Jumat, 03 Oktober 2014

Hai pelangiku

 
Hai, pelangiku
Terima kasih telah mewarnai hari-hariku
Ada begitu banyak rona, cita, emosi dan perasaan yang
Tak dapat aku ungkapkan satu persatu
Terlalu indah

Hai pelangiku,
Terima kasih telah mengajarkanku kesabaran
Karena perbedaan kalian yang begitu banyak satu dengan yang lainnya
Membuat aku paham dan belajar bersikap adil
Untuk setiap jiwa yang haus akan pengertian
Semoga aku bisa lebih baik lagi

Hai pelangiku,
Maaf untuk kata yang tak semestinya terlontarkan
Maaf untuk ilmu yang belum sempat aku bagi
Maaf untuk kekhilafan yang masih saja terjadi padaku secara tak sengaja
Maaf untuk sikap yang kurang berkenan,
Sekali lagi, semoga aku bisa belajar lebih baik lagi  

Hai pelangiku,
Jangan pernah bosan
Jangan pernah lelah
Untuk belajar dan saling mendoakan
Bersama warna yang kalian ciptakan, bersama ilmu yang kita cari

Selamat datang kembali, tuan




Selamat datang kembali, Tuan
Duduklah.
Hei, mengapa lebih senang berada di luar? Tak pernah sekali pun aku melihatmu masuk, bahkan duduk. walaupun aku sudah pernah menyuruhmu masuk setiap kali kau berkunjung.
Tapi lagi lagi tanpa kata, apalagi suara.
Hanya beberapa tanda dan senyum manismu.
Senyum semanis jarak, semanis batas.
Tapi aku mulai menyukainya.
Menyukai caramu yang lebih senang berada beberapa meter lebih jauh dariku.
Maksudku, ribuan mil dariku.

Rabu, 01 Oktober 2014

Mahkota Cinta oleh Habiburrahman El Shirazy (Bag.V)

Dua hari pertama di Pantai Dalam Kuala Lumpur,Zul sibuk mengurus berkas-berkas pendaf tarannya ke
Universiti Malaya. Dengan sabar Sugeng menemani dan
mengantar ke sana kemari. Sugeng juga yang mengusahakan
rekomendasi dari dua orang guru besar di
Universiti Malaya (UM). Dan di hari ketiga berkas itu
berhasil dimasukkan ke Institute Postgraduate Program
(IPS). Zul mengambil program kerja kursus dan tesis di
Fakultas Pendidikan Jurusan Sosiologi Pendidikan.

"Kita tinggal menunggu surat panggilan dari UM.

Jika diterima nanti pihak IPS UM akan mengirim offer letter ke
alamat kita. Dengan offer letter itulah nanti kamu
mengurus registrasi dan lain sebagainya." Jelas Sugeng
pada Zul setelah berhasil memasukkan berkas ke IPS.

"Berapa lama kita menunggu offer letter Mas?"

"Mungkin dua bulan lagi sudah kita terima. Sekarang
yang paling penting kamu mempersiapkan biaya untuk
registrasi jika diterima nanti. Jika ditotal paling tidak nanti
kamu harus keluar uang tiga ribu ringgit lebih."

"Besar sekali ya Mas."

"Ini untuk pertama kali saja. Setelah itu tiap semester
biaya SPP-nya terus turun. Kalau ditotal biaya kuliah di
sini dengan di Indonesia kurang lebih sama. Namun jika
kita bandingkan fasilitasnya, rasanya di sini lebih murah.

Hanya saja biaya hidupnya di sini cukup tinggi. Tetapi
dengan menyempatkan diri sambil bekerja, semua biaya
bisa ditutupi. Sekali lagi yang agak berat itu memang
biaya masuk awalnya."

"Saya harus menyiapkan tiga ribu ringgit lebih ya
Mas."

"Iya."

Zul mengerutkan keningnya. Dalam waktu sekitar
tiga bulan ia harus mencari uang sebanyak itu. Ia agak
gamang, apakah ia bisa.

