatlah, orangtuamu itu akan menua.
Dan tak bisa selalu ada memenuhi semua pinta.
Jikapun harta yang berlimpah itu akan jadi milikmu.
Semua itu akan lenyap jika kau tak belajar mengelolanya.
Padahal usiamu kini hampir dewasa, padahal kau sudah bergantung kepada orang tua terlalu lama.
Sejak kau bayi yang tak bisa apa-apa hingga kau kini sudah hampir dewasa.
Maka mulailah berpikir untuk hidupmu.
Mulailah rajut impianmu dan buat bangga orang tua yang telah membesarkanmu dengan segudang fasilitas mewahnya.
Agar kelak jika mereka tiada, mereka tersenyum bangga kepadamu.
“Sesungguhnya tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Mulailah dengan keluargamu dan sebaik-baik sedekah adalah yang datang dari orang yang tiada berlebih. (HR. Mutafaqun Alaihi)
Wahai pemuda, jangan bangga ketika kau bermobil mewah, bergadjet mahal dan selalu berpenampilan bermerek tapi semuanya pemberian orang tua.
Sungguh ketika itu berarti kamu masih meletakan tanganmu di bawah.
Sebagai peminta-minta meski pada orang tua sendiri.
Lihatlah, orangtuamu itu akan menua.
Dan tak bisa selalu ada memenuhi semua pinta.
Jikapun harta yang berlimpah itu akan jadi milikmu.
Semua itu akan lenyap jika kau tak belajar mengelolanya.
Padahal usiamu kini hampir dewasa, padahal kau sudah bergantung kepada orang tua terlalu lama.
Sejak kau bayi yang tak bisa apa-apa hingga kau kini sudah hampir dewasa.
Maka mulailah berpikir untuk hidupmu.
Mulailah rajut impianmu dan buat bangga orang tua yang telah membesarkanmu dengan segudang fasilitas mewahnya.
Agar kelak jika mereka tiada, mereka tersenyum bangga kepadamu.
“Sesungguhnya tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Mulailah dengan keluargamu dan sebaik-baik sedekah adalah yang datang dari orang yang tiada berlebih. (HR. Mutafaqun Alaihi)
Sabtu, 20 September 2014
Kutipan by Setia Furqon Kholid
Jangan pernah meragukan mimpi yang kau tuliskan. Karena Allah tak kan pernah lelah mengabulkan do'a hamba-hambaNya.
Tingkatkan :
Niat jadi tekad
Impian jadi kenyataan
Halangan jadi kesempatan
Niat jadi tekad
Impian jadi kenyataan
Halangan jadi kesempatan
Bukankah kenyataan hari ini impian kita kemarin? Yakinlah insyaAllah impian hari inipun kenyataan hari esok.
Surat untukmu
Surat untukmu,
Maaf, bertahun-tahun aku bersamamu. Begitu banyak kata yang telah
kutumpahkan, baik kata yang baik, maupun kata yang buruk. “Baik” ketika aku
senang, dan “buruk” ketika aku bersedih. Begitu banyak cerita yang sepertinya
jika tak kutumpahkan, aku akan meledak. aku tau, aku selalu tak menghargaimu
kala aku merasa sedih. Dan emosi dari
rasa sedih itu telah membuat aku lupa akan betapa berharganya kata, dan betapa
berharganya dirimu. Betapa mahalnya suasana yang tercipta, betapa mahalnya
suara hati yang mungkin hanya datang sesekali, bahkan bisa jadi tak pernah yang
langsung bisa kutuliskan padamu.
Maaf, untuk senyum yang muncul tenggelam dihadapanmu. Aku sedang banyak
belajar untuk mengendalikan emosi, agar emosi yang baik, tidak terlalu
berapi-api saat aku bahagia, begitupun juga,
emosi yang buruk tidak terlalu berlebihan saat aku bersedih atau marah. Aku
juga sedang mengontrol suara hatiku, agar jika aku menumpahkannya padamu,
semuanya mengalir tenang, tanpa terburu-buru, atau lamban, lalu berhenti
ditengah jalan.
