Sabtu, 13 September 2014

Aku melihatmu 2



Aku melihatmu,
Dalam bayang yang tak sempat menjadi sebuah cerita
Atau mungkin belum sempat.
Tak ada kata, apalagi suara
Hanya segenap doa berusaha mengendalikan segalanya

Aku melihatmu,
Dimana kata berkata,
warna berbicara, dan anggai yang selalu kubaca samar,
menggantung seperti bingkai terpajang di dinding hati.

Aku melihatmu,
Dibawah langit yang sama, biru seperti kemarin,
Ketika malam irrasional menguasai bunga tidurku,
Juga saat hujan yang sesekali mampir dihalaman rumah kita.

Meski segala arti terjawab keraguan,
dan bayang terhalang kepalsuan,
Aku akan tetap melihatmu
dengan doa melalui-Nya.
Bersama kata yang terangkai seadanya, namun tulus,
Aku melihatmu.



Good Bye Days By Yui (Dengan Terjemahan)

Dakara ima ai ni yuku sou kimetan da
Poketto no kono kyoku wo kimi ni kikasetai
Sotto voryuumu wo agete tashikamete mita yo

Oh good-bye days
Ima kawaru ki ga suru
Kinou made ni so long
Kakko yokunai yasashisa ga soba ni aru kara
la la la la la ~With you

Katahou no iyafon wo kimi ni watasu
Yukkuri to nagarekomu kono shunkan
Umaku ai sete imasu ka? Tama ni mayou kedo

Oh good-bye days
Ima kawarihajimeta mune no oku alright
Kakko yokunai yasashisa ga soba ni aru kara
la la la la la ~With you

Dekireba kanashii omoi nante shitakunai
Demo yatte kuru desho?
Sono toki egao de
Yeah hello! My friend nante sa
Ieta nara ii noni…

Onaji uta wo kuchizusamu toki
Soba ni ite I wish
Kakko yokunai yasashisa ni aete yokatta yo
la la la la la …Good-bye days

Terjemahan

Jadi aku akan bertemu denganmu sekarang, aku telah menetapkan pikiranku
Aku ingin kau mendengar lagu di dalam sakuku

Kutipan

1
3
 





 
  
4


Source : Google

Mahkota Cinta oleh Habiburrahman El Shirazy (Bag.III)

Pukul tujuh pagi, Zul baru bangun tidur. la kaget karena
bangun terlalu siang. Sinar matahari telah menerobos
jendela dan masuk ke dalam kamarnya. la langsung
bangkit dan mengambil air wudhu dengan tergesa-gesa. la
belum shalat Subuh. Ketika hendak shalat ia bingung arah
kiblat. Terpaksa ia keluar kamar untuk menanyakan arah
kiblat. Di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang santai,
Sumiyati dan Iin sedang asyik nonton televisi.

"Waduh arah kiblat mana ya? Waduh kok saya tidak
dibangunkan. Jadi terlambat shalat Subuh!" Kata Zul setengah
menggerutu. Tidak jelas kepada siapa kata-kata
itu ia tujukan. Pada Sumiyati atau pada Iin, atau pada
kedua-duanya.

"Maaf Dik, kami segan mau membangunkan. Kiblat
ke arah jendela Dik." Jawab Iin kalem sambil memandang
ke arah Zul yang masih jelas bekasnya dari tidur.

Zul kembali ke kamar dan shalat. Setelah itu ia
kembali ke ruangan tamu. Ia tidak melihat Mari.

"Lha Mbak Mar ke mana? Apa masih tidur juga?"

"Ya tidak. Mbak Mar itu orang paling disiplin di
rumah ini. Ia sudah bangun sejak jam empat tadi.
Biasanya shalat Tahajjud. Terus nyuci pakaian. Tadi
setelah shalat Subuh ia langsung berangkat kerja." Jelas
Sumiyati santai sambil mengambil kacang tanah yang
ada di depannya. Lalu mengeluarkan isinya dan
memasukkan ke dalam mulutnya.

"O ya sebelum berangkat tadi Mar nitip pesan. Kalau
kamu sudah bisa menghubungi orang yang kamu tuju
dan mau pergi pagi ini atau siang ini tidak apa-apa. Kalau
masih betah dan mau menginap barang satu dua hari
lagi ya tidak apa-apa. Hanya saja Mar minta kalau siang
ini orang itu tidak juga bisa kauhubungi kau sebaiknya
menginap semalam lagi. Siang ini dia akan mencoba
mencarikan informasi tentang tempat yang lebih pas,
sekaligus informasi tentang pekerjaan jika ada/' Iin
menyahut.

"Sebaiknya, siang ini Mas istirahat saja dulu di sini.
Kan baru datang. Sambil menunggu informasi dari Mbak
Mar jika nanti ia kembali," sambung Sumiyati memberi
saran.