"Jangan kuatir, yang penting Zul berusaha dulu. Jika
nanti masih kurang, saya akan bantu mencarikan
pinjaman dulu. Yang penting, Zul bisa mulai kuliah untuk
sesi Juli yang akan datang."

"Iya Mas, terima kasih atas segalanya. Saya akan
berusaha keras. Tadi pagi setelah shalat Subuh Mas Rizal
mengajak saya untuk kerja lembur di restoran sebuah
hotel nanti malam."

"Kalau begitu ayo kita pulang sekarang Zul. Kau
perlu istirahat untuk persiapan nanti malam. Sementara
nanti pukul dua saya ada jadwal mengajar budak-budak8
Malaysia di Damansara."

"Ayo Mas, berarti kita shalat Zuhur di surau di bawah
flat kita."

"Iya."

* * *

Sore itu menjelang Maghrib, Zul telah siap-siap untuk
mulai kerja pertama kalinya di negeri Jiran. Ia begitu
bersemangat. Sebab ia punya tujuan yang jelas untuk
apa bekerja. Rizal senang melihat Zul bersemangat. Ia
senang, sebab malam itu ada yang menemaninya.
Selama ini ia biasanya sendirian saja.

"Kita harus sampai di Hotel Grand Season sebelum
pukul setengah delapan. Pesta ulang tahun selebriti
Malaysia ini akan berlangsung dari pukul delapan sampai
pukul sebelas malam. Kita mungkin akan pulang sekitar
pukul satu malam. Sebab selain kita bertugas menjadi
pelayan yang menghidangkan makanan. Kita juga
bertugas membersihkan peralatan setelah acara itu.
Bagaimana kau siap Zul?"

"Siap Mas."

"Ayo kita berangkat."


Mereka berdua lalu turun dari flat. Lalu dengan
sepeda Honda tua tahun tujuh puluhan mereka meluncur
menyisiri jalan raya Kuala Lumpur.

"Kenapa tadi tidak memakai motornya Pak Muslim
saja Mas? Lebih cepat." Kata Zul saat melihat Rizal
berkali-kali melihat jam tangannya sambil mengendari
sepeda motor tuanya.

"Memakai milik sendiri meskipun tua seperti ini
rasanya lebih nyaman. Insya Allah tidak terlambat kok."
Jawab Rizal.

"Semoga Mas."

Mereka berdua akhirnya sampai di

Mahkota Cinta oleh Habiburrahman El Shirazy (Bag.IV)

Selesai makan Zul memutuskan untuk jalan-jalan ke
pusat kota. la merasa imannya tidak kuat jika di rumah
itu terus, dan berduaan dengan Linda. la menyadari
dirinya hanyalah pemuda biasa yang masih lemah
imannya. Yang masih sering kalah melawan hawa
nafsunya sendiri. Tingkat ketakwaannya belumlah
sampai pada tingkatan Nabi Yusuf yang mampu
menepis godaan Zulaikha. la merasa setan yang ada
dalam dirinya lebih kuat dari dirinya. Maka ia harus
mengambil tindakan penyelamatan dan waspada. Ia
tidak ingin membuat dirinya celaka. Ia baru sampai di negeri
orang. Mau tinggal di mana saja belum jelas.
Pekerjaan juga belum jelas. Melangkahkan kaki mau ke
mana saja belum jelas. Maka ia tidak mau terjebak dalam
situasi yang mengakibatkan penyesalan. Ia teringat pesan
Mar saat menyebut nama Linda pertama kalinya,

"Linda ini belum bersuami dan cantik. Kau hati-hati
jangan sampai ada apa-apa dengan dia ya. Jangan
membuat masalah di negeri orang. Awas ya, kau harus
jaga iman kalau berhadapan dengannya!"

Tak ada jalan lain baginya kecuali pergi dan menjauh
dari sumber petaka. Api jika tidak bisa dilawan dan
dipadamkan maka jalan selamat adalah lari menjauh dari
api itu. Jika tidak maka api itu akan membakar dan
menghancurkan.