Baiklah, "Ikrar mengikrar kata, merangkai seakan berdoa, tapi jika pupus,
aku bangkit dan menjadikanmu kenangan, serta penyimpan rahasia yang tak cukup
besar. Kata adalah baik, kata dan kamu adalah aku”
"Ini aku, kata..." II
Ia dengan firasatnya.
bertahun-tahun, aku bersamanya. Senyum yang muncul tenggelam
dihadapanku,
juga segerombol kata
yang entah apa itu benar-benar berasal dari hatinya yang terdalam, atau bukan.
Jika ia tersenyum,
bunga-bunga berjatuhan,
akupun seperti pelangi,
me-ji-ku-hi-bi-ni-u menghiasi setiap garisku,
tak jarang emoji yang lucu, bertebaran disekelilingku
Tapi jika ia menangis,
ruangku begitu sarat akan seribu kata kepedihan
terkadang, gerimis airmata pun berjatuhan
tapi aku tak pernah menyerah
Pernah ia bersandiwara
menjadi seorang
“Ini aku, kata”...
Hari ini,
Dimana selaksa puisi berjatuhan,
Memaksa tertumpah padaku, si suci ini.
“Ini aku, kata”, isi hatinya berkata.
Tapi si “kata” adalah banyak.
dan mereka berdesakan memenuhi ruang,
Ruang hati dan pikiran.
Memaksa keluar melalui tinta, atau tarian sekelompok
jari.
Pagi ini ia rindu,
Melukis firasat dengan kata
Menjejalkan belasan kalimat pada
Sabtu, 13 September 2014
Aku melihatmu 2
Aku melihatmu,
Dalam bayang yang tak sempat menjadi sebuah cerita
Atau mungkin belum sempat.
Tak ada kata, apalagi suara
Hanya segenap doa berusaha mengendalikan segalanya
Aku melihatmu,
Dimana kata berkata,
warna berbicara, dan anggai yang selalu kubaca samar,
menggantung seperti bingkai terpajang di dinding hati.
Aku melihatmu,
Dibawah langit yang sama, biru seperti kemarin,
Ketika malam irrasional menguasai bunga tidurku,
Juga saat hujan yang sesekali mampir dihalaman rumah kita.
Meski segala arti terjawab keraguan,
dan bayang terhalang kepalsuan,
Aku akan tetap melihatmu
dengan doa melalui-Nya.
Bersama kata yang terangkai seadanya, namun tulus,
Aku melihatmu.
Good Bye Days By Yui (Dengan Terjemahan)
Dakara ima ai ni yuku sou kimetan da
Poketto no kono kyoku wo kimi ni kikasetai
Sotto voryuumu wo agete tashikamete mita yo
Oh good-bye days
Ima kawaru ki ga suru
Kinou made ni so long
Kakko yokunai yasashisa ga soba ni aru kara
la la la la la ~With you
Katahou no iyafon wo kimi ni watasu
Yukkuri to nagarekomu kono shunkan
Umaku ai sete imasu ka? Tama ni mayou kedo
Oh good-bye days
Ima kawarihajimeta mune no oku alright
Kakko yokunai yasashisa ga soba ni aru kara
la la la la la ~With you
Dekireba kanashii omoi nante shitakunai
Demo yatte kuru desho?
Sono toki egao de
Yeah hello! My friend nante sa
Ieta nara ii noni…
Onaji uta wo kuchizusamu toki
Soba ni ite I wish
Kakko yokunai yasashisa ni aete yokatta yo
la la la la la …Good-bye days
Terjemahan
Jadi aku akan bertemu denganmu sekarang, aku telah menetapkan pikiranku
Aku ingin kau mendengar lagu di dalam sakuku
Poketto no kono kyoku wo kimi ni kikasetai
Sotto voryuumu wo agete tashikamete mita yo
Oh good-bye days
Ima kawaru ki ga suru
Kinou made ni so long
Kakko yokunai yasashisa ga soba ni aru kara
la la la la la ~With you
Katahou no iyafon wo kimi ni watasu
Yukkuri to nagarekomu kono shunkan
Umaku ai sete imasu ka? Tama ni mayou kedo
Oh good-bye days
Ima kawarihajimeta mune no oku alright
Kakko yokunai yasashisa ga soba ni aru kara
la la la la la ~With you
Dekireba kanashii omoi nante shitakunai
Demo yatte kuru desho?