"Saya mau keluar sebentar Mbak. Sekalian lihat-lihat
lingkungan. Saya mau coba telpon orang yang harus saya
hubungi itu sekali lagi," kata Zul.

"Ya, hati-hati Dik. Jangan lupa bawa

Mahkota Cinta oleh Habiburrahman El Shirazy (Bag.II)

Menjelang Maghrib bus Trans Nasional memasuki
kota Kuala Lumpur. Zul menikmati pemandangan senja
di Kuala Lumpur dengan seksama. Jalan tol yang lebar
dan melingkar. Gedung-gedung tinggi. Hutan kota yang
masih terjaga. la harus mengakui, Kuala Lumpur jauh
lebih rapi dari Jakarta. la mencari-cari gedung yang
menjadi simbol Kuala Lumpur. la melongok-longok,
mencari-cari Menara Kembar. la tidak melihatnya.

"Menara Kembarnya mana ya Mbak, kok tidak
kelihatan?" tanyanya pada Mari.

"Kamu jangan memandang ke arah situ. Pandanglah
ke arah sana. Di sela gedung menjulang itu. Itulah
Menara Kembar," jawab Mari sambil menunjuk ke arah
Menara Kembar.

"Wah iya. Saya penasaran ingin lihat dari dekat."

"Jangan tergesa-gesa. Nanti kau akan punya waktu
yang cukup untuk melihatnya. Kau bahkan bisa makan
di sana. Kau juga bisa refreshing di sana. Di bawah
menara itu ada tamannya yang rapi dan indah. Namanya
taman KLCC. Taman itu terbuka untuk umum dan
gratis."

Zul langsung membayangkan nyamannya berjalanjalan
di bawah Menara Kembar dan nyantai di taman
KLCC. Tiba-tiba ia teringat Najibah. Gadis satu desa
dengannya yang pernah menjadi tambatan hatinya.

Najibah pernah minta padanya untuk rekreasi ke Taman
Kiai Langgeng. Dan ia berjanji pada gadis itu akan
mengajaknya ke Taman Kiai Langgeng suatu kali.
Namun sampai saat ini ia tidak bisa memenuhi janji itu.
Dan tidak mungkin rasanya memenuhi janjinya itu.

Sebab, gadis yang punya lesung pipi indah itu, kini telah
menikah dengan orang lain. Ah, seandainya ia kaya,
tentulah ia bisa menikahi gadis itu dan mengajaknya
jalan-jalan ke Taman Kiai Langgeng. Bahkan mengajaknya
ke Kuala Lumpur dan berjalan-jalan di taman

KLCC itu.


Karena kemiskinannyalah, akhirnya Najibah
memutuskan menikah dengan orang lain setelah tiga kali.
Itu pun setelah Najibah memintanya untuk segera
menikahinya dan ia merasa tidak mampu. Ia minta
ditangguhkan beberapa tahun lagi. Ia tidak bisa memberi
jawaban pasti. Dan Najibah merasa tidak bisa bergantung
pada ketidakpastian.

"Maaf, Mas Zul, bukan saya tidak cinta sama Mas.

Mahkota Cinta oleh Habiburrahman El Shirazy (Bag.I)

Mata pemuda itu memandang ke luar jendela. Lautan
terhampar di depan mata. Ombak seolah menari-nari
riang. Sinar matahari memantul-mantul keperakan. Dari
karcis yang ia pegang, ia tahu bahwa feri yang ia
tumpangi bernama Lintas Samudera. Tujuan feri yang
bertolak dari pelabuhan Batam itu adalah pelabuhan Johor
Bahru.

Ia memejamkan mata seraya meneguhkan hatinya.
Ia meyakinkan dirinya harus kuat. Ya, sebagai lelaki ia
harus kuat. Meskipun ia merasa kini tidak memiliki siapa- siapa
lagi. Bagi seorang lelaki cukuplah keteguhan hati
menjadi teman dan penenteram jiwa.

la kembali menegaskan niat, bahwa ia sedang
melakukan pengembaraan untuk mengubah takdir.
Mengubah nasib. Seperti saran Pak Hasan, ia harus berani
berhijrah dari satu takdir Allah ke takdir Allah lain yang
lebih baik. Feri Lintas Samudera terus melaju ke depan.
Singapura semakin dekat di depan, dan Batam semakin
jauh di belakang. Namun, Lintas Samudera tidak hendak
menuju Singapura, tapi menuju pelabuhan Johor Bahru,
Malaysia.

"Baru pertama ke Malaysia ya Dik?" tanya perempuan
muda yang duduk di sampingnya. Perempuan itu
memakai celana jin putih dan jaket ketat biru muda.

Rambutnya lurus digerai. Ia menaksir usia
perempuan itu sekitar 27 atau 28.

"Iya Mbak. Mbak juga yang pertama?" jawabnya
balik bertanya.