"Maaf Mbak Linda, rasanya saya harus keluar jalanjalan.
Saya ingin melihat-lihat suasana. Bosan di rumah
terus. Nanti malam habis Maghrib mungkin saya datang
lagi. Tas danbarang-barang saya masih di kamar," kata
Zul pada Linda.

"O ya. Hati-hati di jalan. Sudah bawa paspornya?"
sahut Linda
"Sudah. Kalau mau ke pusat kota Kuala Lumpur
naik apa ya?"

"Tadi malam datang pakai apa?"

"Bus "

"Rapid KL ya?"

"Iya."

"Kalau begitu naik saja dari tempat kau tadi malam
turun dan naik bus yang sama."

"Baik. Terima kasih. Salam buat Mbak Mar, Mbak
Iin, dan Mbak Sumiyati."

"Baik. Kalau ada apa-apa bisa telpon kami ya. Sudah
tahu nomor hp saya?"

"Belum."

"Kalau nomor Mbak Mar sudah tahu?"

"Sudah."

"Ya sudah. Itu cukup."

"Sekali lagi terima kasih. Saya pergi dulu."

"Ya, sekali lagi hati-hati di jalan. Jangan sampai tidur
di bus ya," canda Linda.

Zul menjawab dengan senyum lalu beranjak
meninggalkan Linda sendirian. Ia pergi hanya membawa
tas cangklong hitam berisi map dokumen-dokumennya,
sepotong sarung, dan kaos panjang. Itu saja. Ia merasa
mantap. Jika ia bisa menaklukkan Jakarta dan Batam,
maka ia sangat yakin ia pun bisa menaklukkan Kuala
Lumpur. Sepintas ketika ia tiba di Purduraya, ia melihat
suasana terminal bus paling padat di Kuala Lumpur itu
tidak seganas Pulogadung dan Kampung Rambutan
Jakarta. Ia pernah berkelahi dengan preman Pulogadung
dan tetap bisa hidup. Ia juga pernah ditodong preman
Kampung Rambutan dan bisa lolos. Jika ia terpaksa harus
bertemu dengan preman Kuala Lumpur ia merasa tak
perlu gentar. Orang Demak tidak boleh gentar berhadapan
dengan situasi apapun juga.

Dari Subang Jaya ia naik bus Rapid KL ke terminal
KL Sentral. Di KL Sentral ia sempat bingung mau ke
mana. Ia berinisiatif untuk mencoba menghubungi lagi nama
yang diberi oleh Pak Hasan sekali lagi. Setelah
bertanya kepada seorang lelaki India ia menemukan
telpon umum. Dari telpon umum ia menghubungi dan
masuk. Ia sangat berbahagia seperti mendapatkan rejeki
nomplok yang tiada terkira jumlahnya.
"Ini Pak Rusli ya?" tanyanya.

"Iya benar. Ini siape?"

"Saya Zul Pak. Saya mendapat nama dan nomor
Bapak dari Pak Hasan Batam."

"O ya ya. Pak Hasan sehat ya?"

"Alhamdulillah Pak. Bagaimana caranya saya bisa
bertemu Bapak? Saya baru datang tadi malam dan tidak
banyak tahu tentang Kuala Lumpur. Terus terang saya
perlu sedikit bantuan Bapak."

"Sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu
Saudara. Adik sekarang di mana?"

"Di KL Sentral Pak."

"Begini saja Dik. Dari KL Sentra adik naik KTM ke
Stesyen Mad Valley. Saya jemput di sana. Baru nanti kira
bicarakan segalanya dengan lebih leluasa."

"Apa tadi Pak, KTM ya?"