Sono toki egao de
Yeah hello! My friend nante sa
Ieta nara ii noni…
Onaji uta wo kuchizusamu toki
Soba ni ite I wish
Kakko yokunai yasashisa ni aete yokatta yo
la la la la la …Good-bye days
Terjemahan
Jadi aku akan bertemu denganmu sekarang, aku telah menetapkan pikiranku
Aku ingin kau mendengar lagu di dalam sakuku
Mahkota Cinta oleh Habiburrahman El Shirazy (Bag.III)
Pukul tujuh pagi, Zul baru bangun tidur. la kaget karena
bangun terlalu siang. Sinar matahari telah menerobos
jendela dan masuk ke dalam kamarnya. la langsung
bangkit dan mengambil air wudhu dengan tergesa-gesa. la
belum shalat Subuh. Ketika hendak shalat ia bingung arah
kiblat. Terpaksa ia keluar kamar untuk menanyakan arah
kiblat. Di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang santai,
Sumiyati dan Iin sedang asyik nonton televisi.
"Waduh arah kiblat mana ya? Waduh kok saya tidak
dibangunkan. Jadi terlambat shalat Subuh!" Kata Zul setengah
menggerutu. Tidak jelas kepada siapa kata-kata
itu ia tujukan. Pada Sumiyati atau pada Iin, atau pada
kedua-duanya.
"Maaf Dik, kami segan mau membangunkan. Kiblat
ke arah jendela Dik." Jawab Iin kalem sambil memandang
ke arah Zul yang masih jelas bekasnya dari tidur.
Zul kembali ke kamar dan shalat. Setelah itu ia
kembali ke ruangan tamu. Ia tidak melihat Mari.
"Lha Mbak Mar ke mana? Apa masih tidur juga?"
"Ya tidak. Mbak Mar itu orang paling disiplin di
rumah ini. Ia sudah bangun sejak jam empat tadi.
Biasanya shalat Tahajjud. Terus nyuci pakaian. Tadi
setelah shalat Subuh ia langsung berangkat kerja." Jelas
Sumiyati santai sambil mengambil kacang tanah yang
ada di depannya. Lalu mengeluarkan isinya dan
memasukkan ke dalam mulutnya.
"O ya sebelum berangkat tadi Mar nitip pesan. Kalau
kamu sudah bisa menghubungi orang yang kamu tuju
dan mau pergi pagi ini atau siang ini tidak apa-apa. Kalau
masih betah dan mau menginap barang satu dua hari
lagi ya tidak apa-apa. Hanya saja Mar minta kalau siang
ini orang itu tidak juga bisa kauhubungi kau sebaiknya
menginap semalam lagi. Siang ini dia akan mencoba
mencarikan informasi tentang tempat yang lebih pas,
sekaligus informasi tentang pekerjaan jika ada/' Iin
menyahut.
"Sebaiknya, siang ini Mas istirahat saja dulu di sini.
Kan baru datang. Sambil menunggu informasi dari Mbak
Mar jika nanti ia kembali," sambung Sumiyati memberi
saran.
"Saya mau keluar sebentar Mbak. Sekalian lihat-lihat
lingkungan. Saya mau coba telpon orang yang harus saya
hubungi itu sekali lagi," kata Zul.
"Ya, hati-hati Dik. Jangan lupa bawa
bangun terlalu siang. Sinar matahari telah menerobos
jendela dan masuk ke dalam kamarnya. la langsung
bangkit dan mengambil air wudhu dengan tergesa-gesa. la
belum shalat Subuh. Ketika hendak shalat ia bingung arah
kiblat. Terpaksa ia keluar kamar untuk menanyakan arah
kiblat. Di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang santai,
Sumiyati dan Iin sedang asyik nonton televisi.
