Senin, 21 Juli 2014

Biodata Sulton Max a.k.a Jendral Kancil


Hai.

Kali ini aku mau posting biodata artis cilik favoriteku semasa kecil . Masih inget kan sinetron Ratu Malu dan Jendral Kancil????
Masih imut-imut ya para pemainnya..  :3
Tapi aku gak akan post biodata semua pemainnya, cuma satu aja, hehe. And the star is............................................................................................................................

“Sulton Max” a.k.a Sultan Mohamad




Oke langsung saja ini dia profilnya..

Nama                       : Sulton Mohamad / Sulton Max
Nama Panggilan        : Sulton / Imam

 (Kenapa imam? Imam itu nama panggilannya di Rumah, nama ini merupakan nama tambahan  dari kakeknya sendiri)
 Ini katanya :


Tempat Lahir               : Mekkah, Arab Saudi 
Tanggal Lahir               : 11 Oktober 1993
Zodiak                        : Libra
Umur                           : 21 Tahun (2014)
Agama                        : Islam

Makanan Favorite    : Nasi Goreng , Nasi Kebuli  / Nasi Lemak

 (Untuk nasi goreng, sebenernya nebak aja sih, hehe) 



 Naah kalo nasi kebuli dan nasi lemak, aku pernah baca di salah satu majalah yang kebetulan ada profil doinya, satu-satunya yang masih aku inget tentang kak sulton di profil itu ya makanan fav-nya ini hehe. (Mungkin karena dia  keturunan Arab jadi suka masakan khas timur tengah gitu.. :p)




Twitter                         : @sultonmax
Facebook                     : Sulton Max


Sinetron  :
  • Ratu Malu dan Jendral Kancil (2002)
  • Habibi dan Habibah (2006)
  • Rubiah (2007)

Film  :
  • Ariel dan Raja Langit (2005)                        
Iklan  :
  • Roma Superstar (Wafer)                        
Kak Sulton sekarang sedang kuliah di Universitas Bina Nusantara Jakarta Jurusan Sistem Komputer. Waktu aku tanya belajar apa aja, dia belajar tentang “engginering, Robotic, Research2 gitu, etc. Banyak deh”, katanya.
Meskipun saat ini namanya sudah jarang terdengar, dan wajahnya tak pernah lagi menghiasi layar kaca, tapi kak sulton ini masih digandrungi banyak fans yang sering menyapanya lewat akun jejaring sosialnya.


Bang Jendral kancil sepertinya orangnya baik dan ramah, walaupun aku gak kenal deket dengan doi, tapi aku rasa dia orangnya cukup ramah. Terlihat dari cara dia membalas post atau comment dari para fans lama yang masih sering muncul di akun fesbuknya. Termasuk aku, hehe.


Oke sekian dulu postinganku kali ini, see ya!


Minggu, 20 Juli 2014

Puisi DOA (Chairil Anwar)


Kepada Pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerlip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tak bisa berpaling

Jumat, 04 Juli 2014

Just Let Go



Jika aku bisa mempertahankan kalimat-kalimat itu dan rasa yang ada didalamnya. Mungkin waktu akan bersedia melanjutkan cerita kami. Meski harus mengulur. Walaupun harus menunggu untuk rentang waktu yang lama setiap satu kali menuai cerita. Namun, bertahan juga tidaklah mudah. tak pernah bertemu, berucap bahkan bercerita banyak. Kita bertemu dalam keheningan yang sarat. Dalam kata-kata yang biasa-biasa saja, bukan kenyataan yang menyenangkan.
Duniamu yang sebenarnya adalah sumber cerita baru bagimu. Sebuah alasan untuk mudah melupakan hari bersamaku. Dan ketika kamu rehat sejenak dari duniamu, kamu berusaha kembali dengan sedikit kalimat pelega hati. Lega, karena setidaknya kamu masih peduli dan tak benar-benar pergi.
Tapi saat itu pula aku sudah berubah. Saat dimana tak ada indera yang antusias saat kau ada. Dimana tak ada emoji yang lucu penggambar suasana hati. Aku telah kehilangan suasana yang sama. Suasana yang dulu sengaja aku ciptakan untuk membahagiakan diriku sendiri karenamu. Semuanya terasa biasa, bahkan hambar. Aku sudah mencoba mengabaikannya selama ini. Dan seiring hari tanpa ceritamu, aku bisa.
Dan (lagi) kau datang dengan sejuta misteri yang sudah terlanjur malas kucari tahu maknanya. Kini ceritamu adalah hari dimana aku kembali saat beristirahat. Sama seperti yang kau lakukan padaku dahulu.

Rabu, 02 Juli 2014

Kutipan Novel Maryamah Karpov (Andrea Hirata)

Horizon, horizon setelah itu, tak ada hal lain
Horizon di langit dan horizon sejauh jangkau pandang
Muara menyempit, delta mengerut
Hutan lindap, daratan kelabu
Lalu laut, laut seluas langit
Datar, tetap, tak terhingga, biru mendebarkan 
***

"Aku membisu
Kami memandangi laut dalam senyap
Bergabunglah surya dan awan-gemawan melukis megahnya angkasa
Bersekutulah angin empat musim mengarak halimun Selat Malak
tak satu pun
tak satu pun dapat menggambarkan indahnya perasaanku."

***
Dan tiba-tiba hari-hariku berubah menjadi puisi
Semilir di pagi hari
Meriang jika siang
Pecah, serupa ombak-ombak pasang kalau malam

***
 
Seperti puisi yang kutuliskan
Seperti nyanyi yang kaulantunkan
Seperti senyum yang kausunggingkan
Seperti pandang yang kaukerlingkan
Seperti cinta yang kauberikan
Aku tak pernah, tek pernah merasa cukup
***
Dengan pisau lipat
Kuukir pelan-pelan
Kalimat yang dalam
Dari perasaanku yang larat
Karena hormatku yang sarat
Untuk pesona persahabatan dan kecerdasan
Lintang, Lintang, hatimu yang benderang
Qui genus humanum ingenio superavit
Manusia genius tiada tara


***

Now We Are :)

NNF-SHH-SIM-PEG-MASP

<3

Minggu, 23 Februari 2014

Kamis, 30 Januari 2014

Aku mulai bisa melupakannya, kurasa.



Aku mulai bisa melupakannya, kurasa. Maksudku, meskipun aku pernah membuat banyak tulisan tentangnya, Walaupun dia pernah menjadi bagian dari hari-hariku, ehm, maksudku kotak masuk pesanku, itu tak membuat aku menyesal sejadi-jadinya. Aku berusaha mengerti, perasaan bisa berubah kapan saja, apalagi jika disebabkan oleh sesuatu yang menyakitkan, akan lebih cepat untuk bisa terhindar dari penyesalan atau semacamnya.
Sudahlah, yang lalu biar saja pergi, tak ada peristiwa atau cerita yang tak ada hikmahnya. Termasuk perjalanan ceritaku yang satu ini. Lagipula masih banyak waktu yang harus kuhabiskan dengan melakukan hal-hal yang lebih penting dan menarik, bahkan menyenangkan, ketimbang diam pada satu titik yang sama setiap harinya demi menjalani cerita yang tak pasti. Semangat\!