"Tidak. Saya sudah empat tahun di Malaysia."

"Berarti sejak tahun 2000 ya Mbak."

"Tidak. Sejak awal 2001."

"Kerja ya Mbak?"

"Iya Dik. Kalau adik, mau kerja? Atau mau sekolah?"

Ia berpikir sejenak. Ia tidak tahu pasti. Ke Malaysia
mau bekerja atau mau sekolah. Sesungguhnya selama
ini ia merantau dari satu daerah ke daerah lain, selain
untuk bertahan hidup juga demi mencari takdir yang
lebih baik.

"Kok malah bengong Dik."

"E... tidak, saya ke Malaysia mungkin untuk dua
duanya. Ya untuk cari kerja dan untuk sekolah lagi."

"Baguslah. Sudah ada pandangan mau kerja di
mana? Atau sudah ada agen yang mengurus semuanya."

"Belum sih Mbak. Nanti saya cari di sana saja. Mbak
kerja di mana?"

"Saya kerja di sebuah kilang di kawasan Subang
Jaya. Kalau adik mau, saya bisa bantu. Saya punya
banyak teman yang bisa membantu. O ya kenalkan,
nama saya Siti Martini. Biasa dipanggil Mar atau Mari."
Perempuan muda itu mengulurkan tangan kanannya.
Pemuda itu juga mengulurkan tangannya dan
menjabat tangan perempuan muda itu.

"Terima kasih. Nama saya

Because I Miss You By Jung Yong Hwa (English Transl.)

Always the exactly same sky and
always the same day
Only thing that is different is
that you are not here
I thought I’ve let you go.
Without anything left
No, no. I still haven’t been able
to let you go
Longing for you, I am longing
for you.
Because I am longing for you,
I call you and call you by myself
everyday
Missing you, I am missing you.
Because I am missing you,
now I just call out your name
like a habit.
Even today
Day by day, I feel like I am
dying
so what could I do?
Love you, Love you. I love you.
Without even being able to tell
you these,
I’ve had to let you go like that
Sorry, I am sorry. Can you hear
me?
Could you be able to hear my
late confession?
I love you.

Kamis, 04 September 2014

Aku melihatmu



Aku melihatmu,
Dalam dunia yang sangat terbatas
Hanya sempat melihat dan bermimpi
Semoga itu kamu.

“Bersyukur” berbuah menyenangkan
Dan melihatmu adalah rasa syukur
Juga doa yang menjadi motivasi
“Berusahalah yang terbaik”

Tidak ada, (lagi)
“Arsiran” atau “Berdiri sejak awal disini” kali ini
Hanya bisa berharap kecil tanpa menunggu
“Hope Allah give me the way”

Merasa seperti ini juga sudah cukup baik,
bahkan sebenarnya lebih baik :)


S untuk Semu



3 Sept 14  20:31


S untuk Semu, dan F untuk Firasat. Dan kamu adalah keduanya. Sesuatu yang mengusik hati dan kepalaku. Usikan yang indah.

Jika M untuk Mimpi, maka kuharap tak ada B untuk Bersedih. Aku hanya ingin K untuk Kenyataan dan R untuk rasional. Kenyataan yang rasional.

Jika F adalah firasat dan S adalah kamu, kuharap F adalah B untuk Benar bahwa S adalah F-ku.




Waktu memaksaku pergi


Rabu, 3 September 2014 --- 19:02

Waktu memaksaku pergi.
Aku sulit untuk kembali.
Karena kini,
Langit berbeda,
Aku berbeda,
Suasana berbeda,
Waktu berbeda,
Hanya satu hal yang kutahu sama, yaitu kau.
Masih sama seperti catatanku yang tak bisa terpublish.
“Kau tidak akan pernah bisa menyukaiku, meskipun aku bertahan seumur hidupku untuk tetap menyukaimu sepihak seperti ini”.
Tapi...
kini rasa pun ikut berbeda
Tidak ada menyukai sepihak, apalagi saling menyukai.
Aku berhasil mati rasa setelah terlalu lama kau pergi.
Dan kini aku tidak melihatmu didepanku, atau aku dibelakangmu.
Tapi kamu disana, dan aku disini.
Aku sibuk berjalan dan kau,
Entah, aku tak melihatmu kau sedang apa.
Aku tak bisa lagi mendapati diriku tersenyum saat mendengar namamu, bahkan ketika hatiku sendiri yang menyerukannya.
Semuanya mati, hambar, kebal, tak berasa apa-apa.
Bersyukurlah,
Aku merasa seperti baru saja bangun dari bunga tidur yang amat panjang
Tapi menjadi kenyataan.
Kenyataan karena kertas-kertas itu, dinding-dinding itu, tak bisa berbohong
Bahwa mereka menyimpan bukti yang meyakinkan bahwa aku pernah melakukan bunga tidur itu secara nyata.