"Waduh arah kiblat mana ya? Waduh kok saya tidak
dibangunkan. Jadi terlambat shalat Subuh!" Kata Zul setengah
menggerutu. Tidak jelas kepada siapa kata-kata
itu ia tujukan. Pada Sumiyati atau pada Iin, atau pada
kedua-duanya.
"Maaf Dik, kami segan mau membangunkan. Kiblat
ke arah jendela Dik." Jawab Iin kalem sambil memandang
ke arah Zul yang masih jelas bekasnya dari tidur.
Zul kembali ke kamar dan shalat. Setelah itu ia
kembali ke ruangan tamu. Ia tidak melihat Mari.
"Lha Mbak Mar ke mana? Apa masih tidur juga?"
"Ya tidak. Mbak Mar itu orang paling disiplin di
rumah ini. Ia sudah bangun sejak jam empat tadi.
Biasanya shalat Tahajjud. Terus nyuci pakaian. Tadi
setelah shalat Subuh ia langsung berangkat kerja." Jelas
Sumiyati santai sambil mengambil kacang tanah yang
ada di depannya. Lalu mengeluarkan isinya dan
memasukkan ke dalam mulutnya.
"O ya sebelum berangkat tadi Mar nitip pesan. Kalau
kamu sudah bisa menghubungi orang yang kamu tuju
dan mau pergi pagi ini atau siang ini tidak apa-apa. Kalau
masih betah dan mau menginap barang satu dua hari
lagi ya tidak apa-apa. Hanya saja Mar minta kalau siang
ini orang itu tidak juga bisa kauhubungi kau sebaiknya
menginap semalam lagi. Siang ini dia akan mencoba
mencarikan informasi tentang tempat yang lebih pas,
sekaligus informasi tentang pekerjaan jika ada/' Iin
menyahut.
"Sebaiknya, siang ini Mas istirahat saja dulu di sini.
Kan baru datang. Sambil menunggu informasi dari Mbak
Mar jika nanti ia kembali," sambung Sumiyati memberi
saran.
"Saya mau keluar sebentar Mbak. Sekalian lihat-lihat
lingkungan. Saya mau coba telpon orang yang harus saya
hubungi itu sekali lagi," kata Zul.
"Ya, hati-hati Dik. Jangan lupa bawa
Mahkota Cinta oleh Habiburrahman El Shirazy (Bag.II)
Menjelang Maghrib bus Trans Nasional memasuki
kota Kuala Lumpur. Zul menikmati pemandangan senja
di Kuala Lumpur dengan seksama. Jalan tol yang lebar
dan melingkar. Gedung-gedung tinggi. Hutan kota yang
masih terjaga. la harus mengakui, Kuala Lumpur jauh
lebih rapi dari Jakarta. la mencari-cari gedung yang
menjadi simbol Kuala Lumpur. la melongok-longok,
mencari-cari Menara Kembar. la tidak melihatnya.
"Menara Kembarnya mana ya Mbak, kok tidak
kelihatan?" tanyanya pada Mari.
"Kamu jangan memandang ke arah situ. Pandanglah
ke arah sana. Di sela gedung menjulang itu. Itulah
Menara Kembar," jawab Mari sambil menunjuk ke arah
Menara Kembar.
"Wah iya. Saya penasaran ingin lihat dari dekat."
"Jangan tergesa-gesa. Nanti kau akan punya waktu
yang cukup untuk melihatnya. Kau bahkan bisa makan
di sana. Kau juga bisa refreshing di sana. Di bawah
menara itu ada tamannya yang rapi dan indah. Namanya
taman KLCC. Taman itu terbuka untuk umum dan
gratis."
Zul langsung membayangkan nyamannya berjalanjalan
di bawah Menara Kembar dan nyantai di taman
KLCC. Tiba-tiba ia teringat Najibah. Gadis satu desa
dengannya yang pernah menjadi tambatan hatinya.