"Ya KTM, atau

Jurusan kuliahmu belum tentu pilihanmu

Jurusan kuliahmu belum tentu pilihanmu
By : Setia Furqon Kholid

Jurusan kuliahmu belum tentu pilihanmu
Pekerjaan yang kau dapatkan sekarang belum tentu sesuai dengan passionmu.
Kebanyakan orang beranggapan pekerjaan itu sama dengan karir. Padahal ada banyak orang yang bekerja puluhan tahun tapi bukan membangun karirnya. Yang ia lakukan hanyalah bekerja, melakukan rutinitas yang sama tanpa sebuah hasrat, lalu dibayar standar sesuai dengan peraturan perusahaan atau instansinya.
Sebaliknya, orang yang membangun karir paham apa mimpi besarnya, tahu langkah apa yang mesti ia lakukan, lalu ia mulai melakukan langkah pertama sampai mencapai tujuannya.

Uang bukan tujuan utamanya, kebermanfaatan itu prinsipnya. Ia tak dikendalikan keadaan, justru ia yang mengendalikan keadaan. Ia melakukan sesuatu dengan tujuan, bukan ikut kebanyakan orang. Ia pelopor, bukan pengekor.
Maka, dengan spesialisasi dan keunikan dirinya, bukan orang atau lembaga yang menentukan berapa ia mesti dibayar, namun di satu titik justri ialah yang tahu berapa harga kompetensi dan hasil karyanya.
Be specialist, not generalist.
Be idealist, not opportunist.
Be different, not average.

Pergilah, dan kembali kelak

Tunggu,
Jangan biarkan dirimu menunggu
Pergilah, aku akan menyusul
Semua akan indah pada waktunya bukan?
Selalu ada pelangi setelah hujan, percayalah

Satu kata yang ingin aku tinggalkan
“Maaf”
Kurasa lebih dari itu
Tapi satu kata sudah cukup mewakili semuanya kan?
Maaf untuk “segalanya”
Kata segalanya pun sudah mewakili seluruhnya kan?
aku harap kau mengerti
Intinya, maaf.

 Waktu memaksaku
bukankah dengan atau tanpa aku pun kau masih bisa bernapas?
Bernapaslah selagi gratis
dan iringilah dengan mimpi-mimpi
aku akan kembali

Aku tau
Bukan hal mudah
Pergi, sedangkan cerita menanti diingat
Memori menunggu diputar
Tapi waktu sudah tidak bisa melakukan keduanya
Bahkan ia lebih senang kau menghapusnya

Bukankah lebih baik kembali?
kembali menemukan dirimu, tanpa aku
keadaan sedang dingin sekarang
Pergilah, tenangkan dirimu
dan kembali ketika sudah merasa lebih baik


Disini, dimana tempat ini diberinama FANTASI


Disini
Dimana aku bisa melihatmu
Melalui inderaku

Disini
Dimana intuisi berbicara
Dan logika terbata-bata

Disini
Dimana warna begitu berkilau dengan manisnya
Menebar segala rasa tanpa prasangka

Disini
Dimana nada berirama
lagu bernyanyi
dan syair bersembunyi
 
Disini
Dimana kerinduan terhempas begitu lepas
Dimana hati tak dapat berbohong

Disini
Dimana waktu mengijinkan kita berjalan tanpa berlari
Dimana hari begitu panjang menuai cerita


Disini
Dimana semua unsur berbaik hati
Dimana kita dipersatukan tanpa satu sisi
Dimana semangat meletup dalam ambisi
Dimana harapan hidup mengisi hati
Dimana tempat ini, diberi nama FANTASI

Long Time Ago VS Just Now

Long Time Ago......
Ketika harus kembali memutuskan untuk pergi dari titik semula, aku tak berpikir akan berpindah ke tempat yang baru, hanya keluar dan berjalan, sama seperti apa yang kau lakukan. Tapi bukan tak mungkin bagiku untuk memilih satu diantara sejumlah persimpangan yang kutemui kelak, aku tak seperti kau, mungkin aku sedikit lebih lemah jika dibandingkan denganmu. 

Tapi haruskah kulakukan itu? bukankah bertahan itu manis? menunggu itu belajar sabar? Selama ini aku ada pada keduanya. Meskipun kamu seperti tak tentu kemunculannya. Datang sekejap, lalu pergi begitu lama. Tak jarang suasana hatiku dibuat aneh, bahkan terkadang aku sendiri tak mengerti harus berbuat apa. 