Najibah pernah minta padanya untuk rekreasi ke Taman
Kiai Langgeng. Dan ia berjanji pada gadis itu akan
mengajaknya ke Taman Kiai Langgeng suatu kali.
Namun sampai saat ini ia tidak bisa memenuhi janji itu.
Dan tidak mungkin rasanya memenuhi janjinya itu.
Sebab, gadis yang punya lesung pipi indah itu, kini telah
menikah dengan orang lain. Ah, seandainya ia kaya,
tentulah ia bisa menikahi gadis itu dan mengajaknya
jalan-jalan ke Taman Kiai Langgeng. Bahkan mengajaknya
ke Kuala Lumpur dan berjalan-jalan di taman
KLCC itu.
Karena kemiskinannyalah, akhirnya Najibah
memutuskan menikah dengan orang lain setelah tiga kali.
Itu pun setelah Najibah memintanya untuk segera
menikahinya dan ia merasa tidak mampu. Ia minta
ditangguhkan beberapa tahun lagi. Ia tidak bisa memberi
jawaban pasti. Dan Najibah merasa tidak bisa bergantung
pada ketidakpastian.
"Maaf, Mas Zul, bukan saya tidak cinta sama Mas.
kota Kuala Lumpur. Zul menikmati pemandangan senja
di Kuala Lumpur dengan seksama. Jalan tol yang lebar
dan melingkar. Gedung-gedung tinggi. Hutan kota yang
masih terjaga. la harus mengakui, Kuala Lumpur jauh
lebih rapi dari Jakarta. la mencari-cari gedung yang
menjadi simbol Kuala Lumpur. la melongok-longok,
mencari-cari Menara Kembar. la tidak melihatnya.
"Menara Kembarnya mana ya Mbak, kok tidak
kelihatan?" tanyanya pada Mari.
"Kamu jangan memandang ke arah situ. Pandanglah
ke arah sana. Di sela gedung menjulang itu. Itulah
Menara Kembar," jawab Mari sambil menunjuk ke arah
Menara Kembar.
"Wah iya. Saya penasaran ingin lihat dari dekat."
"Jangan tergesa-gesa. Nanti kau akan punya waktu
yang cukup untuk melihatnya. Kau bahkan bisa makan
di sana. Kau juga bisa refreshing di sana. Di bawah
menara itu ada tamannya yang rapi dan indah. Namanya
taman KLCC. Taman itu terbuka untuk umum dan
gratis."
Zul langsung membayangkan nyamannya berjalanjalan
di bawah Menara Kembar dan nyantai di taman
KLCC. Tiba-tiba ia teringat Najibah. Gadis satu desa
dengannya yang pernah menjadi tambatan hatinya.
Najibah pernah minta padanya untuk rekreasi ke Taman
Kiai Langgeng. Dan ia berjanji pada gadis itu akan
mengajaknya ke Taman Kiai Langgeng suatu kali.
Namun sampai saat ini ia tidak bisa memenuhi janji itu.
Dan tidak mungkin rasanya memenuhi janjinya itu.
Sebab, gadis yang punya lesung pipi indah itu, kini telah
menikah dengan orang lain. Ah, seandainya ia kaya,
tentulah ia bisa menikahi gadis itu dan mengajaknya
jalan-jalan ke Taman Kiai Langgeng. Bahkan mengajaknya
ke Kuala Lumpur dan berjalan-jalan di taman
KLCC itu.
Karena kemiskinannyalah, akhirnya Najibah
memutuskan menikah dengan orang lain setelah tiga kali.
Itu pun setelah Najibah memintanya untuk segera
menikahinya dan ia merasa tidak mampu. Ia minta
ditangguhkan beberapa tahun lagi. Ia tidak bisa memberi
jawaban pasti. Dan Najibah merasa tidak bisa bergantung
pada ketidakpastian.
"Maaf, Mas Zul, bukan saya tidak cinta sama Mas.
Mahkota Cinta oleh Habiburrahman El Shirazy (Bag.I)
Mata pemuda itu memandang ke luar jendela. Lautan
terhampar di depan mata. Ombak seolah menari-nari
riang. Sinar matahari memantul-mantul keperakan. Dari
karcis yang ia pegang, ia tahu bahwa feri yang ia
tumpangi bernama Lintas Samudera. Tujuan feri yang
bertolak dari pelabuhan Batam itu adalah pelabuhan Johor
Bahru.
Ia memejamkan mata seraya meneguhkan hatinya.
Ia meyakinkan dirinya harus kuat. Ya, sebagai lelaki ia
harus kuat. Meskipun ia merasa kini tidak memiliki siapa- siapa
lagi. Bagi seorang lelaki cukuplah keteguhan hati
menjadi teman dan penenteram jiwa.
la kembali menegaskan niat, bahwa ia sedang
melakukan pengembaraan untuk mengubah takdir.
Mengubah nasib. Seperti saran Pak Hasan, ia harus berani
berhijrah dari satu takdir Allah ke takdir Allah lain yang
lebih baik. Feri Lintas Samudera terus melaju ke depan.
Singapura semakin dekat di depan, dan Batam semakin
jauh di belakang. Namun, Lintas Samudera tidak hendak
menuju Singapura, tapi menuju pelabuhan Johor Bahru,
Malaysia.
"Baru pertama ke Malaysia ya Dik?" tanya perempuan
muda yang duduk di sampingnya. Perempuan itu
memakai celana jin putih dan jaket ketat biru muda.
Rambutnya lurus digerai. Ia menaksir usia
perempuan itu sekitar 27 atau 28.
"Iya Mbak. Mbak juga yang pertama?" jawabnya
balik bertanya.
"Tidak. Saya sudah empat tahun di Malaysia."
"Berarti sejak tahun 2000 ya Mbak."
"Tidak. Sejak awal 2001."
"Kerja ya Mbak?"
"Iya Dik. Kalau adik, mau kerja? Atau mau sekolah?"
Ia berpikir sejenak. Ia tidak tahu pasti. Ke Malaysia
mau bekerja atau mau sekolah. Sesungguhnya selama
ini ia merantau dari satu daerah ke daerah lain, selain
untuk bertahan hidup juga demi mencari takdir yang
lebih baik.
"Kok malah bengong Dik."
"E... tidak, saya ke Malaysia mungkin untuk dua
duanya. Ya untuk cari kerja dan untuk sekolah lagi."
"Baguslah. Sudah ada pandangan mau kerja di
mana? Atau sudah ada agen yang mengurus semuanya."
"Belum sih Mbak. Nanti saya cari di sana saja. Mbak
kerja di mana?"
"Saya kerja di sebuah kilang di kawasan Subang
Jaya. Kalau adik mau, saya bisa bantu. Saya punya
banyak teman yang bisa membantu. O ya kenalkan,
nama saya Siti Martini. Biasa dipanggil Mar atau Mari."
Perempuan muda itu mengulurkan tangan kanannya.
Pemuda itu juga mengulurkan tangannya dan
menjabat tangan perempuan muda itu.
"Terima kasih. Nama saya
terhampar di depan mata. Ombak seolah menari-nari
riang. Sinar matahari memantul-mantul keperakan. Dari
karcis yang ia pegang, ia tahu bahwa feri yang ia
tumpangi bernama Lintas Samudera. Tujuan feri yang
bertolak dari pelabuhan Batam itu adalah pelabuhan Johor
Bahru.
Ia memejamkan mata seraya meneguhkan hatinya.
Ia meyakinkan dirinya harus kuat. Ya, sebagai lelaki ia
harus kuat. Meskipun ia merasa kini tidak memiliki siapa- siapa
lagi. Bagi seorang lelaki cukuplah keteguhan hati
menjadi teman dan penenteram jiwa.
la kembali menegaskan niat, bahwa ia sedang
melakukan pengembaraan untuk mengubah takdir.
Mengubah nasib. Seperti saran Pak Hasan, ia harus berani
berhijrah dari satu takdir Allah ke takdir Allah lain yang
lebih baik. Feri Lintas Samudera terus melaju ke depan.