Just Now..........
Tapi aku mengerti, semua hal yang ada pada dua jiwa begitu berbeda, jangankan dua, terkadang, bersama diri sendiri saja kita harus berperang. Dan memutuskan hal semacam diatasterkadang membuat aku lebih sering berperang melawan realita. ya, aku intuisi. Strong Intuitions. Tapi tak selamanya pula aku menjadi sebuah intuisi, terkadang aku harus berjalan keluar, menghapus pernyataan yang kukatakan bahwa "bertahan itu manis" dan "menunggu itu belajar sabar". Apalagi pada dua jiwa yang sama sekali tak bisa dikaitkan. Hanya intuisi yang mengaitkanmu denganku. Itu Bohong.

Sesungguhnya, kita tidak ditakdirkan untuk menghabiskan waktu dengan cara menuruti intuisi, menunggu, atau melakukan hal kosong yang tak bermanfaat. Bertahan memang manis. Terlalu manis sampai kau terlena dan menderita. Menunggu juga belajar sabar, tapi waktu hanyalah waktu, ia harus pergi sekarang juga. Life must go on. Hidup menarik waktu, dan waktu terseret, sementara kita harus berlari mengejarnya. Maka realita menunggu kita berlari mengejar waktu, jika tidak, kita akan selalu diam pada titik yang sama setiap harinya, bejibaku bersama fantasi si musuh realita.


Terima Kasih Allah



Mungkin sebenarnya inilah yang selama ini aku inginkan. Sungguh Allah maha baik, telah memberikanku kesempatan yang menurutku begitu luar biasa. 

Aku sudah memimpikan hal ini sejak lama, mimpi yang selama ini hanya bersembunyi dibilik hatiku yang terdalam, terjauh, ter-sudut sekali, terkalahkan oleh mimpi-mimpi besar lainnya yang ternyata hanya egoisme semata. Dan kini, mimpi kecil itu menjadi kenyataan dan sungguh memberi warna baru dalam hari-hariku. 

Allah mungkin telah memberi tanda jauh hari sebelum mimpi ini terjadi. Aku kerap kali melakukan hal –hal yang dulu aku sering lakukan semasa kecil, dan kini sudah jarang aku lakukan. Alhamdulillah, kebiasaan itu menjadi awal yang baik, dan rutinitas yang tentunya cukup baik pula. Aku juga jadi sering berpikir untuk melakukan hal-hal yang biasanya jarang aku lakukan. hal-hal yang lebih baik dari biasanya yang kubilang baik. Serta berpikir untuk berubah, meninggalkan kebiasaan lama yang melekat didiriku selama belasan tahun. ternyata, ini jawabannya. Seiring berjalannya waktu, tentu saja Allah akan menunjukkan yang terbaik untuk kita. Selalu ada pelangi setelah hujan. Benar-benar, Allah maha baik lagi Maha Adil. 

Terima Kasih Allah, mimpi ini membuatku belajar banyak hal. Belajar lebih sabar, belajar berani berbicara hal baik, belajar memberikan kasih sayang yang tulus, belajar lebih dalam tentang ilmu yang Kau turunkan, belajar mengamalkan ilmu,  belajar memaknai hidup, belajar menghargai waktu dan ilmu, juga... belajar melakukan sesuatu semata-mata hanya karena mengharap Ridho-Mu. Semoga yang sudah diamalkan bisa menjadi amalan baik bagi jiwa-jiwa yang telah menerimanya. aamiin.

Ya Allah, Kumohon jagalah aku , imanku, ilmuku, rezekiku, keluargaku, lingkunganku dan takdir yang belum sempat kuketahui kejelasannya.
Semoga yang baik menjadi lebih baik, yang samar segera menebal, yang jauh lekas dekat, yang sakit segera sembuh, yang sempurna menjadi bersyukur, Aamiin.