Singapura semakin dekat di depan, dan Batam semakin
jauh di belakang. Namun, Lintas Samudera tidak hendak
menuju Singapura, tapi menuju pelabuhan Johor Bahru,
Malaysia.
"Baru pertama ke Malaysia ya Dik?" tanya perempuan
muda yang duduk di sampingnya. Perempuan itu
memakai celana jin putih dan jaket ketat biru muda.
Rambutnya lurus digerai. Ia menaksir usia
perempuan itu sekitar 27 atau 28.
"Iya Mbak. Mbak juga yang pertama?" jawabnya
balik bertanya.
"Tidak. Saya sudah empat tahun di Malaysia."
"Berarti sejak tahun 2000 ya Mbak."
"Tidak. Sejak awal 2001."
"Kerja ya Mbak?"
"Iya Dik. Kalau adik, mau kerja? Atau mau sekolah?"
Ia berpikir sejenak. Ia tidak tahu pasti. Ke Malaysia
mau bekerja atau mau sekolah. Sesungguhnya selama
ini ia merantau dari satu daerah ke daerah lain, selain
untuk bertahan hidup juga demi mencari takdir yang
lebih baik.
"Kok malah bengong Dik."
"E... tidak, saya ke Malaysia mungkin untuk dua
duanya. Ya untuk cari kerja dan untuk sekolah lagi."
"Baguslah. Sudah ada pandangan mau kerja di
mana? Atau sudah ada agen yang mengurus semuanya."
"Belum sih Mbak. Nanti saya cari di sana saja. Mbak
kerja di mana?"
"Saya kerja di sebuah kilang di kawasan Subang
Jaya. Kalau adik mau, saya bisa bantu. Saya punya
banyak teman yang bisa membantu. O ya kenalkan,
nama saya Siti Martini. Biasa dipanggil Mar atau Mari."
Perempuan muda itu mengulurkan tangan kanannya.
Pemuda itu juga mengulurkan tangannya dan
menjabat tangan perempuan muda itu.
"Terima kasih. Nama saya
Because I Miss You By Jung Yong Hwa (English Transl.)
Always the exactly same sky and
always the same day
Only thing that is different is
that you are not here
I thought I’ve let you go.
Without anything left
No, no. I still haven’t been able
to let you go
Longing for you, I am longing
for you.
Because I am longing for you,
I call you and call you by myself
everyday
Missing you, I am missing you.
Because I am missing you,
now I just call out your name
like a habit.
Even today
Day by day, I feel like I am
dying
so what could I do?
Love you, Love you. I love you.
Without even being able to tell
you these,
I’ve had to let you go like that
Sorry, I am sorry. Can you hear
me?
Could you be able to hear my
late confession?
I love you.
always the same day
Only thing that is different is
that you are not here
I thought I’ve let you go.
Without anything left
No, no. I still haven’t been able
to let you go
Longing for you, I am longing
for you.
Because I am longing for you,
I call you and call you by myself
everyday
Missing you, I am missing you.
Because I am missing you,
now I just call out your name
like a habit.
Even today
Day by day, I feel like I am
dying
so what could I do?
Love you, Love you. I love you.
Without even being able to tell
you these,
I’ve had to let you go like that
Sorry, I am sorry. Can you hear
me?
Could you be able to hear my
late confession?
I love you.
Kamis, 04 September 2014
Aku melihatmu
Aku melihatmu,
Dalam dunia yang sangat terbatas
Hanya sempat melihat dan bermimpi
Semoga itu kamu.
“Bersyukur” berbuah menyenangkan
Dan melihatmu adalah rasa syukur
Juga doa yang menjadi motivasi
“Berusahalah yang terbaik”
Tidak ada, (lagi)
“Arsiran” atau “Berdiri sejak
awal disini” kali ini
Hanya bisa berharap kecil tanpa menunggu
“Hope Allah give me the way”
Merasa seperti ini juga sudah cukup baik,
bahkan sebenarnya lebih baik :)
Langganan:
Postingan (Atom)







